
Tubuh Ferdinand seketika menjadi kaku, dengan perkataan yang Kiya ucapkan padanya. Seolah-olah hati kecilnya merasakan kebenaran seperti apa yang di ucapkan Kiya kepadanya.
" Bangun, hei! Bangun!" Ferdinand memanggil nama Kiya berulang kali, namun tidak ada jawaban yang diberikan oleh bibir mungil itu. Saat itu juga, tubuh Ferdinand bergetar. Tanggisannya pun pecah, ia berusaha untuk membangunkannya. Perkataan Kiya kepadanya, sungguh membuat hatinya seperti tertusuk senjata tajam.
" Kiya! Bangun, bangun Kiya!!! " Teriakan Ferdinand terdengar sangat keras, ia merasakan kepanikan dengan apa yang terjadi.
......................
Melalui pertarungan yang sangat hebat, Azzam menerobos masuk ke dalam rumah tersebut. Meninggalkan semua pasukannya untuk mencari keberadaan sang istri, betapa terkejutnya ia melihat kondisi di dalam rumah tersebut. Begitu banyak foro-foto istrinya terpajang disana, satu persatu ruangan dibuka. Namun hasilnya nihil, namun mata itu terperanjat saat melihat bercak darah yang berada di sepanjang ruangan ia berada.
Mengikuti bercak darah tersebut, hingga akhirnya. Mata elang itu mendapati apa yang ia cari. Seakan-akan saat itu jantungnya berhenti berdetak, melihat wanita yang ia cari-cari tergeletak begitu saja.
" Sa yang!" Kaki Azzam terasa sangat lemas, dengan gontainya ia berjalan mendekati tubuh mungil yang sudah ia cari-cari.
Melihat Ferdinand yang saat itu berada di sisi istrinya, dengan penuh kemurkaan. Azzam langsung saja menyerangnya dengan sangat brutal, tidak ada perlawanan dari Ferdinand. Ia hanya berdiam diri, seakan-akan jiwanya sudah lenyap, bahkan untuk berdiri saja ia sudah tidak bisa. Ingin rasanya Azzam menghabisi nyawanya saat itu juga, namun Azzam segera beralih kepada istrinya.
__ADS_1
" Bangun, bangun sayang! Buka matamu, Kiya! Buka!!!" Azzam berteriak dengan mata yang sudah di basahi oleh air mata.
Teriakan Azzam yang sangat keras, membuat Kenan dan yang lainnya segera berlarian menuju sumber suara. Sama seperti yang Azzam rasakan, melihat apa yang terjadi.
" Kenan!!! Siapkan penerbangan!!!" ucap Azzam, yang membawa Kiya dalam pelukannya.
Tanpa menjawab, Kenan segera berlari untuk menyiapkan apa yang bosnya katakan, sebuah helicopter berwarna hitam. sudah berada di halan depan rumah tersebut, terlihat Azzam yang berlarian mengendong tubuh istrinya yang keadaannya sudah sangat kritis menaiki helicopter tersebut. Dengan kecepatan maksimal, penerbangan itu mengudara.
" Maaf, maafkan mas!! Maaf!!!" Tanggisan Azzam sudah tak dapat terbendung.
......................
__ADS_1
Setelah kepergian bosnya yang membawa nona mereka, Kenan dan yang lainnya meneruskan sisa-sisa dari pertarungan mereka.
" Dasar manusia psikopat! Kenapa kau menyiksa nona kami, hah!! Sialan kau!!" Dzac terus melakukan serangan pada tubuh Ferdinand yang sudah sangat menyedihkan.
" Dzac, berhentilah!!" Kenan sengaja berteriak, agar patnernya itu berhenti menyiksa lawannya.
" Apa kau bilang, berhenti?!! Aku tidak akan mengampuni manusia biadab ini, kau sudah menyebabkan nona Kiya menderita. Ba***sat kau!!!" Dzac terlihat sangat murka terhadap Ferdinand, jika tidak di tarik oleh Rayyan. Maka, tidak ada hentinya ia menyiksanya.
" Biarkan tuan yang pantas memberikan hukuman pada manusia ini, kita segera menyusul tuan kerumah sakit. Rayyan, kau amankan si pisang ini. Jika perlu, kau ikat di di batang pisang. Biar berhenti bertindak ceroboh!" Kenan meninggalkan mereka yang masih berada di dalam ruang penyiksaan.
" Sudahlah Dzac, benar apa kata Kenan. Bos dan tentunya nona yang lebih berhak memberikan hukuman kepada orang ini. Ayolah, biarkan yang lainnya yang menyelesaikan semuanya. Kita harus melihat keadaan nona!" Rayyan menarik kerah baju Dzac dengan tanpa izinnya, jika masih berbicara dan berdebat dengannya, maka akan sia-sia saja.
" Kau!! Kali ini selamat, tapi aku pastikan. Jika terjadi sesuatu terhadap nona kami. Aku pastikan, kau akan habis denganku. Ingat itu!! Hei, lepaskan woi. Aku bukan anak kecil, main seret saja kau ini." Dzac berbicara dengan keadaan tubuh yang diseret oleh Rayyan.
Ferdinand masih dalam diamnya, menanggis terisak dalam keadaan sudah terikat dan kondisi yang sangat mengenaskan.
__ADS_1
Kiya, maafkan aku! Kau benar, maafkan aku. Maaf! Ferdinand.
......................