
Dua bulan kemudian...
Kenan kini sedang asik memandangi aktivitas orang-orang yang sedang berlalu lalang untuk kegiatan sehari-hari, menikmati secangkir kopi hitam disalah satu warung kopi di dekat perusahaan sembari menunggu intruksi selanjutnya dari bosnya. Tiba-tiba, mata Kenan menangkap sesuatu yang membuatnya penasaran.
'Q' huruf itu! Kenan.
Kenan mengikuti langkah orang tersebut, dan mereka berhenti disalah satu ujung jalan dan memasuki salah satu bangunan usang. Dengan sangat berhati-hati, Kenan mengikuti mereka. Mengintip dari balik celah kecil, yang berada pada bilik pembatas ruangan.
" Hallo tuan, kami sudah mengintai wanita itu. Saat ini, dia berada di perusahaan suaminya... Baik tuan!" Ujar salah satu pria disana yang sedang menelfon seseorang dan mengakhiri pembicaraannya.
" Tetap awasi terus keberadaannya, jika mereka lengah. Kita jalankan misi. Tuan sudah menyatakan untuk segera bertindak." Boy, sebagai ketua dari kelompok yang akan menjalankan misi.
" Aku bingung Boy, kenapa bos sungguh terobsesi dengan wanita itu? Padahalkan dia sudah bersuami, tapi memang cantik si orangnya." Jefri mengeluarkan ungkapan penasarannya.
" Itu urusan bos, kita hanya menjalankan perintahnya. Sebentar (Boy menerima panggilan dari seseorang). Jef, bersiaplah. Wanita itu sedang berada di daerah yang tidak terjaga. Cepat!!" Boy segera meninggalkan tempat tersebut dan menuju target mereka.
" Tuan Ferdinand akan sangat senang mendengarnya." Jefri tidak sengaja menyebutkan nama bis mereka.
Ppllaakk!!!
" Kau!! Jangan menyebut namanya!!" Boy menyeringai marah kepada Jefri, lalu mereka segera pergi.
__ADS_1
Dibalik persembunyiannya, Kenan sungguh merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar sebelumnya
" Ferdinand!!! Nona... " Kenan segera menghubungi Azzam dan yang lainnya untuk menyampaikan hal ini.
......................
" Mas, boleh izin makan bakso?" Entah mengapa, akhir-akhir ini Kiya lebih menyukai makanan yang berkuah dan sedikit pedas.
" Biar nanti Ghina yang memesankan." Tutur Azzam dengan pandangan yang masih fokus pada kerjaannya.
" Kayaknya kurang enak mas kalau nggak makan ditempatnya, boleh ya. Makannya juga ditemani sama mbak Ghina, Nabila dan Eci. Kali ini saja, ya ya." Kiya memaksa Azzam untuk memberikannya izin.
" Ehm, baiklah mas." Jawab Kiya yang sedikit merasa kecewa, namun ia berusaha untuk tidak membuat suaminya marah.
Waktu pun berlalu, tak terasa sudah dua jam ia menemani suaminya bekerja. Dan selama itu pula, Kiya hanya duduk dengan manis dihadapan Azzam. Saatnya masuk waktu istirahat, dengan alih-alih sholat. Kiya mau beranjak ke musholla, sebenarnya Azzam melarangnya untuk keluar dari ruangannya. Namun Kiya selalu berhasil dengan alasan tersebut, setelah selesai. Kiya membereskan peralatannya dan bersiap untuk kembali lagi keruangan Azzam.
Ddrrrttt...
" Iya mas, ini sudah mau balik." Ternyata Azzam yang menelfon dan Kiya langsung saja menjawabnya saja.
" Segera ya, mas kangen."
__ADS_1
" Iya mas."
Kiya pun menyegerakan dirinya untuk segera balik lagi keruangan suaminya, jika tidak mau raja hutan itu mengamuk. Ketika kakinya baru beberapa langkah keluar dari musholla, Kiya merasakan ada orang yang mengikutinya. Ia pun membalikkan tubuhnya untuk melihat, tidak ada siapa pun. Hanya beberapa pegawai saja yang keluar masuk di lorong itu, hal ini membuat Kiya merinding.
......................
Disaat bersamaan, ponsel Azzam bergetar dan menampakkan siapa yang menghubunginya.
" Bos!! Nona dalam bahaya!!" Kenan yang belum menyelesaikan pembicaraan, sambungan itu telah terputus.
" Tidak! Sayang, sayang. Akh! kenapa aku membiarkannya sendiri!!!." Dengan menggeretakkan rahangnya, Azzam mengerahkan semua pihak keamanan perusahaan dan beberapa anak buahnya untuk segera mencari keberadaan istrinya.
Melacak posisi keberadaan Kiya pun berlangsung dramatis, Azzam mengacak-acak rambutnya dengan sangat kasar. Orang-orang yang berada didekatnya, menjadi sasarannya untuk dijadikan pelampiasan kekesalannya.
Bugh!
Bugh!
" Kalian memang tidak becus!!! Cepat cari keberadaannya, jika tidak nyawa kalian sebagai taruhannya!!!" Teriakan Azzam membuat kondisi perusahaan semakin mencekam, dengan beberapa orang yang sudah menjadi pelampiasannya.
Sudah memakan waktu satu jam, namun mereka belum menemukan keberadaan sang istri dari bosnya. Semua sudut ruangan di perusahaan telah diperiksa, namun hasilnya nihil. Ponsel Kiya pun tidak bisa mereka akses.
__ADS_1