BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 51


__ADS_3

" Jangan coba-coba kau mendekatinya!!" Teriakan itu berasal dari seorang pria yang baru saja tiba. Dan itu adalah Azzam.


Dengan wajah yang begitu dingin dan angkuh, serta tatapan yang sangat tajam, ia segera melindungi Kiya dari balik tubuhnya. Kenan pun langsung bergidik merinding, melihat bosnya sudah dalam mode kebucinannya.


" Zam, aku bisa menjelaskannya." Andrian membuka pembicaraan diantara mereka.


" Atas dasar apa, kau ingin menjelaskannya kepadaku?!!" Azzam begitu emosi, melihat dua manusia yang sedang berada dihadapannya. Rasanya, dia ingin segera menyerang keduanya.


Sedangkan Marsya, tubuhnya sudah sangat bergetar ketakutan. Melihat aura Azzam yang sudah sangat mematikan, hal itulah yang sangat ia takuti.


Brak!!


Pintu butik terbuka dengan paksa, menimbulkan suara yang sangat keras dan mengagetkan. Seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang dengan sangat lembutnya berjalan mendekati Azzam, dia adalah Arcello zeverik. Pemilik butik dan asistennya bernama Kimi, mereka baru tiba karena kemacetan yang melanda.


" Hai hai hai!! Ada apa di sindang, kenapa lu lu pade kayak mau adu jotos. Aduh aduh, kalau mau adu jotos. Jangan disindang yang nek, butik eke bukan tempatnya buat begituan. Eh! Big bos sudah disindang, cus yuk. Langsung ke ruangan eke aja, Kimi! Selesaikan keributannya, kalau mereka memberontak. Habisi saja langsung!!" Arcello berjalan melewati beberapa orang disana tanpa melirik siapa pun, untuk menuju ruangannya yang berada di lantai dua.


Azzam menatap wajah Kiya yang masih sedikit pucat, mungkin saja efek kaget dari serangan wanita bar bar itu. Dengan perlahan, Azzam mengarahkan Kiya untuk berjalan mengikuti langkah Arcello yang sudah terlebih dahulu.


" Daffa, Kenan. Kalian tau tugasnya bukan!!" Tanpa berbalik, Azzam menegaskan kata-katanya kepada kedua asisten.

__ADS_1


" Baik bos." Daffa dan Kenan menjawab bersamaan.


Setelah Azzam dan Kiya meninggalkan mereka, Andrian pun bersikap acuh kepada Marsya. Tanpa peduli, ia meninggalkannya sendiri tanpa melirik. Sudah habis masa kesabarannya, menghadapi lintah penghisap itu. Tinggallah dua asisten yang mengeluarkan aura mematikan, menatap Marsya dengan tajam.


" Ho honey, tungguh!!" Marsya ingin melangkahkan kakinya mengikuti Andrian, namun Daffa dan Kenan sudah menghadangnya terlebih dahulu.


" Urusan kita belum selesai, nona!! " Kenan mengerang, menggeretakkan giginya. Ia sudah sangat ingin menghabisi wanita gila dihadapannya itu, sedangkan Daffa. Dia hanya berdiri tegap, seperti menunggu sesuatu.


Ddrrrtt...


Ddrrtt..


" Baiklah, nona Marsya. Silahkan anda meninggalkan tempat ini, jika anda masih ingin bernafas. Jangan mengulangi hal serupa, kalau anda sangat menyayangi nyawa anda sendiri. Silahkan!" Daffa sudah mengetahui, jika perintah itu akan ia dapatkan. Karena Kiya, memang tidak ingin Azzam melakukan hal-hal yang extream menurutnya.


Dengan mengendap-endap, Marsya berlari meninggalkan butik tersebut. Dimana Andrian sudah tidak tau keberadaannya, para pegawai disana merasa lega dengan selesainya kekacauan yang ada. Daffa memilih untuk duduk, menunggu bosnya dan nona mereka. Kenan yang masih memiliki berbagai pertanyaan pun, ikut duduk disamping Daffa.


" Kenapa dilepas Fa? " Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Kenan menghembuskan nafasnya setelah menaham emosi yang hampir saja meledak.


" Perintah nona." Jawab Daffa dengan santai.

__ADS_1



" Apa??!! Ya ampun, ternyata sudah separah itu bos dengan kebucinannya. Ah! Nona, kau begitu berkuasa. " Kenan begitu tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Daffa.


" Heh, bersiaplah untuk menerimanya. Kau ini, cerewet sekali. " Daffa menghembuskan nafasnya dengan kasar, akibat dari celoteh mulut Kenan yang sangat terkejut.


" Benar-benar gila, aaarrgghh!!! Nona Kiya, kau begitu istimewa. Aku padamu, nona." Kenan setegang berteriak.


Pllaakk!!!


Tangan Daffa memukul mulut Kenan dengan keras, matanya melotot kepadanya.


" Bisa kau kecilkan suaramu itu, tidak lihat apa. Tuh! Pegawai disini melihat ke arah kita, dan jangan sampai bos mendengar ucapanmu itu."


Eemmm, eemmm.


Kenan menjawan dengan mulut yang menutup, sungguh amazing buatnya.


__ADS_1


Nona! Sungguh kau bidadari yang dikirimkan untuk menakhlukkan singa lapar itu, akhirnya. Tapi, nggak seru lah kalau lembek begini terus. Kan otot-ototku perlu latihan, aahh nona. Aku padamulah, mampus-mampus dah sama bos. Kenan.


__ADS_2