BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 42


__ADS_3

Sepulangnya dari perusahaan Azzam, Andrian mencoba mencari tau penyebabnya. Mengerahkan beberapa detectiv dan orang-orang terpercaya yang bisa membantunya, luka fisik yang diberikan oleh Azzam tidaklah sebanding dengan kebenciannya terhadap Andrian.


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara langkah yang berasal dari gesekkan alas kaki terhadap lantai, Andrian sudah mengetahui siapa pemilik dari langkah tersebut.


" Honey!!" Marsya menghampiri Andrian yang sedang berada diruang kerja mansionnya.


" Ah, kau mengagetkanku saja sayang. Tumben nggak ngabarin mau kesini, ada apa?" Andrian mulai merasa ada yang tidak beres dengan Marsya akhir-akhir ini, namun hal itu tidak ia tampakkan.


Dengan bergelayut manja, Marsya ingin menarik perhatian Andrian dengan menggunakan wajah dan tubuhnya. Sebenarnya Andrian tidak menyukai hal tersebut, namun ia masih bisa menekan nafsunya.


" Honey! Sudah lama kita nggak shopping, temenin yuk!." Marsya masih bergelayut manja.


" Heh, biasanya juga pergi sendiri sayang. Aku lagi banyak kerjaan yang mau diurus, pergi sendiri saja ya. Nih!" Andrian memberikan satu blackcard kepada Marsya, dan hal itu seketika membuat Marsya tersenyum gembira.


" Aaahh, terima kasih honey! Muah, muah!" Marsya memberika kecupan di kedua belah pipi Andrian, mengambil kartu tersebut dan langsung berjalan meninggalkan Andrian sendirian.


Marsya, Marsya. Aku tau, kau hanya menginginkan hartaku. Bukan cinta seperti yang aku inginkan kau berikan padaku, sungguh mirisnya kau Andrian. Aku tidak tau, sampai kapan bisa bertahan denganmu. Andrian.


......................

__ADS_1


Disaat jam kerja telah usai, Kiya dan para karyawan yang lainnya bersiap-siap untuk pulang. Azzam memandangi Kiya melalui CCTV yang terhubung pada ponsel pintarnya. Melihat Kiya yang masih sering mengusap-usap bahunya, Azzam tau hal itu sangat sakit.


Bagaimana aku bisa melepasmu, sayang. Kau begitu pintar, sudah membuat hidupku kacau dan pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu. Sepertinya aku harus mengatakan hal yang sebenarnya, bagaimana pun hasilnya nanti. Akh! mau atau tidak, akan kubuat kau tetap menjadi milikku. Azzam.


Azzam beranjak dari ruangannya, di ikuti oleh asisten yang setia menemaninya, Daffa. Disaat mereka berada didalam mobil, ponsel Azzam bergetar. Terlihat siapa yang menghubunginya, Kenan.


" Hem ." Jawab Azzam.


" Tuan, ketiga wanita itu sudah sekarat. Apa yang harus dilakukan?" Kenan menanyakan apa yang pantas diberikan kepada mereka.


" Selesaikan." Dengan tenangnya Azzam memerintahkan mereka untuk segera mengeksekusi ketiga wanita pembuat onar tersebut.


Tut


Tut


" Bagaimana Nan, apa kata bos?" Dzac bertanya.


" Seperti yang lu bilang, the end." Dengan bergaya menggunakan jari menarik garis lurus didepan leher.


" Asyik!!! Akhirnya aku terbebas dari mulut pedas para wanita tak berharga itu, kenapa juga tidak dari kemarin-kemarin saja dimusnahkan. Telinggaku ini tidak akan terasa sangat panas, dengan perkataan mereka. Jadi, begini ya." Dzac menirukan gaya Kenan.



" Heh, tumben lu pinter nyet? Biasanya lemot bin heng hong lu." Kenan tertawa meremehkan, yang ia tujukan kepada Dzac.

__ADS_1


" Bre***ek lu!! Lu kira gue sebodoh itu apa, berhentilah memanggilku dengan sebutan seperti itu. " Dzac mulai terpancing emosinya.


" Sabar, sabar nyet. Lu nggak kasihan apa, mangsa lu sudah menunggu dengan tidak sabar? Selesaikanlah, aku sudah mau tidur. Pusing kepala gue dengan suara mereka." Kenan mulai jengah dengan kekonyolan Dzac.


" Berhentilah untuk terus menyuruhku, Kenan! Lebih baik, kau saja yang mengeksekusi mereka. Tidak ada kerjaan, membuat mulutmu semakin lincah saja." Gerutu Dzac kepada Kenan, Dzac selalu saja menjadi pesuruh yang dibuat semena-mena oleh Kenan.


" Jadi! Kau mau apa, hah?!" Kenan kembali menyerang dengan tatapan yang panasnya kepada Dzac, mereka selalu saja berdebat. Walaupun itu hanya hal kecil, dan akan menjadi besar jika terjadi pada mereka.



" Aish! Enyahlah kau dari sini, bertengkar denganmu itu tidak berbobot sama sekali. syuh syuh." Dzac mengusir Kenan dengan mengayunkan kedua telapak tangannya.


" Diam!! Lebih baik, kau segera mengeksekusi mereka. Menggerutu tidak jelas." Kenan mencebik dengan bibirnya.


Dzac segera menyelesaikan tugasnya, sungguh malas jika harus mendapatkan omelan terus dari patner kerjanya yang tidak ada otaknya.


" Nona-nona yang nasibnya seperti remahan roti, bersiaplah. Setelah ini kalian akan berada didunia lain. Jangan biarkan akhirat menunggu kalian terlalu lama, maka akan aku bantu untuk mempercepatnya, oke." Dzac menggambil senjata dari atas meja kecil didekatnya.


Ketiga wanita itu memberontak dengan sangat kuat, mulut mereka tertutup oleh plester hitam yang sangat lengket.


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


" Bye bye!" Dzac melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.


......................


__ADS_2