BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 80


__ADS_3

Helicopter itu mendarat di atas atap gedung rumah sakit, disana sudah menunggu beberapa dokter dan tenaga medis lainnya. Dan tentunya, Gabriel juga berdiri disana. Tubuh mungil itu diletakkan di atas brankar dan segera mendapat pertolongan, beberapa alat medis sudah terpasang. Dan mereka segera membawanya menuju ruang tindakan, Fatimah sebagai dokter kandungannya sudah menunggunya di ruang tindakan.


" Kau berhutang penjelasan padaku, Zam!" Suara Gabriel membuyarkan pikiran Azzam, yang saat itu hancur dengan kondisi istrinya.


Dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar, melihat ruangan itu tertutup dengan sang istrinya berada disana. Berjuang diantara hidup dan mati bersama calon anak-anaknya, Azzam menyandarkan punggungnya pada dinging dan tubuh itu merosot jatuh ke lantai. Gabriel tidak bisa menuntut penjelasan dari Azzam saat ini, ia tau sang leader yang terkenal dengan kekejaman dan ke aroganannya sedang dalam keadaan yang begitu hancur.


Gabriel ikut duduk disamping Azzam, kepala itu menunduk dan berada diantara kedua lututnya yang di tekuk. Terdengar suara isakan dan guncangan dari tubuhnya, menandakan jika ia sedang menanggis.


" Adikku adalah wanita yang kuat, walaupun jauh dari dalam hatinya ia adalah wanita yang rapuh. Ia sudah menerimamu dengan segala konsekuensi yang ada, lindungi dan jaga dia Zam. Jangan menyalahi dirimu sendiri atas kejadian ini, kuatlah! " Gabriel mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya,. Lalu ia menepuk pundak Azzam, untuk menyakinkan bahwa dia tidak sendirian.


Klek!


Pintu ruang tindakan iti terbuka, Azzam dan Gabriel segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut. Tampak jelas di wajah mereka berdua, perasaan khawatir dan cemas.

__ADS_1


" Bagaimana dok? Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya?" Azzam langsung menyerang dokter tersebut dengan pertanyaan.


" Iya dok, bagaimana adik saya?" Gabriel pun tak mau kalah untuk ikut bertanya.


Dengan senyuman, dokter tersebut mengeleng-gelengkan kepalanya. Melihat sikap kedua pria yang ada dihadapannya saat ini, begitu tegang. Apalagi ditambah dengan banyaknya pasukan berpakaian serba hitam yang mengamankan lokasi itu, dapat di artikan jika pasien itu sangatlah istimewa.


" Yang mana suaminya? " Tanya dokter tersebut dengan menatap kedua pria itu.


" Saya dok, saya suaminya!" Dengan cepat dan tegas, Azzam menjawab pertanyaan dokter tersebut.


" Istri anda adalah wanita yang sangat kuat, ternyata suaminya juga terlihat sama. Kedua bayi kembar anda sangat aktif, hanya saja kondisi sang ibu sedikit menurun. Hal itu dikarenakan terjadinya plesenta previa yang istri anda alami, pendarahan yang cukup berat terjadi hingga membutuhkan transfusi darah. Benturan yang ada, tidak mempengaruhi yang lainnya. Sampai saat ini, semuanya aman dan dapat teratasi. Hanya saja..." Dokter tersebut berhenti berbicara.


" Hanya saja apa dok? Katakan!!" Azzam menjadi sangat panik, dan mencengkram jas putih yang dokter itu kenakan.

__ADS_1


" Zam!" Cengah Gabriel dan menarik tangan milik Azzam.


" Tidak apa-apa dokter Gabriel. Istri anda mengalami syok, yang di akibatkan dari pendarahan yang cukup berat ini. Dengan kata lain, istri anda mengalami koma." Dokter tersebut menghela nafasnya, betapa beratnya menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada seorang leader.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut, tubuh Azzam seketika ambruk. Tubuh itu semakin kuat bergetar, Gabriel berterima kasih atas penjelasan mengenai kondisi Kiya, lalu ia memberikan aba-aba kepada dokter tersebut untuk bisa melanjutkan pekerjaan yang lainnya.


" Ti dak, tidak mungkin!!!" Azzam berteriak dengan sangat kuat, bahkan ia mengamuk. Beberapa pengawal menjadi sasarannya, hingga mereka babak belur. Gabriel menyadari hal itu, dengan segera ia menghentikannya.


" Hentikan tindakan bodohmu itu, Zam. Hentikan!!!" Gabriel terpaksa menjatuhkan tubuh Azzam dan menguncinya. Hanya itu yang bisa menghentikannya.


" Hah, hah, tidak mungkin. Tidak mungkin Kiya koma, dokter itu berbohong. Istriku orang yang kuat, benarkan. Jadi kenapa ini terjadi, kenapa!" Suara Azzam semakin lirih, begitu terguncangnya ia harus menerima wanita yang sangat ia cintai, pemilik separuh jiwanya harus mengalami hal semacam ini.


" Tenanglah, Kiya hanya beristirahat sebentar Zam. Aku juga tidak ingin adikku seperti ini, cukup nenek yang pergi. Aakhh!!!" Gabriel terpaksa memberitahukan hal ini, ia awalnya tidak tega untuk memberitahukan kabar duka dengan kondisi yang ada.

__ADS_1


" A ap? Ne nek! " Azzam begitu kaget, kabar duka itu harus ia terima disaat sang istri juga terluka.


......................


__ADS_2