
Tok
Tok
Tok
" Masuk" Jawab Azzam setelah mendengar suara pintu diketuk dari luar.
Klek!
Pintu terbuka, dua orang perawat sedang mendorong kereta bayi kembar milik Kiya. Mereka semua sangat antusias untuk melihat baby, namun langaung mendapatkan intimidasi dari sang pemimpin.
" Baby!!!" Teriak ketiga wanita tersebut, mereka sangat senang melihatnya.
" Hei!! Cuci dulu tangan kalian semua." Kiya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan sikap sang suami.
Perlahan perawat meletakkan baby yang pertama ke dalam pelukan sang mommy, baby mengeliat dalam dekapan Kiya, air mata kebahagian itu kembali menetes.
Alhamdulillah Ya Rabb, Engkau telah mengabulkan do'aku. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk melahirkan dan merawat amanahMu. Kiya.
" Wah! Kamu tampan sekali baby, nanti kalau sudah besar. Jalan sama aunti ya, emm. Gemes bener deh." Eci mentoel pipi baby yang ada dalam pelukan Kiya.
Nabila dan Ghina hanya bisa tersenyum kecut, melihat bosnya memberikan tatapan maut untuk mereka. Awalnya Nabila ingin ikut mentoel pipi baby tersebut, namun hal itu ia urungkan. Ghina juga menjadi serba salah, lebih baih mencegah daripada sengsara nantinya. Mendengar kabar bahagia, jika Kiya sudah melahirkan. Membuat para sahabat begitu bahagia, mereka tidak tau jika sebelumnya Kiya mengalami kejadian yang begitu menyakitkan.
" Oek, oek, oek!!!" Baby twins menanggis dengan begitu kencangnya, membuat semua orang yang berada disana kaget.
__ADS_1
" Sepertinya mereka sedang lapar, Ki. Lebih baik kamu berikan mereka makan dulu, kita akan menunggu diluar. Takut pak bos marah lagi, kere nanti bisa kami Ki. " Maksud dari perkataan Nabila adalah, merekaberbisik kepada Kiya, dan Kiya pun hanya menjawabnya dengan senyuman.
" Maaf ya, kalian jadinya nggak betah."
" Ya ampum Ki, kalau betah itu namanya bukan rumah sakit, tapi rumah. Ya sudah,kasihan bayinya. " Ghina menarik ketiga krucil yang ia bawa.
" Hei, lebih baik kita keluar dan pulang saja. Lihat, sepertinya bos tidak ingin di ganggu. Nanti kita atur lagi waktunya untuk bertemu Kiya, ayo." Ghina berbisik kepada yang lainnya dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Azzam mendekati istrinya dengan mengendong baby yang kedua, setelah para tamunya itu keluar.
" Kenapa, sayang?" Azzam menangkap raut wajah Kiya yang seperti orang kebingungan.
" E itu mas, kamu jangan terlalu sensitif kepada mereka ya, mereka hanya ingin memberikan ucapan untuk kita. Dan, ini mas. Aku belum terlalu mengerti cara memberikan mereka ASI." Kiya memang belum sempat untuk belajar bagaimana memberikan ASI pertamanya untuk sang buah hati.
" Oh itu, biar mas saja yang ajarin." Dengan sangat yakin, Azzam mengarahkan Kiya dengan pengetahuan yang ia sempat dapatkan dari dokter kandungan sang istri.
" Sssss, aaa.." Kiya menggigit bibirnya.
" Sayang, ada apa?!" Wajah Azzam tampak panik, melihat istrinya meringgis.
" Ee nggak apa-apa kok mas, cuma kaget saja."
" Kenapa? Sakit ya? Karena ini baru pertama kalinya untuk kamu, nanti juga akan terbiasa. " Azzam tersenyum melihat hal tersebut, ternyata untuk menjadi Ayah ASI itu juga butuh perjuangan.
Setelah baby pertama selesai, makan baby kedua pun menyusul untuk mendapatkan asupan makanan. Kiya pun belum mengetahui, apakah air susunya sudah ada atau tidak. Hari-hari berikutnya pun, Kiya mendapatkan pengarahan dari sang dokter bagaimana caranya untuk memaksimalkan asupan ASInya untuk sang baby.
__ADS_1
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Kiya diperbolehkan untuk pulang. Untuk pekerjaan di perusahaan, Daffa kembali disibukkan dengan hal tersebut. Sedangkan untuk masalah di dunia bawah, Kenan dan Dzac akan mengatasinya. Karena Azzam memilih fokus sementara waktu untuk menemani sang istri dan anak-anaknya.
" Apa aku bilang, dua puluh empat jam akan selalu melihat berkas-berkas kembali. Akh!!! Tuhan, aku butuh libur sejenak dari hal ini. " Daffa berkeluh kesah.
Saat dinyatakan telah sembuh, Rayyan kembali ke negaranya. Ia merasa tugasnya telah usai, dan pekerjaannya disana telah menanti.
" Selamat berjuang Fa, aku akan membantumu tentunya. Melalui do'a, hahaha." Rayyan meledek Daffa yang muka bertekut seribu lipatan semenjak bosnya menyerahkan semua tanggung jawab perusahann kepada dirinya.
" Sialan, kau! Aku do'akan juga, kau akan bernasib sama denganku."
" Hahaha, sudah-sudah. Sama-sama bernasib begitu saja kok berdebat, aku aja nggak sewot. Udah terima saja, Fa." Dzac dengan mudahnya menyindir Daffa dan Rayuan.
" Duck!!!" Daffa dan Rayyan menatap tajam Dzac yang seketika berubah menjadi ciut.
" Sudah, biar dia menjadi urusanku. Kalian tidak usah bertengkar, jalani saja pekerjaan kita. Kita patutnya bersyukur dengan perubahan pada bos, jalani saja dulu. Jika kalian tidak betah, tinggal laporan saja pada nona. Bereskan kan!!" Kenan menengahi perdebatan yang terjadi.
" Hem" Daffa dan Rayyan mengangguk-anggukkan kepala mereka.
" Ah, benar. Nona memang the best la, aku jadi semakin kagum padanya." Dzac kembali dengan sikap tengilnya.
Plak!!!
" Jiah!!! Kalian" Dzac mendapatkan hadiah di kepalanya dari ketiga sahabatnya itu, membuat dirinya protes. Namun hal itu seketika merubah ekpresi wajahnya, karena tatapan tajam dari ketiganya.
Aih, keluar dari kandang macan. Lalu masuk kandang singa, apes bener. Dzac.
__ADS_1
Mereka pun berpisah setelah Rayyan memasuki pesawat pribadi perusahaan untuk kembali ke negaranya, dan mereka pun kembali kepada tugasnya masing-masing.