
" Aakkkhh!!"
" Jika daddy memeluk mommy terus, kami akan telat untuk pergi ke sekolah!" Ternyata suara itu milik Azzam, dia menjerit ketika Ansel menginjak kakinya dengan begitu kuat.
" Heh, lihat sayang. Sang perebut perhatianmu sudah memberikan alarmnya, baiklah. Kalian selalu menang dari daddy." Azzam melepaskan pelukannya, dan memberikan kecupan di kepala bagian atas anak-anaknya.
" Yiak! Daddy, ini sangat memalukan. Arick sudab besar, bukan anak kecil lagi. Ah, bisa jatuh citraku sebagai orang ganteng di kelas." Arick mengibaskan rambutnya yang terkena kecupan sang daddy.
" Hei, kalian itu masih dalam masa kanak-kanak. Harus fokus untuk masa deoan boy, kenapa bisa membandingkan ketampanan. Mommy, lihat anak-anak kita." Azzam mengkerutkan dan menggaruk alisnya.
" Sudah-sudah, ayo berangkat. Kamu juga mas, ada-ada saja. Suka sekali menjahili anak-anak, bibitnya tidak akan jauh dari pendahulunya. Kita berangkat ya mas, Assalamu'alaikum." Kiya mencium punggung tangan Azzam dan di ikuti oleh kedua puteranya.
" Wa'alaikumussalam, kamu juga hati-hati sayang. Nanti kabarin mas, dan kalian. Belajarlah dengan baik." Melihat mobil yang membawa istri dan anak-anaknya telah pergi. Azzam pun memasuki mobilnya yang di kendarai oleh supir pribadinya, Leman.
" Kita ke perusahaan pak." Titah Azzam.
" Baik tuan." Jawab Leman, lalu ia menjalankan laju mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
Namun dipertengahan jalan, ponsel Azzam berbunyi. Dengan melihat kontak siapa yang menelfon, Azzam langsung menerimanya.
" Hem."
__ADS_1
" Tuan, transaksi berhasil. Namun ada sesuatu yang mengganjal." Kenan melaporkan hasil kerjanya.
" Apa itu?" Suara Azzam bernadakan keingin untuk mengetahuinya.
" Nona Bianca." Jawab Kenan dengan singkat.
" Aku akan kesana!"
Pembicaraan itu terputus, Azzam meminta Leman untuk merubah haluan mereka menuju markas.
" Kita ke markas sekarang!"
" Baik tuan." Leman pun segera memutar perjalanan mereka.
Selama di perjalanan menuju sekolah, Ansel memilih untuk banyak diam daripada Arick yang selalu ceria. Bahkan Jaka sang supir, dibuatnya kewalahan untuk meladeni perkataan yang ia lontarkan.
" Abang, ada apa nak?" Kiya melihat wajah putera sulungnya, seperti sedang menahan sesuatu.
" Tidak ada apa-apa mom, abang baik-baik aja." Ansel tersenyum kepada mommynya.
" Mommy harap, abang sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari mommy." Kiya semakin merasakan keanehan pada sang puteranya.
__ADS_1
" Hahaha, mommy. Abang itu sedang galau, karena disekolah. Ada murid perempuan yang suka sama abang, dan juga banyak orangtua murid seringkali mencubit gemas pipi abang. Makanya, muka abang berkerut seratus kali lipat. Ups, sorry bang." Arick memang sengaja untuk memberitahukan kepada mommynya perihal tersebut, jika menunggu Ansel yang cerita. Maka itu akan memakan waktu yang sangat lama.
Kiya menggenggam tangam Ansel, seakan mengatakan jika dirinya tidak marah dengan apa yang ia alami.
" Masyaa Allah, rupanya anak mommy banyak penggemarnya ya."
" Mommy, abang tidak suka!" Bentak Ansel kepada Kiya, hal itu membuat Arick dan Jaka kaget.
Begitupun halnya dengan Kiya, ia sangat terkejut dengan respon yang Ansel berikan. Baru kali ini, putera sulungnya itu membentak dirinya. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Kiya, namun ia berusaha untuk memahami hati puteranya.
" Abang!! Jangan bentak mommy, Arick tidak suka." Arick memutar tubuhnya dan ia ingin segera berpindah ke bangku penumpang, ia sangat tidak suka jika mommynya dibentak.
" Arick, mommy tidak apa-apa." Menyakinkan putera keduanya, agar tidak emosional.
" Semua makhluk hidup di dunia ini mempunyai dua pilihan, disukai ataupun tidak disuki. Masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan tersendiri, siap atau tidak siap mereka harus menerimanya. Jika memang, abang merasa tidak nyaman dengan situasi yang abang alami. Mommy akan mendiskusikannya bersama daddy tentang bagaimana baiknya, jangan murung lagi ya." Kiya menghembuskan nafasnya mengatur gejolak perasaannya yang saat ini seakan ikut merasakan apa yang puteranya alami.
Reaksi yang Ansel berikan masih tetap sama, ia masih dengan diamnya. Namun hal itu tidak membuat Kiya marah, ia ingin putera-puteranya menjadi lebih terbuka kepada orangtuanya. Sampai akhirnya mobil tersebut tiba di sekolah, Ansel langsung keluar dari mobil dan berlarian memasuki sekolah tanpa berpamitan.
" Mommy, maaffin abang Ansel ya. Mommy jangan sedih, nanti Arick akan bilang sama abang untuk minta maaf pada mommy." Arick menghampiri Kiya.
" Tidak nak, biarkan abang dengan waktunya. Dia sedang membutuhkan waktu untuk mendamaikan hatinya, masuklah. Belajarlah dengan baik, buatlah mommy dan daddy bangga nak." Arick berpamitan kepada mommynya dan berjalan masuk ke dalam sekolah.
__ADS_1
Ada rasa kekhawatiran Kiya untuk kejadian yang puteranya alami, namun ia tidak bisa memutuskan hal itu sendiri. Mobil berjalan untuk kembali kerumah, sepanjang perjalanan. Hati Kiya selalu tergiang-giang dengan apa yang terjadi pada Ansel, berusaha untuk tetap tenang dan tidak gegabah untuk mengambil keputusan.