
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat, Azzam dan kiya menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Sempat beberapa hari tidak bekerja dan berfikir untuk berhenti kerja saja dalam benak Kiya, tapi dengan berbagai bujukan dan rayuan dari teman dan sahabatnya, akhirnya Kiya menyetujui keinginan mereka. Namun, terjadi perbedaan diantara mereka. Dimana yang biasanya, meja kerja Kiya berada dalam satu ruangan bersama Azzam. Dan hal itu sudah tidak lagi terjadi, Kiya meminta untuk merubah ruang kerjanya untuk berada satu ruangan bersama Ghina.
Tidak ada lagi yang namanya pengawalan serta pengawasan terhadapan Kiya, Azzam benar-benar melepaskan Kiya. Walaupun hatinya berkata lain, Azzam tidak ingin semakin membuat Kiya terpuruk.
Tok
Tok
Tok
" Masuk ".
" Permisi tuan, ini berkas laporan proyek dari perusahaan First. Beliau sedang menunggu anda di luar." Daffa menyerahkan berkas tentang proyek kerjasama kedua perusahaan tersebut.
Membaca dan menelaah isi dari berkas tersebut, raut wajah Azzam berubah seketik. Melihat nama dari CEO perusahaan tersebut, tanpa disadari olehnya. Tangan itu meremas berkas tersebut, dan melemparkannya ke lantai.
" Batalkan kerjasama itu, seharusnya kau lebih cerdas Fa." Suasana hati Azzam sudah tidak bagus saat itu.
" Maksud anda, tuan?!." Daffa benar-benar tidak mengerti maksud dari bosnya.
" Andrian, kau pasti tau bukan. Aku tidak akan menjelaskannya lagi." Azzam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Daffa yang masih terperanggah akibat keteledorannya.
__ADS_1
" Bagaimana bisa aku melupakan ba***an satu itu, akh! Bos, oh bos. Kau memang manusia melebihi robot." Daffa menggambil berkas itu dan menyusul Azzam yang keluar dari sana.
Disaat mereka melintasi ruang tunggu, Adrian melihat Azzam yang berjalan. Tapi jarak diantara mereka semakin menjauh, hal itu membuat Andrian segera menyusul langkah Azzam yang sangat cepat.
" Zam, Azzam! Tunggu." Teriak Andrian yang terdengar sangat keras dan membuat Azzam merasa jengah.
Mereka berhenti tepat didepan ruang kerja Ghina dan Kiya, tanpa menoleh. Azzam hanya berdiam diri dengan kedua telapak tangannya masuk kedalam saku celananya. Daffa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, melihat sikap bosnya itu semakin menjadi setelah berakhirnya kisah cinta mereka.
" Ada apa?" Azzam berbicara dengan sangat angkuhnya.
" Hayolah! Kau masih tidak berubah, main batal-batal saja. Jangan seperti anak kecil, Zam. " Andrian memprotes sikap Azzam yang masih mau se-enaknya saja.
Ghina dan Kiya melihat dari ruangannya yang hanya bersekat kaca, Kiya merasa heran dengan perubahan sikap Azzam. Bagaimana pun, Azzam pernah singgah di dalam hatinya. Ketika Azzam akan melangkah, tangan Andrian menarik lengannya dengan sangat kuat.
Bugh!
Bugh!
" Jangan pernah, tanganmu yang najis itu menyentuhku! Bre****ek". Pukulan sudah Azzam layangkan kepada Andrian, ia merasa geram dengan ulah Andrian.
Kejadian tersebut membuat Kiya langsung kaget, tubuhnya seketika bergetar dengan sangat hebat. Rasa trauma yang ia dapatkan sebelumnya, berdampak hingga saat ini.
__ADS_1
" Ki, kiya! Kamu nggak apa-apa?" Ghina melihat Kiya seperti itu, membuatnya sangat khawatir.
" eh, nggak apa-apa mbak. Ha ha nya saja kakiku, terasa lemas." Kiya menjatuhkan tubuhnya diatas tempat duduk.
Ghina mencoba perlahan-lahan untuk menenangkan Kiya, ia juga merasa panik dengan keadaan Kiya. Ingin rasanya ia memberitahukan hal tersebut kepada bosnya, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena Kiya akan menentangnya dengan sangat keras.
Daffa menarik tubuh Azzam, agar bisa menghindari amukannya itu kepada Andrian. Namanya bos, pasti kekuatannya sangat kuat dan melebihi kekuatan bawahannya. Daffa dihempaskan dengan sangat mudahnya oleh Azzam, dan kembali ia menghakimi Andrian dengan memukulnya.
" Aku sungguh sial, mempunyai saudara seperti kau!!" Azzam menghantamkan kepalan tangannya pada kepala Andrian dan bagian tubuh yang lainnya.
Untung saja, dilantai tersebut hanya ada ruangan bos, Daffa, Ghina dan Kiya. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut, terkecuali mereka yang ada disana saat itu. Kiya melihat Azzam sudah lepas kendali, jiwa leadernya itu sangat kejam. Andrian sudah tidak berdaya dengan serangan yang Azzam berikan, beberapa bagian tubuhnya sudah mengeluarkan darah. Kiya pun tidak habis pikir dengan apa yang Azzam lakukan, ia hanya ingin Azzam tidak menyiksa orang lagi.
" Kiya!!" Ghina berteriak memanggil Kiya, karena ia berlari menuju bosnya yang sedang bertikai.
Bugh!
Bugh!
" Eemm!!!" Kiya menggigit bibirnya dengan sangat kuat.
" Tuan berhenti!!!" Teriak Ghina dan Daffa bersamaan.
__ADS_1