BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 127


__ADS_3

Kemampuan yang dimiliki oleh kedua puteranya, kini masih aman untuk dirahasiakan dari istrinya. Begitupun dengan si kembar, yang saling mengingatkan untuk hal tersebut.


Beberapa bulan kemudian, kehidupan rumah tangga Azzam kembali sedia kala. Begitupun dengan kehamilan Kiya yang sudah menginjak bulan ke sembilan dan mereka sedang menantikan kehadiran anggota baru dirumah mereka, kehamilan kali ini membuat sikap Kiya sedikit beribah dari biasanya. Dia berubah menjadi sedikit cuek dan tidak terlalu banyak bicara semenjak dari kejadian penuerangan dirumah utama.


" Mommy, adek bayinya kapan lahir? Arick sudah tidak sabar untuk melihatnya, soalnya bosan main sama abang. Nggak bisa diajak bercanda, maunya serius terus. " Arick berceloteh kepada Kiya.


" Sabar ya, nggak lama lagi kalian juga akan bertemu. Ayo berangkat sekolah, nanti terlambat. Mas! Kamu nggak kekantor?" Kiya yang melihat suaminya masih menggunakan pakain santai rumahan, anak-anaknya pun telah berangkat kesekolah bersama Jaka.



" Seperti biasa, sayang. Ada Daffa yang sudah menghandlenya." Azzam menikmati udara pagi yang begitu segar.


" Selalu saja." Kiya melanjutkan langkah kakinya yang bertujuan untuk merangsang kontraksi, untuk sang bayi.


Azzam melihat Kiya yang berjalan dengan tertatih, dengan kondisi perutnya yang sangat besar. Dengan sigap, ia pun mengikuti langkah kaki istrinya. Menemani disaat-saat akhir trimester kehamilannya, kembali bersiap menjadi daddy siaga.


" Akh!" Kiya mengeluh, tangannya menahan perut bagian bawah dengan menggunakan satu tangannya.


" Kenapa, sayang?!" Azzam melihat Kiya yang meringgis.


" Mas, sepertinya baby akan lahir!"


Mendengar hal tersebut, Azzam langsung berteriak kepada Leman untuk menyiapkan kendaraan. Dengan sigap, Azzam mengggendong Kiya menuju mobil. Ipah pun bergegas mengambil perlengkapan bayi yang sebelumnya telah dipersiapkan, mereka segera berangkat menuju rumah sakit. Dipertengahan jalan, Azzam menghubungi dokter kandungan Kiya dan juga Gabriel.


Sudah siap dengan serangan yang Kiya berikan, Azzam hanya bisa pasrah atas hal tersebut. Cakaran, tarikan bahkan gigitan yang ia dapatkan. Entah apa yang terjadi pada babynya kali ini, hingga begitu sangat membencinya. Ketika tiba dirumah sakit, dokter telah siap dengan untuk menyambut Kiya. Ipah dan Leman menunggu diluar ruangan, tak lama kemudian disusul dengan kedatangan para kaki tangannya Azzam dari dunia bawah untuk menyambut anggota baru.


" Akh! Emmm!" Kiya sedang berusaha untuk melahirkan sang baby.


Azzam hanya bisa menahan semua rasa sakit yang ada pada tubuhnya, ia berfikir jika rasa sakit itu tidak sebanding dengan perjuangan istrinya untuk melahirkan anaknya. Lengan Azzam hampir dipenuhi dengan goresan dan gigitan dari Kiya.


" Sudah lengkap, nona. Bersiap ya." Dokter memberikan aba-aba kepada Kiya, melalui proses persalinan normal. Dan memakan waktu yang singkat, dengan persiapan yang cukup. Akhirnya...

__ADS_1


Oek...


Oek...


" Perempuan." Ucap sang dokter dengan menunjukkan rupa dari sang baby kepada kedua orangtuanya.


Dengan nafas yang masih terenggah-enggah, Kiya dan Azzam menetes air mata bahagia. Kini, keluarga kecilnya telah lengkap dengan kelahiran baby girl ditengah-tengah mereka.


" Terima kasih sayang, terima kasih!!" Memberikan kecupan bertubi-tubi pada wajah sang istri, Azzam begitu sangat bahagia.


" Mas, stop. Malu di lihat dokter dan lainnya." Azzam pun menyadari jika istrinya merasa tidak nyaman jika terlihat oleh banyak orang. Dokter dan para bidan lainnya hanya bisa tersenyum menyaksikan hal tersebut.


Azzam keluar dari ruang persalinan, wajahnya begitu bahagia. Kenan dan Dzac juga ikut larut dalam kebahagian mereka, Ipah dan Leman juga ikut bergabung. Saat ini, Kiya pun sudah dipindahkan pada ruang perawatan khusus.


" Kiya!!" Suara yang dahulunya sering tergiang ditelinganya.


Eci beserta teman-teman yang lainnya memasuki ruangan tersebut, mereka yang selama ini hanya bisa berkomunikasi melalu media elektronik. Kini, bisa berkumpul kembali dan menyambut kehadiran baby girlnya Kiya dan CEO mereka.


" Ups! Sorry, gue kelepasan." Menutup mulutnya dengan telapak tangan, Eci mendekati Kiya secara perlahan.


" Ki, suami lu tambah serem yak! Takut gue ngelihatnya. Tapi, kenapa lu malah tambah cantik sih! Auranya kerasa banget." Eci lupa akan peringatan dari Berry.


Nabila dan Ghina hanya menahan diri dari amukan bos mereka, selalu saja jika mereka berkunjung untuk menemui Kiya. Pasti mendapatkan oleh-oleh dari bosnya, gara-gara ulah Eci.


" Kalian seperti tidak tau saja, kan sudah biasa! Hehehe." Kiya menjadi merasa geli sendiri dengan sikap suaminya yang semakin posesif dan protective.


Azzam hanya menyaksikan obrolan dari sahabat-sahabat istrinya, membiarkan mereka untuk saling melepas rindu.


Tok


Tok

__ADS_1


Pintu pun terbuka...


" Assalamu'alaikum." Kedatangan Si kembar, memecahkan keteganggan yang ada.


Ansel dan Arick satu persatu memberikan tanda hormat kepada semua orang yang berada didalam ruangan tersebut, dengan cara mencium punggung tangan mereka. Hal itu membuat Eci dan lainnya terpukau, dengan sikap serta ketampanan dari si kembar.


" Ki, anak lu. Tampan banget!" Berry berguman sambil menatap kedua putera kembar Kiya.


" Bener, maulah aku satu." Eci yang tak mau kalah.


" Kalian ini, adeh!" Nabila menghembuskan nafasnya, sungguh ia tidak bisa menerka apa yang akan terjadi pada diri mereka.


Tak lama kemudian, disusul oleh kedatangan Kenan, Daffa dan Dzac. Ruangan itu pun menjadi sangat ramai dengan kehadiran mereka, dengan santainya Azzam bergumam.


" Eci! Tolong kamu temani Dzac untuk membeli makanan, biar kita makan bersama disini." Dengan hal itu, Dzac menjadi sangat kaget.


" Tuan, ta.."


" Jalankan saja, jika tidak ingin nasibmu menjadi hampa." Azzam menekankan perkataannya.


" Bau-baunya, ada perjodohan ni." Kenan bergumam kepada Daffa.


" Hahaha." Mereka berdua pun tertawa.


" Bre****ek kalian berdua, awas saja. Hei kau yang bernama Eci, cepat!" Akhirnya Dzac menjalankan perintah tuannya.


" Biarkan mereka berjodoh, sama-sama seperti mikrofon dan sound system rusak!" Azzam mendengus dengan sinis.


Mampus, Tuan kejam amat ya.


Nabila, Berry dan Ghina.

__ADS_1


__ADS_2