
" Hanif!! Apa yang kau lakukan nak?" Ambar sangat terkejut dengan sikap Hanif yang tiba-tiba saja memukul Azzam. Ambar sangat tidak percaya atas apa yang dia lihat saat itu.
Melihat sang nenek berdiri dari duduknya dan akan menghampiri Hanif, Azzam pun mempercepat gerakannya untuk menghalanginya. Ambar merasa sedikit tidak suka dengan perlakuan Hanif, yang tiba-tiba saja menyerang Azzam.
" Nek, tidak apa-apa. Biar Azzam yang menyelesaikannya." Tangan Azzam mengarahkan sang neneknya untuk duduk kembali.
Tatapan Hanif itu penuh dengan kebencian kepada Azzam, bagaimana tidak. Wanita yang ia relakan untuk menikah dengan orang lain, di hari bahagia mendapatkan peristiwa yang sungguh tidak mengenakan.
" Ada apa?" Ujar Azzam dengan seringainya kepada Hanif yang masih menatapnya.
" Bagaimana bisa, kau memberikan Kiya kehidupan seperti ini, hah!! Jika dari awal aku mengetahuinya, tidak akan pernah kubiarkan dia bisa menikah dengan ba***an seperti kau!" Teriakan dari Hanif, sangat terdengar dengan keras, sebelumnya Hanif tidak mengetahui sisi lain dari kehidupan Azzam. Dan hari ini, dia mengetahui segalanya mengenai sang leader kelompok dunia bawah yang sangat disegani.
" Itulah kenyataannya, kau harus berbesar hati, tuan Hanif. Karena Kiya lebih memilihku!" Senyuman Azzam penuh dengan kemenangan.
" Kau!!! Awas saja, jika terjadi sesuatu kepada Kiya. Maka tidak segan-segan, aku akan mengambilnya darimu!!" Setelah mengeluarkan kalimat terakhirnya, Hanif pergi meninggalkan tempat tersebut.
.
......................
Mendengar berita, bahwa serangan yang ia kirimkan telah gagal. Dengan mengepalkan telapak tangannya, emosi kemarahannya sudah sangat melampaui batas kesabarannya.
" Kalian benar-benar tidak bisa dihandalkan!! Argh!" Ferdinand menyiksa semua anak buahnya yang kembali dalam keadaan hidup.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
" Dasar tidak berguna, untuk apa selama ini aku selalu melatih kalian, hah!! Bodoh, bodoh!!" Pukulan, tendangan bahkan dengan murkanya Ferdinand menembak semua bawahannya sampai pelurunya habis.
Dor!
Dor!
Dor!
Dengan nafas yang terengah-engah, wajahnya pun dipenuhi dengan keringat yang hampir seluruhnya membasahinya. Tubuh itu akhirnya jatuh bertumpu menggunakan dengkulnya, dengan tatapan wajah melihat ke satu arah.
Bagaimana bisa mereka mengetahui rencanaku dan menggagalkannya? Sekuat apa mereka, dengan anak buahku yang sudah sangat terlatih saja bisa mereka kalahkan, kau memang bre****ek Azzam. Ferdinand.
" Walaupun kalian sudah menikah, hal itu tidak akan membuatku menyerah! Lihat saja nanti, tidak akan kubiarkan kalian hidup dengan bahagia. Akan kubuat kau hancur dan binasa suatu saat nanti, Azzam Arsalaan." Ferdinand berdiri dan meninggalkan anak buahnya yang keadaannya sudah sangat tragis.
......................
Keadaan pada mansion Azzam sudah kembali seperti biasanya, dengan sangat rapi. Anak buahnya membersihkan dan merapikannya setelah kejadian menegangkan sebelumnya, menyisahkan dua insan yang baru saja memasuki bahtera rumah tangga.
" Mas, kita mau kemana?" Tanya Kiya di sela-sela waktu saat mereka sedang sarapan.
" Rahasia, mas beritahu atau tidaknya. Nantinya juga kamu tau sendiri, sayang." Memainkan alisnya dengan naik dan turun, Azzam sangat suka menggoda istrinya yang masih belum ia sentuh seutuhnya. Setelah dari kejadian tersebut, Azzam lebih memfokuskan dengan psikologis sang istri.
" Hufh! " Mendengar jawaban dari Azzam, membuat Kiya menyerah untuk tidak bertanya lagi.
Selesai dengan sarapannya, Azzam segera menyambut tubuh mungil istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
" Sudah siap?" Ujar Azzam dengan mengelus puncak kepala Kiya.
" Iya mas, udah ah. Malu di liat yang lain." Muka Kiya berubah menjadi merah merona karena menahan malu.
" Kenapa harus malu? biarkan saja mereka melihatnya, biar mata mereka sedikit mendapatkan cahaya. Cahaya itu sangat baik untuk yang jomblo, seperti mereka." Azzam menatap sinis dan senyuman kemenangan kepada bawahannya, terutama Daffa, Kenan dan juga Dzac.
Langsung saja Kiya memberikan cubitan pada perut sixpack milik suaminya itu dengan sangat kuat, hingga membuat Azzam terkejut dan meringgis.
" Aaaa... Sayang, sakit!" Mata tajam Azzam menatap Kiya.
" Apa?!!" Kiya memasang wajah yang tak kalah garangnya dengan Azzam, hingga membuatnya luluh seketika menggumbar senyuman.
" Iya iya, sayang." Azzam hanya bisa mengelus perutnya yang terkena cubitan dengan menggunakan tangannya.
Hal itu di lihat oleh si biangnya biang dari suatu masalah, siapa lagi kalau bukan Dzac.
" Hahaha... Bos, kau bos kami kan? Hahaha. Baru kali ini bos aku melihat dirimu berubah menjadi cute dihadapan seorang wanita. Nona bos, aku padamu! Hahaha... " Mulut si biang kerok sudah beraksi, dengan kesalnya. Kenan dan Daffa langsung memukul kepalanya dengan cukup kuat.
Plak!!!
" Auw!!!." Teriak Dzac sangat keras.
" Mau cari mati kau, hah!" Bisik Daffa dan kenan dengan tatapan yang sangat dan sangat tajam.
Dzac baru menyadari hal itu, jika dia sedang dalam masalah besar serta mendapatkan tatapan yang mematikan dari bos mereka. Melihat hal itu, nyali Dzac menjadi ciut seketika.
" Hehehe, maaf bos. Peace!!!" Mengacungkan dua jarinya dan senyuman memperlihatkan gigi, tanpa komando. Dzac kabur...
__ADS_1