
Dor
Dor
" Aakkhh!!!" Teriak Daffa.
Mata Kiya terbelalak melihat kejadian di hadapannya, Daffa yang berusaha menyingkirkan dan mengamankan nona mereka dari serangan serta agar orang-orang tersebut untuk menjauh dari mobil yang dimana Kiya saat itu berada. Namun diluar dugaan, Daffa terkena tembakan dengan sangat membabi buta, dan akhirnya tubuh itu terjatuh bersimbah darah.
" Daffa!!!" Suara lirih dari mulut mungil Kiya, tubuh itu semakin bergetar. Tangan itu menutup mulutnya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Prang!!
Kaca mobil terpecahkan, Kiya semakin takut. Mulutnya terus mengucapkan kalimat-kalimat istighfar dan menguatkan hatinya, memohon pertolongan kepada Rabb-NYA.
" Ya Rabb, aku mohon perlindunganMu. Mas, kamu dimana! Aku takut mas." Tangan Kiya menahan perut bagian bawahnya dengan menggunakan tangannya, para baby di dalam perutnya bergerak dengan sangat aktif hingga menimbulkan rasa nyeri.
" Sssttthh... Nak, bantu mommy ya. Kuatkan mommy!" Rintih Kiya mengelus perutnya, namun tiba-tiba pintu mobil disamping Kiya terbuka.
Klek!
" Hallo sayang." Suara Ferdinand terdengar sangat jelas di telingga Kiya.
__ADS_1
" Kau!" Begitu kagetnya saat Kiya melihat sang pemilik suara tersebut.
" Kenapa, kaget? Akhirnya kita bertemu lagi, bukan. Ayo, keluarlah! Kita akan menuju rumah impian. Mari sayang." Ferdinand mengulurkan tangannya agar Kiya menyambutnya, namun hal itu tidak terjadi. Dengan tegas Kiya menolaknya dan menepis tangan Ferdinand dengan sangat kuat.
Tak!!
" Kau sudah gila, pergilah!" Ucap Kiya dengan yang masih menyudut di salah satu sisi mobil.
" Heh! Kau masih saja angkuh nona, tenang saja. Sebentar lagi, aku akan mengajarimu untuk semuanya sayang." Ferdinand dengan emosinya, menarik paksa tangan dan tubuh Kiya untuk keluar dari mobil.
" Lepaskan, lepas! Ini salah, Ferdinand! Semuannya ini salah." Teriak Kiya yang masih memberontak.
" Daffa!!" Kiya segera menghampirinya, sungguh terlihat sangat tragis kondisinya saat itu.
"Nona, anda segera larilah dari sini. Saya sudah menghubungi yang lainnya, bantuan akan segera datang. Huk huk!" Daffa berlutut menahan rasa sakit dari luka tembak yang ia derita.
Baru saja Kiya akan membalas ucapan dari Daffa, sebuah bekapan pada hidung dan mulutnya dengan menggunakan sehelai kain yang sudah diberikan obat bius. Membuat Kiya memberontak dan lambat laun, ia pun hilang kesadarannya.
" No na!" Kekuatan Daffa melemah akibat dari luka tembakan pada tubuhnya, dan salah satu dari musuh memberikan satu pukulan telak di kepalanya. Membuat ia hilang kesadaran, namun sebelum matanya tertutup. Daffa masih sempat melihat siapa pelaku dari kejadian itu.
......................
__ADS_1
Terjadi penyerangan pada markas utama dari kelompok yang dipimpin oleh Azzam, saaf ia tiba disana. Terdapat banyak mayat yang sudah berserakan dimana-mana.
" Tuan!" Sambut Kenan yang segera menghampirinya.
" Apa yang terjadi?" Sorot tajam dari mata Azzam yang masih memandangi pemandangan dihadapannya.
" Mereka datang secara tiba-tiba tuan, semua pengawal kita yang siaga. Hingga kondisi disini dapat kita atasi, hanya saja tuan. Jumlah mereka hanya sedikit, saya curiga kalau hal ini hanya peralihan saja." Kenan menyampaikan apa yang ia dapati dari kejadian.
" Apa kau tau, motif mereka?" Kembali mata elang itu menatap Kenan dengan tajam, lalu ia memijit pelipis mata kanannya.
Kenapa perasaanku semakin tidak enak, akh! Apa arti dari semua ini! Azzam.
" Q , Tuan! Ini semua mereka yang melakukan, sepertinya pemimpin mereka masih mengincar nona tuan." Kenan mempertegaskan perkataannya.
" Kiya!!" Azzam menjadi semakin merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, tiba-tiba Dzac berlari dari arah dalam markas untuk menghampiri mereka.
" Hah, hah, hah. Hufh! No na, nona tuan." Nafas Dzac terputus-putus saat akan bicara.
" Dzacky!!" teriakan Azzam seketika membuat Dzac menjadi lancar berbicara.
......................
__ADS_1