
" Hei, ada apa itu? Kenapa sangat ramai orang-orang berbaju serba hitam di perusahaan kita?" tanya Nabila yang merasa takut akan keberadaan dari para anak buah bosnya dari dunia bawah.
" Nggak tau Bil, aneh ya!" Eci pun ikut bersuara.
Semua karyawaan dibuat panik dengan kejadian saat itu, tidak biasa-biasanya perusahaan mereka didatangi oleh orang-orang seperti sekarang. Apalagi disaat jam kantor masih aktif, membuat mereka berspekulasi sendiri-sendiri dengan pikirannya.
......................
Dengan perasaan yang cemas, Azzam berjalan dan kembali ke ruangannya. Perasaan kalut akan keadaan sang istri yang saat ini belum ditemukan, apalagi informasi yang Kenan berikan sangat membuatnya prustasi.
" Bagaimana bisa orang seperti dia, merencanakan hal seperti itu kepada istriku!! Dasar ba***at kau Ferdinand!!!" Dengan amarahnya, Azzam bergegas memasuki ruang kerjanya, untuk mengakses CCTV dari ruangannya.
Braakk!!!
Disaat memasuki ruangannya, betapa kagetnya Azzam melihat pemandangan yang berada dihadapannya.
__ADS_1
" Sayang!!!" Azzam segera berlari menghampiri tubuh istrinya yang saat itu terpejam dan segera memeluknya.
Karena merasa terusik dari tidurnya, Kiya pun menggerakkan tubuhnya. Rasa kantuk yang ia rasakan sebelumnya itu begitu tak tertahankan, hingga membuatnya tertidur sambil mendengarkan musik.
" Mas! " Kiya membeo dari bangun tidurnya.
Pelukan yang Azzam berikan sangatlah erat, hingga membuat Kiya merasa sedikit sesak dengan hal tersebut. Memukul dada Azzam dengan kuat, berharap Azzam melepaskannya.
" Ma mas, lepas. Aku nggak bisa nafas!" Keluh Kiya yang masih memukul dada Azzam.
Mendengar jika istrinya itu kesulitan untuk bernafas, dengan segera ia melonggarkan pelukannya.
" Eh, bukannya malah aku mas yang nungguin kamu? " Kiya merasa heran dengan perkataan suaminya.
Azzam menjelaskan kepada Kiya atas informasi yang Kenan berikan padanya, perlahan Kiya pun mencerna apa yang Azzam katakan.
" Memang si mas, tadi habis dari musholla. Ada orang yang kayak ngikutin gitu, tapi pas aku liat. Ternyata nggak ada, jadinya aku cepetin buat sampai kesini, eh sampai sini ternyata kamunya nggak ada mas." Kiya menjelaskan apa yang ia alami.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Kiya, Azzam semakin memperkuat dugaannya jika memang saat ini nyawa istrinya dalam bahaya. Semakin banyak yang mengetahui jati diri istrinya, maka semakin besar pula ancaman untuknya.
" Maafin mas ya, mas sudah lalai jangain kamu. Terus, kenapa ponselnya nggak aktif?" Azzam kembali memeluk tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
" Oh itu, kayaknya ponselku habis baterainya mas. Udah mas nggak apa-apa, Alhamdulillah aku baik-baik saja kan. Tapi, sepertinya para rival kamu sudah mengetahui jika aku adalah kelemahanmu mas, apa sebaiknya aku berdiam diri saja dirumah. Aku takut, kamu akan menjadi semakin terpancing akan keinginan mereka itu mas." Kiya memang sangat takut akan hal itu, namun ia berusaha menepis rasa takutnya.
" Akan mas pikirkan, ah kamu ini. Hampir saja membuat mas mati jantungan." Cup, cup, cup. Dengan sangat gemasnya, Azzam melayangkan kecupan pada wajah istrinya itu.
Merasa lega dengan keadaan Kiya yang baik-baik saja, dan membawa pulang. Tak lupa Azzam segera memberitahukan anak buahnya jika Kiya sudah ia temukan. Untuk Kenan dan lainnya, ia menugaskan untuk mencaritahu tentang identitas dari sang pelaku, Ferdinand.
......................
Saat berada di markas, ketiga soulmate sedang menyelesaikan tugas mereka. Mencari tahu informasi tentang musuhnya kali ini, cukup sulit dan membutuhkan tenaga yang ekstra.
" Binggo!!! " Teriak Daffa, membuat kaget yang lainnya.
Dzac dan Kenan menjadi kaget karena ulah konyol Daffa, yang berteriak disaat mereka tangah fokus. Ingin rasanya Dzac mengutuk ulah dari Daffa.
__ADS_1
" Kau! Bisa nggak untuk tidak teriak seperti itu, dasar. Ku kira kau gila, teriak sendiri." Dzac merutuki ulah Daffa.
" Sssstttt..."