
Setelah terjadi kekacauan di perusahaan Bran's, dimana Kiya dibawa secara paksa oleh Azzam dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dan kini, setelah empat jam berlalu. Kiya mulai menggerakkan jarinya, mata itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Masih merasakan pusing dan sakit pada bagian tekuk leher belakangnya, perlahan ia mendudukkan sebagian tubuhnya dn bersandar pada sandaran tempat tidur.
" Dimana ini? " Kiya bertanya pada dirinya sendiri, karena hanya ia yang berada disana.
Perlahan ia turun dari tempat tidur, berjalan menyelusuri ruangan tersebut yang seperti kamar pria. Aroma dari ruangan tersebut, sepertinya Kiya pernah kenal.
Klek!
Pintu terbuka, memperlihatkan sosok seorang pria yang berperawakan seperti orang yang Kiya sangat kenal.
" Sudah bangun, sayang!" Irama suara itu, menyadarkan Kiya.
" Ma mas Azzam?! Ti tidak, tidak!! " Kiya kembali merasakan ketakutan, saat mendengar dan melihat orang yang sangat ia takuti.
" Sayang!!" Azzam menjadi sangat khawatir, melihat sikap Kiya yang memang sangat ketakutan melihat dirinya.
Namun rasa khawatir dan rasa sangat bersalah dalam diri Azzam sangat besar kepada Kiya, dengan cepat tangan kekar miliknya itu menarik, merangkul dan memeluk tubuh kecil Kiya yang sudah sangat bergetar.
__ADS_1
" Sayang, maaf, maafkan mas. Jangan seperti ini, ini membuat mas sangat sakit, Ki. Mas mohon, jangan hukum mas seperti ini." Tanpa disadari, Azzam meneteskan air mata. Seorang leader dunia bawah dan sebagai CEO itu menanggis!
Getaran dari tubuh Kiya semakin kuat, hal itu sangat dirasakan oleh Azzam yang sedang memeluknya.
" To tolong lepaskan aku mas, tolong!" Suaranya terdengar memilukan.
Azzam semakin merasa bersalah, baru kali ini ia merasakan kesedihan dan takut akan kehilangan.
" Baiklah, aku akan melepaskanmu. Maafkan aku, Ki. Maaf!!" Azzam melepaskan pelukannya dari tubuh Kiya, menghela nafas panjang dan berjalan menjauhi Kiya.
" Lupakan semuanya, mulai detik ini. Kita bukan siapa-siapa. Anggap saja kita tidak saling mengenal, kau bebas!!" Azzam meninggalkan Kiya yang masih menanggis dan ketakutan terhadap dirinya.
Huh! Baru saja mendo'akan mereka untuk bahagia, namun semuanya kandas. Semoga tuan dan nona Kiya bisa mendapatkan kebahagiannya sendiri, tapi jika memang mereka berjodoh. Semoga ini ujian dari cinta mereka. Daffa.
......................
Azzam meninggalkan Kiya dengan kondisi yang sangat menyedihkan, tangisan Kiya membuat hati Azzam terasa sangat hancur.
__ADS_1
Maaf! Maaf!!! Seharusnya aku memikirkannya sebelum membawamu masuk kedalam kehidupanku, kini aku sadar. Jurang yang kau maksud itu, kini sudah terbentang diantara kita. Azzam.
Melihat Kiya keluar dari mansionnya dengan berjalan dipapah oleh Ghina, Azzam tidak dapat memungkiri hal itu. Mana mungkin seseorang seperti Kiya, bisa menerima dirinya yang seperti ini. Dunia hitam yang ia jalani, membuat orang yang sangat dicintainya pergi menjauh.
"Aaaarrrghhhh!!"
Pprraanngg!!!
Pprraanngg!!!
Suara Teriakan Azzam masih terdengar ditelingga Kiya, disusul berbagai suara dari pecahan barang dan sepertinya ia tengah mengamuk. Dimana saat itu, kiya masih berada dihalaman mansion milik Azzam.
" Ki, kamu yakin? Apakah kamu tidak mau mendengar penjelasan dulu dari bos Azzam?!! " Ghina mengelus pundak Kiya dengan perlahan.
Dengan menggelengkan kepalanya, Kiya menatap Ghina dengan tatapan yang tidak ada semangat bahkan sangat bisa dikatakan seperti mayat hidup yang berjalan.
" Beri aku waktu untuk sendiri mbak." Kiya melanjutkan kakinya untuk melangkah.
__ADS_1
Ghina mengerti apa yang Kiya katakan, memang tidak mudah untuk menerima sesuatu kejadian yang berada di luar kuasa dan nalar manusia.
......................