
Hendra yang saat itu telah tiba ditempat persembunyian mereka, ia masih menikmati pemandangan dari kedua wanita tersebut yang masih asik bertengkar. Dan disaat ia sudah merasa jengah, ia pun memberikan kejutan untuk kedua wanita itu.
Dor!!!
Hendra melepaskan satu tembakan ke arah atas, hal itu membuat kedua wanita tersebut menghentikan pertikaiannya.
" Sudah selesai?! Jika belum, teruskan saja. Aku hanya ingin menonton kalian, siapa yang akan memang dan siapa yang kalah." Hendra melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Kedua wanita tersebut terdiam, dengan nafas yang terenggah-enggah menatap Hendra. Disaat keadaan sudah kondusif, lalu mereka merencanakan sesuatu yang akan mereka lakukan untuk menghancurkan target.
......................
Pengamanan pada rumah utama milik Azzam semakin diperketat, hal tersebut telah ia beritahukan kepada istri dan anak-anaknya. Untuk mengungsi, hal itu tidak dapat dilakukan lagi. Karena pergerakan lawan terlalu cepat daru perkiraan mereka.
" Boy, daddy ingin tunjukkan kemampuan yang kalian miliki untuk hari ini." Dengan memandangi kedua puteranya, Azzam berharap hari ini akan mereka lalui dengan kebahagian.
__ADS_1
Wajah datar, itulah yang diberikan oleh si kembar sebagai jawaban kepada daddynya. Arick yang biasanya akan bersikap tengil dan cerewet, tapi tidak untuk saat ini. Begitu juga dengan Ansel, ia begitu sangat marah mendengar perkataan daddynya. Rasa khawatir dengan keselamatan mommy mereka yang selalu menjadi incaran pada lawan.
" Boy. Bersiaplah!" Azzam mengintruksi kedua puteranya, dengan sangat berat ia harus melibatkan anak-anaknya yang masih dalam usia bermain.
Ansel dan Arick segera mengikuti intruksi dari Azzam, begitu juga dengan Kenan dan Dzac. Suasana begitu mencekam meliputi rumah utama, semua penghuninya bersiap untuk menghadapi kedatangan musuh yang sudah mereka tunggu.
Aktivitas di rumah utama tersebut, hal itu dibuat seperti biasanya dan tidak berubah sedikitpun. Hanya saja nona mereka yang telah ditempatkan pada ruangan yang aman, tanpa siapapun mengetahuinya selain Azzam dan para orang kepercayaannya.
" Tuan, mereka datang!" Pemberitahuan itu, Kenan lakukan melalui alat kecil yang terpasang pada telinga merek.
Di dalam sebuah mobil, Hendra dengan peralatan yang begitu lengkap telah ia persiapkan. Begitu pula dengan kedua wanita yang sama-sama obsesinya untuk mendapatkan pria yang di inginkan, mereka juga bersiap untuk membantu melancarkan aksi tersebut.
" Kalian ikuti bawahanku, ingat!! Jika kalian melakukan kesalahan, aku tidak menjamin nyawa kalian akan selamat." Hendra meninggalkan mereka begitu saja dan bertukar kendaraan.
" Heh, kali ini aku tidak akan gagal lagi. Jika Azzam tidak bisa aku miliki, maka tidak akan ada wanita lainnya juga yang bisa memilikinya, termasuk kau! " Bianca menatap Marsya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
" Terserah kau sajalah, aku pusing jika harus berhadapan denganmu terus!" Marsya juga tidak ingin rencananya gagal.
Pergerakan mereka semakin mendekati rumah utama, dengan penuh keyakinan dan keberanian. Mereka memasuki rumah terget.
Braakk!!!
Pintu gerbang utama telah mereka hantam menggunakan mobil yang dilengakapi dengan alat penghancur, susra yang begitu keras membuat semuanya bersiaga.
" Musnahkan saja, tidak ada terkecuali!" Perintah Hendra kepada semua bawahannya.
Dengan mengganggukan kepala, mereka segera bergerak untuk melakukan penyerangan seperti apa yang telah pemimpinnya intruksikan. Aksi saling serang menyerang tak terelakkan, baku hantam pun terjadi diantara dua kelompok tersebut.
Dor!!!
Dor!!!
__ADS_1
Suara tembakan demi tembakan pun terdengar, satu persatu nyawa hilang atas kejadian tersebut.