
" Anakku sangat pintar, tidak akan ceroboh seperti unclenya. Iya kan, boy?! Hahaha." Masih dengan angkuhnya, Azzam memancing emosi Gabriel sehingga semakin membuatnya kesal.
Sementara itu, Kenan lebih memilih membereskan Hendra dari sana dan menyerahkan tombol pengendali peledak kepada Dzac dan Ansel. Daripada melihat dua pria yang saling menampakkan keangkuhannya masing-masing.
" No no no, daddy! Arick sering keceplosan jika sedang berhadapan dengan mommy, lagian. Mommy juga tidak pernah mengajari Arick untuk berbohong, huh. Daddy bodoh, tidak bisa menebaknya!" Arick mencibirkan bibirnya, sebagai tanda jika ia kesal terhadap pernyataan daddynya.
Mendengar hal tersebut, sontak saja membuat Gabriel tertawa dengan sangat keras dan sampai-sampai menggakibatkan perutnya sakit menahan tawanya. Perkataan seorang anak kecil, masih begitu polosnya dan sangat jujur.
" Hahaha, Arick. Kamu memang anak yang pintar, tidak sebodoh dengam Daddymu. Hahaha!"
" Dad?! Apa perkataan Arick salah? Kenapa uncle tertawa seperti itu kepada Daddy?" Melihat ekpresi wajah Azzam yang begitu tegang dan bola mata melotot kepada Gabriel, membuat Arick merasa bersalah.
" No boy! Arick tidak salah, yang salah itu Uncle. Biarkan saja dia, kamu maklumi saja jika unclemu tertawa seperti itu. Kerena dia baru saja bergabung dengan peradaban manusia, selama ini ia bergabung dengan dunianya sendiri yaitu dunia halu!" Azzam semakin mendengus kesal kepada Gabriel.
" Hahaha, hahaha." Gabriel tidak bisa berhenti untuk menahan tawanya.
Azzam pun berlalu dari Gabriel yang masih tertawa, melangkah menuju ruang rahasia dimana tempat belahan jiwanya berada.
" Arick janji sama daddy, tidak akan memperlihatkan kemampuan Arick kepada mommy. " Sambil berjalan, Azzam membuat kesepakatan kepada anaknya.
" Kenapa mommy tidak boleh tau dad?" tanya Arick dengan begitu polos.
__ADS_1
" Hal ini, daddy berlakukan sama kepada abang Ansel. Mommy belum bisa dan masih belum sanggup untuk menerimanya, sayang. Apalagi kondisi mommy yang belum stabil, kasihan nanti dedek bayonya ikut terganggu. Paham!" Jelas Azzam kepada Arick.
" Tapi dad, ke..."
" Ikuti saja perkataan daddy, jika kamu dan Ansel masih ingin mommy tersenyum. Jika tidak, wajah cemberut mommy itu akan selalu menghiasi hari-hari kita. Oke boy!"
" Oh begitu, oke dad" Arick pun memahami perkataan sang daddy.
......................
Tok
Tok
" Arick!" Gumam Kiya, saat melihat sang putera keduanya datang bersama sang suami.
Dengan berlarian, Arick masuk kedalam pelukan Kiya. Azzam ikut memeluk mereka berdua dari arah berlawanan, membuat Ipah sedikit menjauhkan dirinya dari kemesraan keluarga kecil tersebut.
Azzam menjelaskan tentang situasi yang sudah mereka lalui, lalu membawa keduanya untuk berpindah menuju rumah yang baru. Hal itu sudah Azzam persiapkan, ia tidak ingin rumah utama menjadi kenangan yang membuat keluarga kecilnya tidak nyaman.
" Abang Ansel dimana?" Tanya Kiya disaat Azzam tengah membawa mereka menuju rumah baru.
__ADS_1
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, tiba-tiba Azzam menginjak rem dengan spontan. hal ini membuat mobil yang sedang melaju itu menjadi berhenti seketika. Azzam menjadi kaget setelah mendengar perkataan sang istri.
" Ada apa mas?" Tanya Kiya yang heran.
Membelokkan kemudi dan menjalankan mobilnya kembali dengan kecepatan sangat cepat, bagaimana bisa ia melupakan putera pertamanya. Jika ia bersuara, maka akan terjadi perdebatan yang cukup menguras tenaga dengan istrinya. Apalagi dengan keadaan yang sedang hamil, emosinya berkali-kali lipat mengalahkan harimau yang mengamuk.
......................
" Ansel! Bagaimana bisa kamu menjadi lebih mahir dari uncle, hah?! Bisa hancur reputasi uncle, aduh!" Dzac berceloteh kepada Ansel tentang kemahirannyanya yang melebihi kemampuan orang pintar lainnya.Disaksikan oleh Kenan dan Daffa yang hanya menahan tawa, atas kekonyolan dan ketidakterimaannya seorang Dzac terhadap kemampuan Ansel.
Tidak ada tanggapan yang Ansel berikan, anak itu hanya berdiam diri menatap layar datar dihadapannya. Sampai akhirnya sang daddynya tiba, untuk membawanya pergi dari sana. Sebelum mereka meninggalkan tempat tersebut, Ansel menghentikan langkahnya dan menatap Dzac.
" Otak tidak akan bisa berfikir, jika mulut terus-menerus mengeluarkan kalimat tidak berguna!" Setelah mengatakan hal tersebut, Ansel melanjutkan langkahnya.
Atas hal tersebut, Azzam hanya memberikan tanggapan dengan wajah sinisnya lalu pergi. Setelah sekian lama menahan tawanya, akhirnya hal itu meledak juga dari mulut Kenan dan Daffa.
" Hahaha... Hahaha"
" Bagaimana bisa kau dikalahkan dengan anak kecil, pisang! Hahaha" Kenan menghempaskan tubuhnya untuk melepaskan tawanya.
" Dinasehatin anak kecil, Heh!!! Malu aku malu, malu!!!" Daffa pun tak kalahnya ikut mengejek Dzac.
__ADS_1
Dengan mendengus kesal, Dzac mengamuk dengan mengejar kedua sahabatnya itu, mereka yang sudah kabur disaat melihat Dzac memberikan tatapan tajamnya.
" Awas kalian!!!"