BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 83


__ADS_3

" Bisakah kalian tidak berisik?"


Suara yang sangat merdu dan terdengar tidak asing. Membuat ketiga orang pria itu, sontak menolehkan pandangannya mencari sumber suara. Seketika saja, bola mata mereka melebar dengan sangat besar.


" Sayang!!!"


" Nona !!!"


Mereka bertiga spontan berlari untuk menghampiri sumber suara tersebut, seperti anak kecil yang sedang berebut balon. Lari kocar kacir, saling bertabrakan satu dengan lainnya. Bahkan seorang leader pun terlihat sangat kekanak-kanakan saat itu, hilanglah kharismanya sebagai seorang pemimpin dunia bawah maupun sebagai CEO.


" Hei!!! Jika satu langkah lagi kalian mendekati istriku, maka bersiap-siaplah menyiapkan makam kalian!" Azzam berteriak, menghentikan gerakan dan langkah dari kedua pria yang mencoba mendekati istrinya.


Glek!!!


Kenan dan Dzac menelan slavinanya dengan sangat kasar, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya, kekonyolan mereka terhenti. Karena nyawa keduanya masih sangat berharga, jiwa kekonyolan itu tidak akan hilang dimana pun ia berada. Dzac, ia masih mencuri-curi perhatian nonanya dengan melambaikan tangan dan tersenyum-senyum.


" Nona, aku padamu."


Ssrruutt!!!


Kenan menarik rambut Dzac dengan sangat kuay, hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Dan langsung saja, Kenan meneruskan tarikannya itu untuk membawa Dzac keluar dari ruangan tersebut. Jika tidak, habislah mereka.

__ADS_1


" Permisi tuan, nona. Kami ingin melihat Daffa dahulu". Kenan membungkukkan setangah badannya dan melanjutkan langkahnya keluar.


" Yiak! Sakit, sakit Kenan! Nona, aku senang dirimu telah sadar. " Dzac masih sempat berteriak disaat Kenan menarik dirinya.


......................


Rasa bahagia itu sangat terlihat jelas di wajah Azzam, mata itu tak henti-hentinya memandangi wanita yang begitu ia cintai dan ia sayangi terbagun dari tidurnya lamanya.


" Mas, jangan menanggis." Kiya membalas genggaman tangan suaminya dengan perlahan.


" Ah, mas sangat senang kamu sudah sadar sayang. Terima kasih sayang! " Azzam menyatukan keningnya kepada kening Kiya, ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu.


" Mas, seharusnya akulah yang harus berterima kasih padamu." Tangan mungil itu mencoba mengusap bahu si pria kekarnya.


Tak lama kemudian, dokter pun datang damg segera memeriksa keadaan Kiya. Melihat kondisi dan keadaannya yang sangat baik, dokter menganjurkan untuk melakukan USG. Dengan didampingi oleh sang suami, dan juga kedua orang yang juga begitu menyayangi Kiya yaitu Kenan dan Dzac. Mereka pun berjalan untuk segera ke ruang pemeriksaan USG, dalam perjalan kesana.


" Kiya!!!" Suara teriakan itu sangat membuat telingga sakit, itu adalah suara Gabriel. Ia segera menujur rumah sakit, disaat mendapat kabar jika sang adik telah sadar.


" Syukurlah kamu sudah sadar, kakak sangat senang!" Gabriel berlutut dihadapan kursi roda yang Kiya gunakan, ia pun memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat.


" Iya kak, alhamdulillah." Kiya tersenyum melihat sang kakak.

__ADS_1


Tak!!!


" Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!" Azzam sudah dalam mode bicinnya.


" Heh, aku kakaknya!" Gabriel dan mau kalah dengan Azzam.


" Kakak bertemu besar, sialan! Geser sana, istri dan babyku akan merasa gatal jika kau sentuh." Azzam mendorong tubuh Gabriel dengan pelan untuk bergeser dari tubuh istrinya, mereka pun berdebat satu sama lain.


Kiya hanya bisa menyaksikan, kedua pria yang ia sayangi dan cintai itu seperti anak-anak yang menginginkan mainan. Kenan dan Dzac pun dibuat geleng-geleng oleh tingkah kedua leader mereka itu, bahkan mereka tidak terlihat seperti seorang mafia jika sudah berurusan dengan nonanya.


" Heh, coba kau lihat mereka berdua. Ah, aku malu jadi anak buahnya. Bos tidak terlihat seperti biasanya, ah memalukan." Dzac berceloteh dengan menatap sinis ke arah Azzam dan Gabriel.


" Sudah, biarkan saja. Kau pun juga sama jika dihadapan nona, dasar tidak sadar diri." Perkataan Kenan pun membuat Dzac terkena mental. Dia pun menggaruk-garuk rambut kepalanya sendiri yang terlihat seperti banyak ketombenya, dan akhirnya membuat Dzac malu sendiri.


" Akh!..."


" Sayang!!!"


" Kiya!"


" Nona!"

__ADS_1


......................


__ADS_2