
Tak terasa, hari pun berlalu dengan sangat cepat. Persiapan pernikahan sudah sudah mencapai sembilan puluh lima persen, hanya tinggal menunggu pengucapan ijab kabul dari mempelai pria. Acara tersebut dilaksanakan Para MUA sedang sibuk untuk memberikan tugas mereka dengan sangat maksimal, hiasan yang elegan pada dekorasi sederhana. Semuanya itu adalah keinginan dari Kiya, tidak ingin menghambur-hamburkan uang untuk acaranya. Lebih baik berbagi dengan sesama, itu jauh lebih baik, ungkap Kiya.
" Wow, Kiya!!! Benarkah itu kau?! Luar biasa, kau terlihat sangat cantik!!" Teriakan dari sahabatnya Nabila.
" Benar!! Kiya, kau sangat cantik. Tapi, emang sehari-hari sudah cantik. Bagi dong sedikit, hehehe." Eci mentoel hidung Kiya.
" Hei! Kau ini, hiasannya bisa rusak, mau apa kena amukan si bos?!!" Ghina sudah memasang wajah garangnya, akibat ulah si pokemon.
Kiya merasa senang, dihari bahagianya ini. Teman dan sahabatnya bis ahadir menemaninya, teringat akan kedua orangtuanya yang ia inginkan dapat melihat hari bahagianya itu.
Ayah, Ibu. Hari ini, Kiya akan menikah. Kiya harap, kalian bisa melihatnya. Kiya mohon do'a dan restu dari kalian, Ayah. Kiya.
Air mata itu tak sengaka mengalir dikedua pelupuk mata Kiya, ketiga sahabatnya itu langsung khawatir. Mereka menghampiri Kiya, dan membantunya untuk menghapus air mata itu.
" Ki, ada apa?." Tanya Ghina.
Mengelengkan kepalanya, seakan berkata bahwa dia tidak apa-apa dan baik-baik saja. Namun hal itu tidak bisa dibohongi, mereka tau jika Kiya menahan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
" Jangan menanggis lagi, hiasannya bisa pudar. Cup cup cup." Nabila mencoba menenangkan Kiya.
__ADS_1
Akhirnya, Kiya tersenyum akibat dari ulah sahabatnya itu. Mempersiapkan diri untuk segera melepas status lajangnya untuk menjadi seorang istri, apalagi calon suaminya itu bukanlah orang yang sembarangan. Masih banyak PR yang ia harus kerjakan, tentunya itu akan ia laksanakan bersama dengan suaminya kelak.
......................
Di luar ruangan tempat Kiya berada, Azzam dan yang lainnya sudah berada pada tempat akan dilangsungkannya prosesi akad nikah. Akhirnya Azzam mengikuti agama dari sang calon istri dan tidak lagi agnostik.
" Jangan tegang begitu, membunuh saja kau terlihat sangat tenang, heh! Apa-apan ini, pucat. Hahaha." Gabriel sangat senang bisa meledek Azzam, karena memang saat ini statusnya juga akan lebih tinggi daripada Azzam, yaitu kakak ipar. Walaupun saat berada dalam kelompoknya, dia masih berstatus bawahan.
" Dasar dokter gila!" Azzam menyeringai dengan sangat tajam, tidak bisa dipungkiri jika dia memang sangat gugup untuk proses akad nikah. Sebentar lagi, ia akan menjadi seorang suami dan juga memiliki istri.
Gabriel hanya tersenyum renyah, suasana semakin sakral. Tiba saatnya sang penghulu mempersilahkan calon mempelai pria untuk bersiap-siap, karena acara akan segera dimulai. Dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Azzam mulai menggenggam tangan sang penghulu. Selaku wali hakim, karena sang Ayah mempelai wanita telah tiada dan pihak keluarga telah memberikan kuasa sang wali kepada penghulu. Semua yang berada disana sangat tegang dan menunggu momen sakral tersebut, begitupun dengan sang mempelai wanita. Sang penghulu mulai mengucapkan, dan sangat lancar Azzam mengucapkannya dengan satu tarikan nafas.
" Sah!!" Jawab Daffa dan Hanif, dan juga para tamu yang hadir ikut menjawab bersamaan.
Azzam sungguh merasa lega, begitupun dengan Kiya. Di dalam ruangan tersebut, tak henti-hentinya ia mengeluarkan air mata haru serta bahagia. Kini statusny sudah sebagai seorang istri dari Azzam Arsalaan, dan para sahabatnya pun ikut haru menanggis bahagia. Kini, sang mempelai pengantin wanita dipersilahkan untuk keluar dari ruangan dan bersanding dengan mempelai pria. Kiya berjalan perlahan di dampingi oleh para sahabat-sahabatnya, semua mata para tamu undangan terpana dengan kencantikan yang terpancar dari wajah pengantin wanita. Azzam pun tak dapat mengedipkan bola matanya, ia terpesona.
Saling menatap satu sama lain, kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Cincin pernikahan telah terpasang di kedua jari manis sang pengantin, berbagi proses sudah terlaksana dan acara akhir adalah memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Namun disela-sela para tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada pengantin, terjadilah hal yang tidak terduga.
Gguubbrraakk!!!
__ADS_1
" Aaaaa..." Ternyata Dzac terjatuh di hadapan pengantin.
" Kalian !!!" Azzam menatap tajam kepada Dzac.
" Tunggu bos, ini semua salah Kenan dan Daffa. Aku didorongnya bos! Salahkan mereka." Dzac membela diri, memang dasar usil kedua temannya itu.
Azzam menarik tangan Dzac dengan sangat kuat dan menahannya.
" Kalian jangan konyol, bersiaplah!" Azzam menekan dan mempertegas ucapannya.
Dzac memahami maksud dari perkataan bosnya saat itu, tak selang berapa lama. Dari arah depan pintu masuk, terjadilah kekacauan. Penyerangan oleh orang-orang yang menggunakan pakaian serba hitam, mereka mulai memasuki pesta itu.
Bbrraakk!!!
Dor...
Dor...
Dor...
__ADS_1