BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 95


__ADS_3

" Kiya! Kiya!" Teriak Gabriel disaat ia merasakan keanehan pada diri Kiya.


Azzam yang kaget dengan sikap Gabriel yang tiba-tiba, lalu ia pun menangkap hal yang janggal tersebut.


" Sayang, sayang! Sadarlah!" Azzam menarik tubuh mungil itu untuk semakin erat dalam pelukannya.


Hal yang janggal tersebut adalah, disaat mata Kiya tetap terbuka. Namun tidak ada respon apapun yang diberikan oleh mata tersebut, apakah berkedip atau kelopak matanya bergerak. Tangan mungil itu pun tidak lagi menggenggam tangan kekar milik Azzam, hal itu semakin membuat mereka menjadi panik.


Tepat, saat mobil itu telah tiba di rumah sakit. Azzam segera membawa tubuh Kiya menuju ruang tindakan, Gabriel pun bersiap untuk membantu proses tindakan. Azzam dan Dzac menunggu dari luar ruangan, berjalan bolak-balik seperti setrikaan yang sedang digunakan.


Terlihat perawat serta dokter yang keluar dan masuk ke dalam ruangan tersebut, hal itu membuat perasaa Azzam semakin khawatir. Tak berapa lama kemudian, terlihat Gabriel yang keluar menghampiri Azzam dengan tergesa-gesa.


" Gab, bagaimana keadaan istri dan anak-anakku!!" Tanya Azzam dengan nada suara yang begitu cemas.


" Anak-anakmu harus segera dilahirkan, keadaan Kiya semakin menurun. Ikuti prosedur medis, biar aku yang menghandle di dalam. Jangan kau lupakan, berdo'alah kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan mereka." Gabriel menepuk pundak Azzam dan kemudian ia kembali masuk ke dalam ruangan tindakan.

__ADS_1


Bagaikan raga yang kehilangan jiwanya, Azzam menjadi ambruk. Jatuh ke lantai, Dzac segera menahan tubuh bosnya dan mengarahkannya untuk duduk di kursi yang ada. Dzac sangat memahami kondisidan keadaan bosnya saat itu, namun ia memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Dzac tidak ingin, mulutnya yang sangat lemes itu menambah buruknya keadaan.


Seorang perawat menghampiri mereka dengan sedikit bergetar karena merasa takut melihat Azzam dan Dzac, lalu perawat itu menyerahkan beberapa syarat untuk dilakukannya tindakan kepada Dzac, karena saat itu Azzam hanya diam dan pandangannya hanya tertuju menatap lantai. Perkataan Gabriel kembali tergiang di telinga Azzam, walaupun ia dan Gabriel memiliki kekuasaan. Sungguh tidak ironisnya jika hal itu digunakan untuk kepentingan pribadi, Dzac mendekati dan memberikan berkas tersebut kepada bosnya. Azzam akhirnya menyetujui prosedur medis tersebut.


" Tuan, lebih baik mengobati luka anda dulu dan membersihkan diri." Dzac melihat bosnya dengan kondisi pakaian yang penuh dengan bercak darah, dan juga luka pada pahanya yang masih mengeluarkan darah.


Bukannya menjawab, Azzam malah memberikan tatapan tajamnya kepada Dzac. Dengan artian, jika dirinya tidak ingin diganggu.


" Nona akan sangat sedih melihat anda seperti ini, tuan." Dzac menggunakan nama Kiya agar bosnya itu bisa menuruti saran yang ia berikan.


" Tuan, luka anda lebih baik untuk diobati terlebih dahulu. Jika anda dalam keadaan seperti ini, anda tidak di izinkan untuk berada di sisi nona!" Daffa sedikit menaikkan nada bicaranya, karena ia merasa akan sia-sia jika saat ini menuruti sikap bosnya.


Azzam pun kembali mengabaikan perkataan Daffa kepadanya, mereka pun kehabisan kata-kata untuk membujuk bosnya. Daffa pun berlalu, ia harus memastikan keadaan Rayyan. Dzac dan Kenan juga merasakan kecemasan yang begitu besar terhadapan keselamatan nona mereka, Kenan sebelumnya menemukan keberadaan Bik Ipah dengan kondisi tak sadarkan diri. Menugaskan seorang pengawal agar membawanya untuk mendapatkan penaganan medis.


......................

__ADS_1


Matanya hanya bisa menatapi seseorang yang berada dihadapannya, ingin rasanya ia memeluk dan merangkul tubuhnya kedalam pelukannya. Namun, hal itu tidak ia lakukan.


" Kau sungguh begitu bodoh, bahkan nyawamu sendiri sudah tidak berharga lagi. Kegilaanmu ini yang sudah membawa dirimu menjadi manusia paling tidak berguna di dunia ini, Ardhan. Aku tidak bisa membelamu dari dia, kesalahanmu sendiri yang membawa kehancuran untuk kehidupanmu." Andrian sangat menyesali perbuatan dan sikap sang adik.


" A a ku sa ngat puas, ha ha ha. Wanita itu akan mati, dan aku akan menemaninya. Dia terlalu sempurna untuk manusia hina itu." Dengan terbata-bata dan kondisinya pun sangat miris, Ardhan masih bisa menghina Azzam dengan mulutnya.


" Terserah kau saja, aku tidak bisa menghalangimu. Jiwaku sebagai seorang kakak sudah kulaksanakan, namun itu gagal. Dan sekarang, jiwaku mengikuti permainanmu sebagai pemain dunia bawah. Maka dari itu, terima dan jalanilah hukumanmu ini." Andrian begitu menyayangi Ardhan sebagai seorang adik, namun tidak untuk perbuatannya.


" Heh, kau kakak yang sangat buruk. Aku sungguh menyesal mempunyai seorang kakak seperti kau!" Ucap Ardhan dengan begitu meremehkan.


" Diam!! Jangan kau anggap aku sebagai seorang kakak, dan mana wanita yang selama ini kau bangga-banggakan?!! Semoga dia juga akan bernasib yang sama denganmu!!" Sungguh Andrian sudah tidak bisa menahan gejolak amarahnya, ia memilih meninggalkan Ardhan yang sekarat.


" Bi anca, heh! Wanita tidak berguna, aaakkhh!!" Ardhan merasakan jika nyawanya sudah akan hilang.


Seorang pengawal yang sudah mendapatkan intruksi dari bos mereka, ia dengan perlahan mendekati Ardhan. Manatapnya dengan penuh kebencian, tanpa berfikir lama. Orang tersebut menembak kepala Ardhan dengan jarak yang begitu dekat, lalu terdengarlah suara letusan dari senjata tersebut sebanyak dua kali. Ardhan tewas!!

__ADS_1


__ADS_2