
Dengan pelan, Kiya melihat dan mendengar dari balik pintu tersebut.
" Tu tuan!" Suara Daffa terdengan terbata-bata.
" Aaarrghhh! Dasar ja***ang, kau menjebakku, hah!!" Azzam yang saat itu hanya mengenakan handuk pada bagian bawah tubuhnya, terlihat sangat murka.
" A a ku tidak menjebakmu, kau sendiri yang menarikku dan membawa kesini. Sampai, hal itu terjadi." Terdengar suara seorang wanita yang dengan terisaknya mencoba membela diri.
" Diam!!! Jika tidak, akan kubunuh kau!!." Teriak Azzam dengan memberi tekanan pada kepala wanita tersebut menggunakan sebuah pistol.
Kiya tidak bisa melihat, siapa wanita tersebut. Karena tertutupi oleh tubuh Azzam yang berada didalam sana, mereka terus berdebat satu sama lain. Hingga terdengar kalimat, yang membuat jantung Kiya seakan berhenti berdetak.
" Tapi, tapi anda sudah menggambil kesucian saya. Anda memyerang saya dengan sangat buas, seperti singa." Wanita itu berbicara dengan lantang.
" Diam kau, Mau mati, hah!." Azzam semakin berteriak dan tanpa menunggu lama, suara letusan dari pistol tersebut terdengar.
Dor
Dor
Wanita itu tewas seketika, dengan dua tembakan yang mengenai organ vitalnya. Tubuh Kiya terpaku, terdiam dan terperanggah. Air mata itu kembali menetes, namun kali ini dengan sangat deras. Seakan-akan yang ia lihat, tidak benar-benar nyata. Tanpa sengaja, kaki Kiya menyenggol sebuah tempat pembuangan sampat yang terletak dibelakang kakinya.
Ttrraang!!!
__ADS_1
Azzam dan Daffa sangat kaget dengan suara tersebut, Daffa segera melihatnya.
" Nona!!" Daffa sangat tidak percaya dengan kehadiran Kiya disana, walaupun ia menggunakan masker.
" Ka ka lian." Kiya langsung berlari dari sana, langkah kakinya terasa sangat lemah.
Disaat Daffa akan mengejar Kiya, terdengar suara Azzam yang memanggilnya dengan suara yang sangat keras. Hingga ia melepaskan kepergian Kiya, kembali menuju kamar tersebut.
" Siapa?!!" Tanya Azzam dengan suara yang terdengar menyeramkan.
Daffa tampak ragu untuk mengatakan sebenarnya, jika ia melihat Kiya. Berputar dengan pemikiran sendiri, Daffa dapat menebak jika Kiya melihat apa yang terjadi sebelumnya.
" Hei, sudah bosan hidup kau, hah!! " bentakkan dari Azzam menyadarkan Daffa.
" Nona tuan, nona Kiya." sambil menunduk, Daffa menjelaskan.
" Selidiki hal ini, dan hari ini juga. Aku terima laporannya, jika tidak. Nyawa kalian yang aku lenyapkan!!" penegasan kata tersebut, membuat Daffa merinding.
Azzam pergi dengan sangat terburu-buru, berusaha mengejar dan mencari keberadaan Kiya.
Hadeh, bos yang nikmatin. Gue lagi yang nyelesain, dasar wanita bodoh. Nyawa sendiri diserahin sama petugas pencabut nyawa, semoga saja nona Kiya tidak benar-benar melihat hal tadi. Bakal runyam jadinya. Daffa.
......................
__ADS_1
Kiya berlari dengan tak tentu arah, dengan berlinangan air mata yang membasahi wajahnya. Bagaimana tidak kaget, melihat calon suami sendiri sedang terlibat skandal dan membunuh seseorang didepan matanya.
Ya Rabb, kenapa hal ini terjadi padaku. Kenapa?? Kiya.
Kiya memukul dadanya yang semakin terasa sesak untuk bernafas, akibat dari ia menanggis. Tak sanggup untuk berlari lagi, ia memilih untuk bersembunyi dibalik tanaman yang berada di bahu jalan, sangat miris hidupnya. Sudah mempercayai seorang pembohong yang sangat pintar, ia mencoba menghubungi Gabriel. Yang ia anggap bisa menenangkannya. Namun disaat ia akan menghubunginya, terdengar suara langkah kaki yang sangat keras. Ia mengurungkan niatnya untuk menelfon dan mematikan ponselnya.
" Hah, hah. Sayang! Kiya! Kiya." Ternyata Azzam yang berada disana, hal itu semakin membuat Kiya takut. Azzam memanggil namanya dengan sangat keras.
Merasa kehilangan jejak Kiya, Azzam menghubungi Kenan dan Dzac. Agar mereka melacak keberadaan Kiya saat ini, dan disaat Azzam menelfon kembali.
" Gab, kau tau dimana Kiya?" Tanya Azzam.
" Eh, kan lu calon suaminya. Masa nanya sama gue." Gabriel merasakan hal yang tidak beres telah terjadi.
" Bantu gue cari Kiya, Kiya kabur saat liat gue dijebak dengan ja***ang sialan itu. Apalagi gue menembaknya dan membunuhnya, gue yakin Kiya melihatnya Gab." Jelas Azzam kepada Gabriel.
" What?? Gila lu ya, ceroboh bener hidup lu. Sekarang adik gue dimana? Jangan sampai ada apa-apa dengannya, bakal gue habisi lu. Dasar iblis." bentak Gabriel yang mendengar hal tersebut.
" Heh, gue juga nggak yakin jika dia tau. Kalu lu itu sama saja kayak gue, mafia berkedok dokter, heh!! Kabarin gue jika lu tau Kiya dimana." Azzam memutuskan pembicaraan mereka.
Jeeddaarr!!!
Bagaikan tersambar petir dengan sangat hebat, Kiya semakin tidak menyangka jika orang yang ia anggap sebagai kakak ternyata seorang pembunuh berdarah dingin juga. Sudah pupus semua harapan Kiya, hidupnya terasa sangat hancur.
__ADS_1
Merasa keadaan disana sudah aman, Kiya perlahan beranjak dari sana dan meninggalkan tempat tersebut. Pulang kerumah, pria itu akan berada disana. Pikiran Kiya sudah sangat kacau. Berjalan tak tentu arah, hingga membawanya ke sebuah taman kota yang saat itu ramai sekali dengan para pengunjung.
" Kak Kiya! Kak, kak Kiya!!!" Suara itu memanggil namanya, membuat Kiya sontak menoleh ke arah suara tersebut.