BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 104


__ADS_3

" Tuan, jaringan kita sudah pulih kembali. Namun ada sesuatu yang aneh, jaringan kita diperkuat oleh sebuah ID yang sebelumnya membantu jaringan kita untuk melakukan perlawanan dari virus. Tapi, ID tersebut sulit untuk saya akses tuan." Dzac meracau dengan begitu tenang, menjelaskan apa yang terjadi.


" Tetap kau lacak ID tersebut, jangan sampai hal itu membuat kekacauan dan menjadi bumerang untuk kita nantinya." Azzam tidak ingin membuat kehancuran dirinya sendiri.


" Baik tuan. Tuan, apakah keadaan nona baik-baik saja?" Dzac masih mengkhawatirkan nona kesayangannya.


" ya, istriku baik-baik saja." Jawab Azzam dengan nada ketus.


" Em, tuan. Lebih baik kita membereskan nona Bianca secepatnya, saya takut jika keamanan nona menjadi terancam." Dengan ragu-ragu, Dzac mengatakan hal tersebut.


Dengan diamnya, Azzam telah memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk menjaga keamanan keluarganya. Tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, karena nyawa adalah taruhannya.


" Jalankan saja tugasmu dengan baik dan tidak mengacaukan yang lainnya." Pembicaraan itupun terputus.


Dengan mata tertutup dan duduk pada kurai kerjanya. Jemari tangan tersebut bergerak memijit kening yang sedikit berdenyut, pikiran Azzam perlahan-lahan mencari cara bagaimana iya harus melindungi keluarganya.


" Mas." Suara itu membuyarkan semua pikiran Azzam, membuat matanya terbuka dan menatap sang sumber suara.


" Sayang, tidak istirahat?!" Menyambut kehadiran istri tercinta dan mengajaknya untuk duduk bersama pada sofa yang berada diruangan tersebut.


" Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu mas."


" Apa itu?" Pikiran Azzam pun berkelana.

__ADS_1


" Ansel, sepertinya dia sedang berada pada zona yang tidak nyaman untuk saat ini mas."


" Hem, zona tidak nyaman Bagaimana?"


" Huh, dia mendapat penggemar terlalu banyak yang hampir selalu membuatnya tidak nyaman di sekolah. " Kiya menatap Azzam dengan begitu resah.


" Hahaha, penggemar? Itu menandakan jika anak kita sangat tampan, bukan. Siapa dulu dong daddynya." Dengan nada sangat percaya diri, Azzam membanggakannya.


Plak!!


" Mas!!" Dengan nada sedikit kesal, Kiya mendaratkan sebuah pukulan pada lengan Azzam.


" Loh, kenapa mas dipukul? Kan sakit, yang." Dengan memasang wajah sedikit sedih, Azzam mencari perhatian Kiya.


Mendapati penyataan yang Kiya sampaikan, membuat Azzam sangat berfikir keras untuk menenangkannya. Apa yang Kiya katakan, memang benar adanya. Lalu Azzam menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


" Jangan menanggis, sayang. Tenanglah, biar nanti kita ajak twins untuk membahas hal ini. " Mendengar sang suami berkata seperti itu, Kiya pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika ia menyetujui hal tersebut.


......................


" Gimana bang, sudah selesai belum? Nanti ketahuan sama guru nih, ah lama sekali." Arick menggerutu menunggu Ansel yang masih asik berhadapan dengan komputer sekolahnya.


" Cerewet!" Ansel menjawab Arick dengan nada yang begitu kesal.

__ADS_1


Saat sedang mengikuti pelajaran komputer, Ansel yang memang secara diam-diam sudah menjadi seorang hacker, membuka jaringan sang daddy. Ketika itu, ia menemukan jika jaringan daddynya sedang diserang oleh virus yang begitu kuat. Ia pun segera membantu dengan berpura-pura mengerjakan pekerjaan sekolah, agar bisa menggunakan komputernya.


" Selesai." Ansel membersihkan jejaknya agar tidak bisa diketahui oleh orang lain, terkecuali Arick.


" Aih, lama kali kau bang." Arick terus-terus menggerutu.


" Diamlah, berisik." Ansel masih dalam sifat dinginnya.


" Heh, dasar kulkas kua bang. Jika daddy mengetahui hal ini, habislah kau. Apalagi mommy, bisa-bisa dia mengomelimu sepanjang hari." Arick menaikkan sudut bibirnya.


Tak!!!


" Mereka tidak akan mengetahinya, jika mulutmu tidak berbicara."


" Kau!"


Arick keluar ruangan dengan penuh kekesalan, saat berada diluar pintu. Ia melihat beberapa wali murid yang menunggu untuk melihat Ansel, dan seorang murid perempuan yang menyukai abangnya. Dengan usilnya, Arick memulai aksinya.


" Bang, cepetan. Itu ada pengawas mau lewat sini, ayo buruan." Dengan tawa yang renyah, Arick pun berlalu.


Ansel pun segera membereskan perlengkapannya, saat ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.


" Arick!!!"

__ADS_1


__ADS_2