BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 93


__ADS_3

Argh!!!


Suara itu. Azzam.


Suara yang begitu sangat ia kenali, dengan cepat Azzam berlari menuju sumber suara yang ia dengar.


" Kiya!! Kiya! Kamu dimana? Kiya!!!" Azzam terua berteriak memanggil nama sang istri.


Sedangkan saat itu, Kiya sudah tidak bisa fokus untuk mendengarkan. Karena rasa sakit yang ada, membuatnya hanya berusaha untuk menahannya.


Tak berapa lama kemudian, Azzam menemukan apa yang ia cari. Sangat begitu miris melihatnya, dan seketika itu juga kemurkaannya menjadikan dia sebagai leader yang sesunguhnya.


" Ardhan!!!"


Teriakan itu sangat kuat, hingga membuat semua orang yang berada disana menjadi kaget dan terkejut melihat siapa yang datang. Ardhan berhenti dari langkahnya yang menyeret tangan Kiya dengan sangat kasar, namun bukannya ia takut. Hal itu semakin membuatnya gila dan gelap mata, begitu cepatnya ia merubah posisinya saat itu untuk langsung berada dibalik tubuh Kiya.


" Selamat datang saudaraku, kenapa? Kau pasti sangat merindukan istri cantikmu ini, bukan?!" Lengan Ardhan kini berada di depat leher Kiya, lengan itu sangat erat mengikat lehernya hingga Kiya sangat kesulitan untuk bernafas.


" Akh, aargh! Le lepas." Kiya berusaha melepaskan lengan itu dari lehernya.


" Lepaskan tanganmu dari istriku!!!" Azzam kembali berteriak.


Dengan satu gerakan tangan dari Ardhan, anak buahnya segera mengepung Azzam dengan sangat ketat. Hal ini membuat Azzam menggeretakkan rahangnya dengan sangat keras, menatap Ardhan dengan penuh kebencian.


" Jika kau menyakiti istriku, akan kebunuh kau!" Ancaman yang Azzam berikan, agar Ardhan tidak menyakiti Kiya.

__ADS_1


Kiya yang melihat Azzam saat itu, perasaannya sangat gembira. Walaupun ketika itu, ia dan anak-anaknya sedang pertaruhkan nyawanya.


" Emmm, mmhh." Kiya ingin sekali memanggil dan memberi tahukan suaminya jika saat itu perutnya sangat sakit sekali, namun hal itu percuma saja. Karena tangan Ardhan telah membekapnya.


" Serang dia!!" Ardhan memberik perintah kepada anak buahnya untuk menghabisi Azzam.


Serangan itu bertubi-tubi datang menghampiri Azzam, dengan kemampuan beladirinya. Azzam dengan cepat, dapat menakhlukkan orang-orang suruhan dari Ardhan. Namun disaat ia lengah, sebuah senjata tajam menancap pada bahu kirinya. Bukannya berteriak kesakitan, Azzam hanya terdiam dengan mengatur nafasnya agar stabil kembali.


" M ma s!" Suara Kiya sangat lirih.


Setelah mendengar suara tersebut, Azzam langsung memberikan balasannya. Gerakan lincah dan kekuatan yang cukup kuat, Azzam memberikan tendangan dari kakinya. Hingga orang tersebut melayang terbang mundur ke arah belakang, Azzam mengejarnya dan memutar kepalanya dengan satu kali putaran. Suara patahan tulang terdengar sangat keras, orang itu tewas seketika.


" Dan sekarang, kau tidak akan aku biarkan hidup. Sudah cukup, selama ini kau kubiarkan hidup, Ardhan!!!" Azzam mengerang dengan bergerak menuju sasarannya.


Ardhan semakin tertantang jiwa pshicopatnya, tanpa meletakkan rasa kasihan. Ia menancapkan sebuah pisau kecil, tepat di atas dada kiri Kiya. Dengan satu kali gerakan, pisau tersebut sudah mendarat dengan mulusnya.


" Kiya!!!" Azzam semakin menggila.


Tanpa memikirkan yang lainnya, Azzam menerobos aksi Ardhan dengan melesatkan sebuah pukulan telak pada kepalanya.


Bugh!


Bugh!


Lengan yang menghimpit leher Kiya itu terlepas, dengan mudahnya tubuh Ardhan bergeser terkena tarikan dari Azzam. Lalu Azzam kembali menyerangnya dengan mengambil pisau yang Ardhan gunakan untuk menyiksa Kiya.

__ADS_1


" Saatnya nyawa ini, aku lenyapkan!" Azzam menghunuskan pisau tersebut, tepat pada salah satu bola mata Ardhan.


Crash!


" Aakkhh! Kau tidak akan bisa membunuhku, kau lemah. Hahaha" Dengan keadaan seperti itu, Ardhan masih bisa tertawa.


Azzam semakin marah dengan perkataan dari Ardhan, lalu ia berdiri dan menarik tubuh Ardhan dan mengangkatnya. Tubuh itu kemudian dihempaskan dengan tulang punggung Ardhan membentur tulang tempurung lutut milik Azzam, dan ia pun terjatuh ke lantai.


Brakh!!!


" Ugh! ugh eh eh." Seketika cairan berwarna merah keluar dari mulut Ardhan dengan begitu banyaknya, menandakan jika terdapat tulang rusuk yang patah.


Tanpa Azzam sadari, tangan Ardhan meraih pisau kecil yang berada di dekatnya. Dan begitu cepatnya, pisau tersebut menancap pada salah satu paha Azzam.


" KAU!!" mata Azzam dengan tajamnya memberikan tatapan itu kepada Ardhan.


Tangan kekar Azzam menarik pisau kecil dari pahanya dan menghunuskannya ke perut Ardhan, lalu ia menarik pisau tersebut. Terdengar dengan begitu jelasnya, jika perut Ardhan robek, bahkan Azzam ingin menancapkan kembali pisau tersebut pada bagian tubuh lainnya.


" M mas, argh! Sa kit!!" Pekik Kiya dengan suara yang sangat miris.


" Kiya." Azzam tersadar dari jiwa pembunuhnya.


Tak


Tak

__ADS_1


Tak


__ADS_2