BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 121


__ADS_3

Dengan sangat cepat Gabriel dan Azzam memindahkan perawatan Kiya dari rumah sakit menjadi perawatan dirumah utama milik Azzam. Hal tersebut membuat semua penghuni rumah utama menjadi kaget dan sangat khawatir dengan keadaan nona mereka. Namun semuanya berubah menjadi semakin dingin dan mence, ketika kedua putera kembar mereka pulang dari sekolah.


Brak!!!


Pintu utama terbuka dengan kasar oleh kepulangan si kembar, Ansel dan Arick segera berlarian memasuki rumah utama dan berlari menuju kamar sang mommy.


" Mommy!! Mommy!!" Teriak Ansel dan Arick bersamaan, namun mereka tidak bisa memasuki kamar Kiya.


" Paman, kenapa kami tidak boleh masuk?! Buka pintunya paman!" Arick sembari memasang muka marah kepada pengawal yang menjaga didepan pintu kamar Kiya.


" Maaf tuan muda, kami hanya menjalankan perintah." Jawab pengawal tersebut.


" Iihh, ini kamar mommy Arick! Kenapa nggak boleh masuk? Mommy, mommy, ini Arick mom. Arick mau masuk!" Suara teriakan itu semakin keras terdengar.


Sedangkan Ansel, ia masih dalam mode dinginnya. Seperti pepatah, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Tak disadari, Ansel meninju dan memukul kepala kedua pengawal tersebut dengan begitu kerasnya, hingga membuat kedua pengawal tersebut meringkuk kesakitan.

__ADS_1


" Akh!"


" Makanya paman, jangan membuat kami marah ya. Ayo bang, kita masuk. Wuek!" Arick dengan gaya penuh kemenangan, ia menjulurkan lidahnya untuk meledek kedua pengawal tersebut.


Ansel langsung saja membuka pintu kamar sang mommy, tanpa menghiraukan apa yang terjadi akibat dari ulahnya. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat sang mommy dengan beberapa alat medis terpasang pada tubuhnya.


" Mommy! Mommy kenapa? Uuuhuu, mommy." Arick langsung menanggis.


Gabriel yang saat itu berada disana, sangat kaget dengan kedatangan si kembar. Tapi tidak untuk Azzam, ia bisa menebak siapa yang telah mengalahkan kedua pengawal diluar.


" Hei, jangan berisik. Mommy kalian sedang beristirahat, bukannya unclenya dipeluk. Tapi malah dikacangin." Gerutu Gabriel melihat si kembar yang sudah besar, disaat ia bersembunyi, mereka masih merah dan begitu mungilnya.


" Ansel, Arick. Salim dulu unclenya, tidak baik mengacuhkan orang tua." Azzam sedikit menahan tawanya terhadap kejadian tersebut.


" No, no daddy. Kita tidak boleh sok kenal dengan orang asing, nanti kena culik. Benarkan dadd?" Arick menyampaikan isi hatinya.

__ADS_1


" Hahaha, kalian benar-benar mengingat itu boy. Jangan takut, dia adalah saudara dari mommy. Yang sudah capek bersembunyi dan ingin bergabung lagi dengan manusia." Dengan penuh kepuasan, Azzam mengejek Gabriel yang sudah memasang wajah masam.


" Kau!!" Gabriel mengerang kepada Azzam.


" Kami ingin melihat mommy dad, bukan malah ribut dengan hal kecil ini." Ansel mendekati pinggiran tempat tidur Kiya, dengan memengang tangan sang mommy.


Gila! Ni anak seperti nggak ada takut-takutnya, Kiya Kiya. Anakmu bukan kembar dua, tapi tiga. Bapaknya bener ni anak. Gabriel.


Arick pun mengikuti apa yang abangnya lakukan, Azzam menjelaskan kondisi dari Kiya kepada kedua putera kembarnya. Tapi tidak dengan kejadian yang terjadi, ia tidak ingin membangkitkan sisi lain yang dimiliki puteranya.


......................


Rencananya yang gagal, membuat Bianca harus segera bersembunyi dari kejaran para anggota kelompok yang Azzam pimpin, mereka terus memburu keberadaan dirinya. Hal ini membuat Bianca begitu resah, dengan segera ia menghubungi Hendra untuk meminta bantuan, namun naasnya. Marsya yang sudah mengetahui hal tersebut, semakin membuat posisi Bianca terpojokkan.


" Kali kau akan mampus, wahai wanita penghianat! Azzam tidak akan melepaskanmu, dasar bodoh. Hahaha!" Marsya dengan senyuman penuh kemenangan.

__ADS_1


" Jangan ikut campur!" Begitu emosinya, Bianca langsung menyerang Marsya yang saat itu mengejeknnya.


Terjadi aksi serang menyerang diantara kedua wanita yang penuh ambisi itu, sungguh mereka telah dibutakan oleh obsesinya terhadap Azzam. Hendra yang saat itu telah tiba ditempat persembunyian mereka, ia masih menikmati pemandangan dari kedua wanita tersebut yang masih asik bertengkar. Dan disaat ia sudah merasa jengah, ia pun memberikan kejutan untuk kedua wanita itu.


__ADS_2