BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 41


__ADS_3

" Tuan berhenti!!!" Teriak Ghina dan Daffa bersamaan.


Disaat tangan Azzam akan memukul kembali, betapa terkejutnya dia melihat Kiya sudah jatuh tersungkur ke lantai. Hal itu sontak saja membuat Azzam menghentikan tindakannya, dengan langkah kakinya mundur seketika. Kiya yang saat itu menghalangi Andrian dari pukulan Azzam, pukulan tersebut mengenai bahu kirinya dan juga kepalanya pada bagian belakang.


" Kiya, kamu nggak apa-apa kan?" Ghina menghampiri Kiya dan memapahnya untuk berada dalam posisi duduk.


Andrian pun menghampiri Kiya, bagaimana pun juga. Kiya sudah berusaha menolongnya dari amukan manusia kejam seperti Azzam.


" Nona, anda tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?!" Andrian merasa khawatir dengan keadaan Kiya, wanita itu tidak menanggis ataupun berkeluh kesah. Hanya meringgis serta tangannya memegang bahu kirinya, begitu pula dengan Azzam.


Namun Azzam teringat akan ketakutan Kiya terhadap dirinya, ingin rasanya ia memeluk tubuh kecil Kiya yang saat itu meringgis kesakitan. Rasa bersalah itu semakin besar, melihat wanita yang dia cintai terluka karena dirinya.


" M mbak, to long ban tu ber diri." Kiya menggenggam tangan Ghina dengan erat, Matanya masih sesekali terpejam.


" E iya Ki, ayok!" Ghina perlahan membantu Kiya untuk berdiri.


" Tunggu nona!" Andrian merasa tak tega kepada Kiya.


" Saya baik-baik saja tuan." Kiya kembali melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangannya.


Melihat Andrian yang memberikan perhatiannya kepada Kiya, membuat aliran darah pada tubuh Azzam seakan mendidih. Ia lupa, jika Kiya masih membencinya.


" Kau! Jangan sok perhatian, hah!" Azzam mencengkram tangan Andrian dengan kuat, membuat Andrian meringgis.

__ADS_1


" Aakkhh!! Sakit, ada apa dengan kau Zam?" Andrian menghempaskan tangan Azzam.


Lalu mereka berdua kembali bertikai, tapi bukan main fisik. Melainkan beradu mulut, entah apa yang ada dalam pikiran kedua pria tersebut hingga seperti itu.


" Sebentar mbak!" Kiya menghentikan langkahnya, membuat Ghina menjadi bingung.


" Apa kalian tidak malu bertikai seperti itu dihadapan kami? saya tidak apa-apa tuan. Do'akan saja saya tidak sekarat terkena pukulan dari orang ini." Kiya berjalan kembali meninggalkan dua pria yang masih terdiam.


Azzam semakin menggila, perasaan yang ia tahan dalam beberapa waktu membuatnya tak terkendali.


" Lebih baik, kau angkat kaki dari sini. Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi bekerjasama denganmu!" Azzam merapikan pakaiannya yang sesikit berantakan.


" Hei, tunggu! Kenapa kau selalu membenciku, Zam? " Andrian merasa ingin tau apa yang menjadi penyebab kebencian Azzam kepadanya.


" Maaf tuan Andrian, lebih baik anda meninggalkan tempat ini. Jika anda masih menyanyangi nyawa anda, silahkan!" Daffa memberikan jalan, agar Andrian mengerti.


Azzam masih terdiam dan berdiri ditempatnya, dengan sedikit paksaan dari Daffa. Akhirnya Andrian meninggalkan perushaan mereka, walaupun ia masih mempunyai pertanyaan besar. Mengapa saudaranya itu sangat tidak menyukai dan membencinya.


" Aku akan mencari tau apa yang menyebabkanmu sangat membenciku Zam?" Andrian berceloteh didalam mobilnya.


......................


" Ki, bener ni nggak apa-apa? Mbak rasanya Ngilu banget Ki ngeliat bos seperti itu, pak Andrian saja sampai bonyok gitu." Ghina memperhatikan Kiya yang seperti biasanya, tidak menampakkan rasa sakit.

__ADS_1


" Bener kok mbak, nggak apa-apa. Senut-senut aja, hehehe. Ternyata, sakit juga ya kena tonjok." Kiya masih sempatnya bercanda.


" Kiya, kiya. Gemes banget mbak sama kamu, mana ada rasa manis kena tonjok. Ada-ada saja kamu ini, ya udah. Kamu istirahat saja dulu, kita makan disini saja ya. Pesan online, biar aman. Tuh! Macanmu masih berdiri didepan ruangan." Ghina memberikan arah pada Kiya untuk melihat.


Ya Tuhan, kenapa juga masih ada disana. Buat orang takut saja, rasanya pengen aku pukul tu kepalanya. Dikit-dikit emosi terus, dasar pembohong. Kiya.


" Biarin saja mbak, lagian juga ini kan kantor punya dia. Macan apanya, sama kelinci saja takut." Kiya mendengus kesal.


" Kelinci? Kelinci apaan Ki?" Ghina menjadi heran.


" Aku kan lucu mbak, kayak kelinci." Kiya sekarang tidak sepolos dan selugu sebelumnya. Ia merasa, butuh menunjukkan taringnya kepada si kejam.


" Em mm, hahaha. Kiya, Kiya. Macan takut sama kelinci? Boleh juga tu, eh. Berarti kamu??." Ghina sangat surprise.


" Ssstthhh! Mbak ini, Aku hanya ingin berdamai dengan masalah ini mbak. Benar apa kata kalian, dia melakukan hal tersebut. Pasti ada alasan yang sangat kuat, tapi. Jangan bilang, kalau aku akan takut lagi sama dia. Tapi nyatanya, masih suka gemetaran ni kaki." Kiya bercerita kepada Ghina.


" Baguslah! Mbak senang mendengarnya Ki, kasihan juga tu bos kamu anggurin. Taringnya semakin tajam, hahaha." Ghina sudah tidak daptat menahan tawanya.


" Tapi, jangan dibocorin dulu ya mbak. Aku mau lihat, bagaimana mas Azzam berubah. Sebenarnya, mbak juga harus aku marahin. Karena nggak pernah bilang kalau dia seperti itu." Kiya kembali memasang muka juteknya pada Ghina.


" Eleh eleh kelinci manis ini mau ngambek." Tangan Ghina mentoel-toel pipi Kiya yang kenyal.


Dari balik ruangan tersebut, Azzam masih dengan setianya berdiri memandangi ruangan dimana Kiya berada.

__ADS_1


__ADS_2