BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 58


__ADS_3

Memenuhi tugasnya sebagai seorang istri, kini Kiya sedang berada di dapur bersama bik Ipah. Mereka sedang memasak menu makan malam, dengan asik mereka bergurau hingga masakan itu telah hampir selesai.


" Non, bagaimana rasanya, sudah pas?" tanya Ipah kepada Kiya.


Kiya pun mencicipi rasa dari masakan yang mereka masak, perlahan-lahan masakan itu ia rasakan.



" Ehm, siip bik. Masakan bibik top markotop, hehehe." Kiya memuji Ipah atas masakan yang mereka buat.


" Nona, nona. Buat bibik malu saja, itukan nona yang masak. Bibik hanya bantuin, tuan memang nggak salah pilih." Ipah tak sengaja mencubit pipi Kiya, karena merasa sangat gemas dengannya.


" Auw.. " Jerit Kiya kaget.


" Aduh, aduh non maaf. Bibik kelepasan, maaf non." Ipah Merasa sangat bersalah, dengan melihat Kiya meringis karena ulahnya.


" Nggak apa-apa bik, Kiya hanya kaget saja. Yuk, kita tata makanannya di atas meja." Kiya memeluk Ipah, agar ia tidak merasa bersalah terus menerus.


Setelah selesai dengan masakannya, Kiya pamit kepada Ipah untuk membersihkan diri sebelum suaminya itu pulang. Saat berada di dalam kamar, Kiya melihat ponselnya berdering.


" Assalamu'alaikum Nek." Ternyata yang menelfon adalah Ambar, sang nenek.


" Wa'alaikumussalam. Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Ambar.


" Alhamdulillah baik nek, nenek juga apa kabar? apa kak Gab membuat ulah lagi?" Kiya tertawa jika teringat sang kakaknya, yang selalu saja membuat pusing Ambar.


" Nenek juga Alhamdulillah baik, ah anak itu. Nenek hanya diperbolehkan untuk melihat-lihat saja, oh iya nak. Nenek nanti akan ikut Briel ke mana ya namanya, susah nenek mengingatnya."


" Nenek mau kemana sama kak Gabriel?" Kiya kaget dengan perkataan sang nenek.

__ADS_1


" Ah, nenek juga susah mengucapkannya. Namanya itu membuat lidah nenek keriting." Keluh Ambar.


" Biar Kiya tanya sama Kak Gab saja nanti nek."


" Iya nak, jaga kesehatanmu ya. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam."


Kiya merasa penasaran dengan perkataan sang nenel yang akan pergi kemana, untuk saat ini ia harus membersihkan diri terlebih dahulu untuk menyambut kepulangan suaminya. Segera saja ia masuk kedalam kamar mandi.


" Ah, segarnya." Kiya berlanjut menuju ruang pakaiannya.


Selesai dengan rutinitasnya, Kiya langsung keluat dari kamarnya menuju lantai bawah. Tak lama kemudian terdengarlah suara mobil, Kiya pun segera menuju pintu utama.


" Assalamu'alaikum sayang!" Sapa Azzam.


" Wa'alaikumussalam, mas. Capek?" Kiya mencium punggung tangan suaminya.


Cup!


Satu kecupan manis mendarat di bibir mungil milik Kiya, sontak saja Kiya merasa kaget dengan ulah suaminya itu.


" Mas, malu ih!." cubitan kecil ia berikan pada perut Azzam.


" Kenapa? Sudah halal kok, kenapa masih malu." Azzam sambil memainkan pipi Kiya.


" Tuh!" Mata Kiya mengarah kepada sang asisten pribadi suaminya itu, Daffa. Yang masih setia berdiri disana, sebelum berpamitan.


" Biarkan saja sayang, anggap saja dia tidak ada." Azzam masih bergelayut manja.

__ADS_1


" Maaf ya Daffa, mari masuk. Sekalian kita makan malam bersama." Kiya pun menawarkan Daffa untuk ikut santap malam.


" Tidak, Daffa pulanglah! " Azzam menegaskan perkataannya.


Daffa hanya terdiam tak berani untuk bersuara, melihat tatapan bosnya sunggub membuat nyalinya menciut.


" Mas! Hanya mengajak Daffa makan malam bersama, tidak akan membuatmu bangkrut kan!" Cubit itu kembali menyentuh perut Azzam dengan sangat kuat, pertanda jika istrinya itu sedang tidak bercanda.


" Akh! Baiklah, kau selalu menang sayang. Kau! cepat masuk dan makanlah, setelah itu pulanglah." Azzam pun menarik Kiya untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.


Hufh! Aku bisa mati kalau seperti ini terus, bos. Kau sungguh pencemburu. Daffa.


......................


Di dalam kamar, Kiya menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya yang sedang berada didalam kamar mandi.


Klek!


Azzam berjalan mendekati Kiya, dan merangkulkan tangannya untuk memeluk si mungil dari arah belakang.


" Akh! Mas, kau membuatku kaget. Ini pakaiannya."


" Sebentar saja, sayang." Azzam mulai mengeluarkan rayuan-rayuannya.


" Daffa sudah menunggu untuk makan malam, mas. Tidak enak membiarkannya lama-lama sendirian."


" Jadi, kamu membela Daffa daripada mas ya? Awas saja! Akan mas kasih pelajaran dia, karena dia sudah berani mengambil perhatian kamu dari mas." Melepaskan pelukannya, Azzam segera mengambil pakaiannya dan memakainya dengan asal-asalan, membuat Kiya mengeleng-gelengkan kepala.


Dasar pencemburu, sama Daffa saja cemburunya selangit, Hufh! Kiya.

__ADS_1


Kiya mempunyai ide yang cemerlang, untuk mengurangi rasa cemburu yang menerpa suaminya itu. Ia pun berjalan dengan perlahan mendekati Azzam yang sedang fokus menggunakan pakaiannya, Kiya langsung berdiri dihadapannya.


__ADS_2