BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 106


__ADS_3

" Hahaha." Suara tawa Azzam membuat kedua puteranya menjadi kaget.


Kok daddy ketawanya begitu banget, aneh. Baru kali ini liat tawa daddy kayak orang kesurupan. Arick.


Kenapa daddy tertawa, memangnya nggak marah anaknya digituin. Ansel.


Mereka bertiga saling memandangi satu sama lain, Azzam merasa kejadian itu membuatnya menjadi mengingat masa kecilnya. Yang tidak berbeda jauh dengan apa yang Ansel alami.


" Boleh mommy ikut bergabung?" Kiya hadir disaat ketiga pria tersebut sedang asik berpandangan.


" Sayang, masuklah." Azzam berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang bidadari.


" Mommy!" Ansel dan Arick saling bersahutan.


Senyuman Kiya memberikan kehangatan untuk ketiga pria tersebut, Azzam membawa Kiya untuk duduk bersamanya. Lalu menatap kedua buah hatinya yang sedang berhadapan dengannya, tak lama kemudian senyuman itu pun merekah.

__ADS_1


" Kenapa semuanya berkumpul disini? Apa ada yang sedang dibahaskah?" Dengan senyuman, kedua alisnya pun ikut tertarik ke atas.


" Sedang membahas persoalan pagi tadi, mom. Ups, keceplosan." Arick menyengir dengan terlihatnya deretan gigi putih miliknya.


Ansel memutar kedua bola matanya dengan begiti malas, seakan ia sedang meluapkam kekesalannya kepada saudara kembarnya.


" Kemarilah boy!" Azzam merangkul kedua puteranya.


" Ceritakanlah pada mommy, lihatlah wajahnya. Terlihat begitu lelah, apa kalian tidak menyayanginya?"


" Daddy tidak secerewet dirimu boy!" Azzam menajamkan matanya melihat Arick yang sedang menghindar.


" Selalu saja, Ansel. Bisa ceritakan pada mommy nak, apa benar yang sedang kamu alami seperti Arick katakan? Jika itu terasa berat untuk diceritakan, mommy tidak akan memaksa." Kiya meraih tangan Ansel dan menggenggamnya, menatap dengan lembut wajah sang putera sulungnya.


Ada rasa keraguan dalam hati Ansel untuk menceritakan semuanya, sebenarnya ia tidak ingin membuat mommynya menjadi kepikiran. Tapi karena mulut embernya Arick, hal itu menjadi diketahui.

__ADS_1


" Huh! Iya mom, itu benar. " Ansel menarik nafasnya dan membenarkan apa yang dikatakan saudara kembarnya itu.


" Anak kita terlalu tampan mom, mereka seperti terhipnotis akan wajah mereka." Azzam seperti di atas awan, memuji tentang kejadian tersebut.


Plak!!


" Mom, kenapa daddy dipukul?!" Protes Azzam yang mendapatkan dirinya dipukul oleh sang istri.


" Daddy mau tau asal kecerewatan Arick? jawabannya adalah diri daddy sendiri, menyebalkan. Jangan protes, tetap diam dengan posisi awal. Jika terjadi perubahan, daddy dan Arick akan mommy hukum. Paham!" Kiya mulai menunjukkan taringnya untuk meredaka perdebatan diantara Azzam dan Arick, mereka berdua pun hanya menganggukkan kepalanya.


" Abang, lihat mommy. Kalian berdua disekolahkan dengan tujuan untuk belajar dan mencari ilmu dan belajar tata krama untuk diterapkan dalam keseharian, jika terjadi suatu masalah ataupun kesulitan. Cobalah untuk lebih percaya kepada kedua orangtua kalian untuk mencari solusinya, tidak untuk berdiam diri. Mommy tidak menyalahkan abang akan hal ini, tapi mommy hanya sedikit kecewa. Mommy dan daddy akan merasa gagal mendidik kalian, sampai kalian mendapatkan kejadian seperti ini."


Ansel menaikan wajahnya dan menatap wajah sang mommynya nya mulai berembun, rasa bersalah itu semakin membesar di dalam hatinya.


" Hal ini sudah terjadi, sekarang hanya tinggal mencari solusinya. Kalian bisa diskusikan pada daddy." Kiya merasa tidak sanggup untuk meneruskan pembicaraannya.

__ADS_1


" Mom."


__ADS_2