BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 103


__ADS_3

Mobil yang Jaka kendarai ditabrak kembali oleh sang penguntit, namun masih bisa Jaka kendalikan. Dengan kecepatan yang sangat cepat, Jaka menjalankan mobil itu hingga jarak mereka menjauh. Tiba-tiba seorang pengendara motor melintas di depan mobil mereka!!


Dor!!


Dor!!


Orang tersebut melepaskan tembakan ke arah mobil mereka, Jaka dengan segera membanting kemudi mobilnya dengan cepat untuk menghindari tembakan tersebut dan menabrakan mobil mereka dengan pengemudi motor itu.


Brak!!!


Laju mobil terhenti, pengemudi motor tersebut sudah jatuh pada sisi jalan yang lainnya.


" Nona!!! Anda!!" Jaka sangat terkejut melihat Kiya yang saat itu meringkuk pada sisi bagian bawah kursi penumpang.


" Saya baik-baik saja, kamu Jaka?" Kiya berusaha untuk menegakkan kepalanya untuk melihat dan memastikan keadaan mereka.


" Saya tidak apa-apa nona, sebaiknya kita mencari tempat berlindung." Jaka pun keluar dari mobil dan membuka pintu bagian penumpang untuk membantu nonanya keluar dari sana.


Disaat mereka akan mencari tempat persembunyian, terlihat mobil sang penguntit melesat menuju mereka. Dengan sedikit berlarianz Kiya dan Jaka bersembunyi, mereka pun bergerak mencari keberadaak Kiya. Kiya begitu ketakutan, untuk berjalan pun ia merasa tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya. Orang misterius itu menyebar mencari Kiya dan Jaka.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Bantuan pun tiba dengan suara serangan tembakan yang ada, satu persatu orang misterius itu tumbang. Kiya berusaha menahan rasa takutnya dengan berzikir dan mencoba menahan rasa sakit pada tubuhnya akibat dari benturan saat berada didalam mobil.


Azzam yang saat itu melihat keadaan para musuhnya, melepaskan tembakan demi tembakan untuk menjatuhkan mereka. Kenan dan yang lainnya menyerang dan melumpuhkan lawan, musuh pun satu persatu mulai tumbang.


" Kiya!!! Kiya!! Dimana kalian?!" Suara Azzam menggema mencari keberadaan sang istri.


" Mas Azzam."Suara Kiya dengan lirihnya.


" Tuan!" Jaka memanggil Azzam.


Melihat Jaka, Azzam segera menghampiri mereka. Namun disaat ia akan melangkah, terlihat seorang musuh yang berada di belakang tubuh istrinya.


" Kiya, menunduk!!" Teriak itu membuat Kiya dan Jaka refleks menunduk bahkan bertiarap pada tanah.


Dor

__ADS_1


Dor


Pria tersebut jatuh bersimbah darah dan tewas seketika, dengan kecepatannya. Azzam melepaskan tembakan ke arah pria tersebut, jika tidak. Hal itu dapat membahayakan nyawa istrinya, Jaka langsung memastikan keadaan pria tersebut setelah Azzam berdiri di hadapannya.


" Dia tewas, tuan." Jaka telah memastikan, jika pria tersebut sudah tewas.


" Mas."


" Sayang!"


Pelukan itu sangat erat, Azzam sebelumnya merasa begitu sangat cemas dengan keadaan Kiya.


" Sudah aman, sayang. Lebih baik kita segera pulang, biarkan mereka menyelesaikannya." Azzam membawa Kiya dalam pelukannya, sangat terasa jika tubuh Kiya masih bergetar karena ketakutan.


Kiya hanya menganggukkan kepalanya, Azzam memberikan titah kepada Kenan dan yang lainnya untuk membereskan kejadian tersebut. Selama diperjalanan, Kiya hanya diam tanpa bicara. Azzam hanya bisa memegang tangannya, dengan tujuan memberikan ketenangan. Sesampainya di rumah, Kiya memilih untuk beristrirahat. Dan Azzam membantu sang istri untuk mengobati lukanya, akibat dari kejadian tersebut.


" Beristirahatlah, sayang. Mas mau ke ruang kerja sebentar."


" Iya mas, terima kasih."

__ADS_1


Senyuman manis Azzam berikan kepada sang istri tersayang, namun di dalam hatinya. Ia begitu ingin melenyapkan orang-orang yang telah membuat kekacauan ini. Di dalam ruang kerjanya, Azzam menghubungi markas mereka. Dzac dengan lancarnya menjelaskan siapa dalang dari semuanya ini, dan begitu kagetnya. Azzam mendapatkan fakta baru.


__ADS_2