BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 89


__ADS_3

Selesai dengan berkas-berkas tersebut, Azzam memanggil Ghina untuk masuk ke dalam ruangannya.


Tok


Tok


Tok


" Masuk saja." Azzam mempersilahkan Ghina untuk masuk.


" Iya tuan, ada apa?" Tanya Ghina dengan tujuan bosnya itu memanggil dirinya.


" Ini, kau bisa membawanya kembali. Aku akan pulang." Azzam menunjuk berkas-berkas yang telah ia periksa di atas meja kerjanya, lalu mengambil jasnya untuk menggunakannya dan melangkah pergi dari ruangannya.


" Hah, kirain ada apa." Ghina langasung mengambil berkas tersebut dan kembali ke ruangannya.


Saat Azzam keluar dari ruangannya, Rayyan dan Daffa melihatnya. Mereka pun berencana mengikuti bosnya itu, mengikuti saran yang Rayyan berikan sebelumnya. Mobil perusahaan yang Azzam gunakan, melaju dengan kecepatan sedang. Dari arah belakang, sebuah mobil mengikutinya. Mereka adalah Daffa dan Rayyan.


" Ternyata kalian peka juga dengan sinyal yang telahku berikan." Azzam bergumam dan melirik dari kaca spion, ia menyadari kehadiran dari kedua orang kepercayaannya itu.

__ADS_1


Mobil mereka melaju dengan jarak yang cukup terpantau, Azzam menyadari jika ada tamu yang tidak di undang lainnya hadir diantara mereka.


Brak!!


Sebuah bongkahan batu besar terlempar ke arah mobilnya, hingga mengenai kaca bagian depan mobilnya dan retak. Namun laju mobil itu tidak Azzam hentikan, ia tau jika ini adalah tanda bahwa penyerangan akan terjadi.


" ****!! Sial, mereka mulai menyerang. Cepat kau hubungi yang lainnya, segera kirimkan bantuan!" Daffa yang saat itu sedang melajukan mobilnya, melihat jika bosnya sedang mendapatkan serangan dari musuh yang belum diketahui.


Rayyan segera mengubungi Kenan dan Dzac untuk bersiaga dan tidak lupa untuk segera mengirimkan bantuan untuk mereka, dengan keadaan yang begitu genting. Mereka melihat bosnya sedang mendapatkan serangan yang terus menerus, musuhnya kini sangat banyak.


" Bagaimana ini? Sepertinya mereka sudah membaca situasi ini." Disaat mobil mereka berhenti, Rayyan segera keluar untuk membantu bosnya.


" Bagi fokusmu untuk beberapa arah." Ucap Daffa kepada Rayyan, yang dijawabnya dengan anggukkan kepala.


" Penalaran kalian sangat lamban." Azzan menghardik Daffa dan Rayyan.


" Maafkan kami tuan." Mereka berdua dengan sikap siaganya.


" Tuan, awas!!" Teriak Daffa yang melihat seseorang dari arah belakang tubuh Azzam, dengan cepat ia menghajar orang tersebut.

__ADS_1


Musuh yang lainnya begitu cepat menghampiri mereka, pertarungan tidak terhelakkan. Dengan mempertahankan senjata yang ada, mereka bertiga mengandalkan kemampuan beladiri masing-masing. Perlahan, satu-persatu musuh mulai tumbang. Azzam dan yang lainnya merebut senjata dari pihak musuh yang sudah mereka kalahkan, untuk menanmbah kekuatan.


Dor


Dor


Suara letusan peluru dari berbagai senjata sudah mulai terdengar, bersembunyi, menyerang dan bertarung. Hingga bantuan itu datang dengan personil yang cukup banyak, membuat ketiga pria tersebut bisa mengambil nafas sedikit lega.


" Kalian selesaikan, dan segera cari siapa dalang dari semua ini." Titah Azzam dengan tatapan matanya yang cukup tajam.



" Baik tuan." Jawab Daffa dan Rayyan dengan bersamaan.


Melihat situasi saat itu, bisa dibilang semua musuh bisa mereka kalahkan. Namun sialnya, mereka lengah dalam menjaga keamanan nyawa yang saat itu berada di lokasi.


Dor


Dor

__ADS_1


Suara tembakan terdengar cukup keras di telinga mereka, dan tanpa mereka sadari. Seorang musuh yang dikira saat itu telah mati, ternyata masih hidup. Ia menggunakan senjata yang berada di dekatnya, lalu menembak seseorang yang menjadi target utama.


Cairan merah itu terlihat pada mengalir dengan cukup banyak, kemeja putih berubah menjadi merah.


__ADS_2