BIDADARI SANG PENAKHLUK

BIDADARI SANG PENAKHLUK
Bab 73


__ADS_3

Mata yang tadinya tertutup, kini mulai membuka. Menatap perlahan setiap sudut ruang dan kini, mata itu memandang di salah satu sudut. Yang memperlihatkan sang suaminya sedang melamun, memandang pemandangan yang berada di luar jendela.


" Mas!" Ucap Kiya, memanggil sang suami.


Sontak saja ucapan yang terlontar dari Kiya, seketika membuyarkan segala lamunan Azzam. Ia menatap ke arah sumber suara, raut wajah itu berubah menjadi rona bahagia.


" Sayang!" Azzam segera menghampiri sang istri, menggenggam tangannya dan memberikan kecupan kecil pada keningnya. Kiya tersenyum melihat wajah sang suami, terlihat jelas jika si pemilik wajah itu sedang khawatir.


" Apa ada yang sakit, sayang?!" Mata Azzam mengabsen setiap inci bagian tubuh istri mungilnya.


" Alhamdulillah, baik-baik saja mas. Mas, apa yang sebenarnya terjadi? Baby nggak apa-apa kan?" Tanya Kiya, ia merasa khawatir dengan kondisi anak-anaknya.


" Kamu dan baby baik-baik saja, sayang. Hanya saja, kamu harus istirahat total. Apa ya namannya, pla plasenta via.." Azzam lupa akan nama penyakit yang sedang istrinya alami.


" Plasenta previa, mas." Kiya meluruskan ucapan sang suami, yang terbata-bata. Azzam hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Kiya. Dan sejenak Kiya berfikir!


Apa karena terlalu lelah dan banyak yang di fikirkan, hingga membuat hal ini terjadi? Kiya.

__ADS_1


" Mas, kak Gabriel dan nenek jangan diberitahu ya. Aku takut, nanti mereka menjadi kepikiran. Apalagi kak Gabriel, mas tau sendirikan dia orangnya bagaimana." Kiya membalas genggaman tangan Azzam.


" Baiklah bidadariku! Kamu juga harus banyak-banyak istirahat dan makan-makanan yang bergizi, oke?! Baby! Jangan nakal ya. Lihatlah mommy kalian, dia sedang sakit. " Azzam mendekatkan kepalanya pada perut Kiya, dan seolah-oleh sedang berbicara kepada calon babynya.


......................


Lagi-lagi misinya gagal dan diketahui oleh musuhnya, kali ini Ferdinand tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Jalankan misi akhir kita, aku tidak mau tau. Kali ini harus berhasil! Jika kalian gagal lagi, maka bersiaplah nyawa kalian aku lenyapkan!! Cepat!!" Dengan perkataan yang sangat tegas dan penuh penekanan dari bos mereka, membuat seluruh bawahan yang berada disana saat itu langsung bersiap untuk menjalankan perintah tersebut.


" Siapkan juga ruangan khusus untuknya, jangan sampai mengecewakan. Hubungi Ferry, untuk segera datang." Titah ferdinand kepada beberapa maid di mansionnya, Ferry merupakan dokter pribadi yang selalu menanggani masalah kesehatan dari Ferdinand.


Dengan langkah yang besar dan cepat, Ferdinand berjalan menuju kamarnya. Ia menganti pakaiannya dan segera berkumpul dengan para bawahannya yang lain, lalu mereka pun menjalankan misi yang sebenarnya.


Bersiaplah! Tidak lama lagi, kita akan bertemu. Dan kau juga akan segera menjadi milikku, akan aku pastikan hal itu dan tidak ada lagi kata untuk mundur. Ferdinand.


Dengan menambah jumlah anggota yang menjadi tidak sedikit, kelompok mereka mulai bergerak dan berjalan menuju target penyerangan. Dengan sangat percaya diri, Ferdinand pun merasa kali ini dia akan berhasil untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


......................


Menikmati waktunya, dengan santainya Ardhian meneguk air dari botol mungil dihadapannya. Wine itu ia nikmati dengan penuh penghayatan disertai dengan hisapan dan kepulan asap, ia sedang memantau suatu pergerakan.


" Permisi tuan! Mereka bergerak menyerang." Laporan dari sang bodyguard kepada bosnya.


" Heh! Bodoh! Biarkan saja, kalian cukup awasi. Jangan sampai mereka melukainya, jika hal itu terjadi. Kalian tidak perlu berfikir lagi, langsung saja eksekusi. Paham!!" Jelas Ardhan.


" Baik tuan, akan kami laksanakan. Tapi tuan, wanita itu ikut merencakan penyerangan bersamanya." Informasi yang disampaikan oleh orangnya itu, membuat Ardhan menjadi murka.


" Dasar wanita sialan! Biarkan saja, tidak perlu kalian bela lagi. Nyawanya memang pantas untuk di lenyapkan, sudah cukup dia bermain-main selama ini."


" Baik tuan!."


Ardhan mengeretakkan rahangnya, mengetahui wanita yang menjadi benalu dalam kehidupan kakaknya mulai berulah.


" Marsya!!! Dasar wanita benalu tidak tau malu, selalu berulah. Nikmati saja waktumu, jika saatnya tiba. Habislah kau!!!"

__ADS_1


Ardha mengepalkan tangannya dengan kuat, walaupun jiwanya seperti iblis. Kasih sayang untuk sang kakaknya, tetap ia jaga.



__ADS_2