
Jika menyukai Novel ini silahkan tinggalkan Like, komentar dan Favoritkan. Boleh juga Vote dan kasih gift ke Author biar semangat Author menulisnya.
...HAPPY READINGπ...
.............
Semenjak Friska sibuk mengurusi pernikahan nya, sekolah musik Friska pun menjadi terbengkalai beberapa belakangan ini.
Bibi Dona pun tak sepenuhnya mengajar di sekolah musik Friska dan mau tidak mau Reza lah yang harus turun tangan untuk mengelola sekolah milik sepupunya itu.
π"Halo bibi" jawab Friska ketika mendapat panggilan dari Bibi Dona
π"Ya halo Friska, Apa kau akan kemari hari ini?" Tanya Bibi Dona.
π"Iya bibi, aku akan mengajar hari ini. Lagi pula, sudah lama aku tidak mengunjungi sekolah" Jawab Friska.
π"Ah baiklah! Aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama ya, anak-anak sudah mulai berdatangan"
π"Siap bibi! Aku akan berangkat sekarang. Kalau begitu aku tutup panggilan nya, bye bibi"
π"Hati-hati Friska. Bye juga"
Friska pun memutuskan panggilan nya. Kemudian ia memasukan ponsel nya kedalam tas totebag putihnya.
Friska pun menatap tampilan nya dikaca. Kaos polos hitam, di padu dengan jeans biru langit, rambut dikuncir kuda serta sepatu sneakers hitam putih nya.
__ADS_1
Baru saja Friska mengunci pintu apartemen nya, ia sudah dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakang nya. "Ya kodok!" Ucap Friska kaget.
Seseorang itu kini justru sedang tersenyum manis kearah Friska.
"Dimana Kodoknya sayang."
Ya tanpa diberitahu pun, kalian sudah tau kan siapa 'seseorang'β yang dimaksud.
"Yak! Kau! Mau apa kau disini?!"
"Aku? Ingin menjemput mu tentunya sayangku.β jawab Felix enteng
"Menjemputku? Untuk apa?" Tanya Friska dengan tatapan tajam, kenapa pria ini selalu ada di depan mata Friska.
Friska menarik sudut bibir nya yang terbuka, tak habis pikir dengan tingkah pria yang ada di depan nya ini.
"Felix Erina Davkaza. Kau tau kan hari ini aku akan mengajar? Jadi tolong banget jangan ganggu aku hari ini. Bisa?" Pinta Friska
βAku tidak akan menganggu mu! Aku hanya ingin mengantarmu, apa itu salah?" Elak Felix.
Friska memejamkan matanya sambil menghela nafas kasar. Sabar Friska! Kau hanya membuang sia-sia tenagamu jika meladeni manusia bodoh ini!
"Terserah deh, capek aku ngeladenin kau." Friska pergi terlebih dahulu, masa bodo dengan pria yang kini berada di belakang nya.
Felix pun tersenyum senang. Kemudian berlari mengejar Friska.
__ADS_1
___________
Suasana di mobil Felix sangat hening, tak ada pembicaraan diantara kedua cucu adam itu. Friska sibuk memperhatikan jalanan dari jendela dan Felix yang fokus menyetir sambil memperhatikan jalanan juga.
Sesungguhnya Felix tidak suka suasana canggung seperti ini. Ia merasa sedikit tak nyaman.
"Friska." panggil Felix.
Friska hanya menengok kearah Felix untuk menanggapi panggilan Felix. "Kau menyukai Farel?"
Seketika Friska terkejut dengan pertanyaan lelaki ini, kenapa Felix menanyakan soal perasaannya kepada adiknya.
"Kenapa Kau tiba-tiba bertanya?β Tanya Friska.
"Aku bertanya padamu Friska, kenapa kau malah balik bertanya?"
Friska berdecak sebal, tapi kemudian ia menunduk. Sejujurnya ia masih bingung dengan perasaan nya.
"Kau menyukai Farel?" Tanya Felix lagi.
"Ehm..mungkin i-iya" jawab Friska ragu. Felix sedikit heran dengan nada bicara Friska.
Mengapa gadis itu terdengar gugup?
"Kau sungguh menyukai nya?" Tanya Felix memastikan.
__ADS_1