
Felix memberhentikan mobil nya di depan sebuah rumah yang sederhana namun terlihat nyaman.
"Disini rumahnya?” Tanya Felix. Friska hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Darimana kau tau, jika ini memang rumah nya?"
"Ibu memberikan alamat ini padaku kemarin. Dan kau lihat, nomor rumah nya pun sama bukan?" Ujar Friska menunjukan secarik kertas dari dalam saku celana nya.
Felix menganggukan kepalanya beberapa kali, kemudian melepas seat bealt nya. "Ohh ya udah yuk turun." Ajak Felix, Friska dan Felix pun turun dari mobil.
Friska menghela nafas ketika ia sudah sampai di depan pintu rumah ibunya dan Friska memejamkan matanya, berharap jika ini adalah keputusan yang benar.
Kau bisa Friska! Kau bisa!
Friska menatap Felix sekilas. Felix tersenyum, seolah memberi kekuatan bahwa Friska memang harus melakukan ini.
Friska diam sejenak dan sebelum akhirnya Friska mengetuk pintu rumah itu.
Tok! Tok! Tok
__ADS_1
Hening, tak ada jawaban atau sautan dari dalam. Friska mendadak gelisah, ada sesuatu yang membuat dirinya merasa takut.
"Coba ketuk sekali lagi! Siapa tau, ibu mu sedang di dapur." saran Felix
Friska menatap Felix ragu. Tapi ia tetap menuruti perkataan Pria itu, Friska mengetuk pintu nya kembali.
Tok! Tok! Tok!
Masih tidak ada sautan dan sepertinya ibu nya sedang pergi, Friska menunduk, pasrah. Entah mengapa tekad nya mendadak luntur.
"Sepertinya ibu sedang pergi" ujar Friska sambil tersenyum sendu.
"Kau yakin? Tidak mau mencoba nya sekali lagi?" Tanya Felix. Friska menggeleng, "Aku ingin pulang aja.”
Friska menatap Felix, kemudian tersenyum lirih. "Terimakasih"
Felix tersenyum sebagai jawaban. Sejujurnya hati Felix ikut merasa sedih, melihat Friska seperti ini. Maksudnya, Felix mengerti apa yang Friska rasa.
Dari tatapan matanya saja, Felix tau gadis itu sebenarnya memang merindukan ibunya dan hanya saja kecanggungan dan ketakutan untuk bertemu ibunya masih tersimpan di dalam hatinya.
__ADS_1
Friska membalik kan badan dan bersiap untuk pergi. Namun, baru saja Friska berjalan beberapa langkah, Geli yang masih terdiam, mendengar suara kunci yang terbuka.
“Friska tunggu!" Friska terkejut mendengar teriakan Felix. Ia membalikan badan nya.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Friska terkejut, ketika mendapati ibunya sudah berdiri di depan pintu, sambil menatap nya sendu.
Friska terdiam dan ia merasa seluruh syaraf ditubuh nya membeku. Fatmah Kamila (ibu Friska), menatap anak semata wayang nya itu sendu.
Bahkan ia meneteskan air matanya, ketika Friska juga menatap nya. "Kau datang,nak." Ujar Fatmah lirih.
Entah mengapa melihat ibunya menangis membuat hati Friska terasa teriris. "Kau datang Putriku."
Kini Fatmah tersenyum, walaupun air mata terus saja mengalir di pipinya dan Friska tak tahan lagi. Ia segera berlari memeluk ibunya, Friska sangat merindukan ibunya.
Fatmah sempat terkejut Friska memeluk nya dan ia tidak menyangka, Friska mau memeluknya lagi.
Friska memeluk Fatmah erat dan sangat erat. Seolah ia sedang menyalurkan rindunya selama ini. Seolah ia tak ingin, wanita itu pergi lagi darinya.
"Aku...merindukan mu. Ibu.." Fatmah menangis. Ia membalas pelukan Friska sama erat nya.
__ADS_1
"Maafkan ibu sayang, Ibu bener bener minta Maaf kepadamu." ujar Fatmah sambil mengeratkan pelukan nya.
Felix tersenyum lega. Akhirnya, Friska mendapatkan cahayanya kembali dan cukup lama mereka berpelukan.