
...FELIX pov...
Aku melihat ke arah luar. Hari ini cerah dan terlihat banyak awan yang menyebar. Langit di dominasi oleh warna putih, seolah melambangkan apa yang terjadi hari ini.
Ah iya hari ini adalah hari pernikahan adiku, Farel Pertama Davkaza. Aku terkekeh, membayangkan adik semata wayangku itu akan segera menikanh.
Sialan dia mendahului ku!
Terlebih lagi, calon adik ipar ku adalah Friska Kamila Adiwangsa, dia adalah gadis bar bar yang belakangan ini memenuhi sebagian isi otak ku.
Sungguh, aku tak menyangka bahwa dia akan menjadi salah satu keluarga ku. Karena dia akan menikah dengan Farel, otomatis dia juga akan menjadi keluarga Davkaza bukan?
Aku tersenyum pas melihat undangan yang tergeletak di atas nakas kamar ku. Disana tertera nama Friska juga Farel.
Entah mengapa dada ku sedikit terasa sakit, T-tapi jujur aku tak tahu apa penyebab nya. Jika boleh berkata, aku sedikit tidak menyukai adanya nama Friska disana.
Tapi aku tidak boleh egois, ini sudah perjanjian dan aku juga tak mau menyakiti hati ayah ku.
Aku tau, ayah sangat antusias dengan pernikahan ini. dan bahkan ayah menyiapkan segalanya dengan baik dan sempurna.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Aku menoleh saat mendengar suara ketukan pintu yang begitu menggebu, aku pun membuka pintu karena penasaran
"E-eoh, ibu? Ada apa?"
Bisa aku lihat, wajah ibu begitu pucat. Walaupun saat ini ibu memakai riasan yang cukup tebal, tapi aku tahu wajah ibu pucat dan terlihat begitu panik?
"Fel----Felix." ucap ibu ku terbata
Aku semakin bingung, ibu kenapa?
"Tarik tahan dan buang perlahan bu, atur nafasmu bu. Ada Apa bu? Mengapa wajahmu pucat sekali dan terlihat panik begitu? Ada apa?" Tanya Felix lembut.
Enggak mungkin Farel mengecewakan Ibu, Felix jangan berfikir negatif kepada adikmu!
"F--Farel! Felix itu si Fa--Farel."
Aku menelan saliva ku dengan kasar, t tidak! Tidak mungkin yang aku fikirkan terjadi kan?
"Farel? kenapa dengan Farel ibu?" Ucap ku lembut dengan menenangkan ibu yang begitu panik, aku sedang berusaha tenang dan menghapus segala pikiran buruk ku.
"Farel...D-dia..” Aku semakin menelan saliva ku Kasar. Jantung ku juga berdegup sangat kencang.
__ADS_1
Aku terkejut saat ibu meremas tuxedo ku dengan kuat dan juga... Ibu menangis!
"I-ibu, sebenarnya ada apa? Mengapa kau menangis? Jelaskan padaku ibu" Ucapku. Ibu masih menangis, kemudian menundukan kepala nya.
Tidak! Tidak! Tidak!
A-apa jangan-jangan......
Aku masih menunggu perkataan ibu, "Fa---farel...D---dia Dia menghilang Felix!!!"
Aku terdiam mendengar perkataan ibu. Sebentar, aku masih mencerna semuanya
“Apa maksudmu bu? T-tidak mungkin!! Tidak mungkin Farel menghilang, bu"
"Dia memang menghilang Felix. Para bodyguard ayah dan ayah mu sudah mencarinya ke semua tempat, tapi tetap anak itu tidak ada" jawab ibu sambil menangis
Reflek aku mengepalkan tangan ku. Sialan! Bagaimana bisa Farel kabur disaat genting seperti ini?!
"I-ibu tenang ya? A-aku akan coba mencari Farel. Sebentar aku akan—" Ucapan ku terpotong, karena ibu sengaja menyela ucapan ku.
"Percuma Felix. Ini percuma!!! Pernikahan ini akan dilaksanan 5 menit lagi. Percuma saja, kau tidak akan bisa menemukan nya. " Aku terdiam, mencerna semua perkataan ibu.
__ADS_1