
"Saat itu ayah berkata kepada ku, kelak jika aku sudah mulai dewasa, aku harus merawat sekolah itu dengan sepenuh hati. Aku harus mengajar anak-anak itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Anggap saja sekolah itu adalah rumah kedua ku. Jika aku tidak tau kemana aku harus pulang, jadikanlah sekolah itu untuk menjadi alasan ku untuk pulang. Dan ayah benar, ketika aku tidak punya lagi tempat untuk pulang, sekolah itu lah alasan ku untuk kembali hingga saat ini”
Felix masih terdiam. Ia masih mencerna semua perkataan gadis di samping nya ini dan ini pertama kalinya Felix melihat sisi lain dari Friska.
Ternyata selain keras kepala dan emosian, Friska juga punya sisi lemah nya dan sisi yang tidak ia tunjukan kepada siapapun kecuali orang orang terdekat dan kepercayaan nya.
Tanpa sadar, sebutir kristal bening jatuh dari mata Friska. "Sekolah itu segalanya bagi ku. Aku tidak tau lagi kemana aku harus pulang jika sekolah itu tidak ada. Ayah pergi meninggalkan ku dan aku kehilangan salah satu rumah ku. Sedangkan ibuku, aku tak tau keberadaan nya bahkan aku sudah tidak tau bagaimana hangat pelukan nya. Hanya sekolah itu satu-satu nya harapan yang kupunya. Di sekolah itu lah aku mendapatkan kebahagiaan dan juga kasih sayang. Kasih sayang anak-anak lah yang mampu membuat ku bertahan, membuatku tenang dan merasa bahagia" lirih Friska
Tak peduli lagi, kini pipi Friska basah karena air matanya sudah tak kuasa ia tampung. Ia menunduk, kali ini ia pasrah jika Felix mengetahui sisi dirinya yang lain. Ia tak peduli jika setelah ini Felix mengejek nya atau menganggap nya remeh.
Friska membeku ketika ia merasa sedang berada di dada seseorang. Friska terkejut mendapati aroma maskulin yang memabuk kan kini sangat terasa oleh indera penciuman nya.
Iya, Felix memeluknya. Felix merengkuh badan mungil nya, Felix sedang mengelus punggung Friska lembut seolah menyalurkan ketenangan disana.
Friska terdiam, jantung nya kembali berpacu. Ia merasa ini salah, namun ia tidak bisa menolak. Saat ini ia memang butuh pelukan, ia butuh seseorang yang menenangkan nya.
Untung saja saat ini mereka sudah sampai di lobby apartemen milik Friska. Sehingga Felix bisa leluasa memberi ketenangan kepada gadis yang tengah berada di pelukan nya.
"Maaf kan aku." ucap Felix pelan, namun Friska masih bisa mendengarnya, mengingat jarak mereka yang sangat dekat saat ini.
Entah mengapa, mendengar perkataan Felix barusan membuat Friska merasa lebih sesak. Air mata itu sukses membanjiri pipinya lagi.
Felix memberikan usapan lembut pada Friska, kemudian menaruh dagu nya diatas puncak kepala Friska.
Cukup lama Friska menangis di dalam pelukan Felix. Hingga akhirnya Felix memegang kedua bahu kecil itu untuk menghadap kearah nya. "Friska." panggil Felix dengan lembut untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Ya?" Jawab Friska lirih, ia masih mencoba meredakan tangisan nya. Felix diam, ia menatap Friska dengan intens. Hingga akhirnya Felix berkata.
"Bagaimana jika aku menyukaimu?"
_____________
...FELIX POV...
......................
Bagaimana bisa aku mengatakan itu kepada Friska?!
Sialan!
Untung saja tadi Sofia datang dan mengetuk jendela mobil. Aku tak tahu lagi bagaimana canggung nya jika Sofia tidak datang.
Sejujurnya apa yang ku katakan memang benar. Aku menyukai nya.
Tapi perlu di ingat!
Aku hanya menyukai nya!
Sekedar suka! Tidak lebih!!!!
Aku tidak mencintai nya!!!
__ADS_1
Ingat, suka dan cinta itu beda walaupun perbedaan nya tipis tapi aku yakin, aku hanya menyukai nya tidak lebih.
Aku sendiri pun bingung, bagaimana bisa aku jatuh secepat ini kepada seorang perempuan setelah sekian lamanya?
Bahkan bersama Jelita, sang primanoda kampus pun aku tidak setertarik ini. Ini aneh, ini membingungkan.
Ah iya ngomong-ngomong, ketika Sofia mendatangi mobil ku tadi ia tampak terburu-buru dan begitu Friska keluar dan berbicara dengan Sofia. Ia langsung pergi dan lari begitu saja dengan tergesa
Sebenarnya ada apa?
Aku menoleh ke kursi samping. Tunggu... Bukan kah itu ponsel milik Friska?
Mengapa bisa ada disini?
Aku mengambil ponsel gadis itu dan berniat mengembalikan nya. Namun baru saja aku sampai di depan pintu apartemen nya, aku sudah melihat Friska.
Tapi ia tak sendiri. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita dan sepertinya wanita itu berusia sekitar 45 tahun, sama seperti ibuku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: Affah iya Felix? Kok author ngerasa beda y🤭
^^^Felix: Diam deh thor, lu itu jomblo jadi gak tau bedanya suka dan cinta.^^^
Author: Ajarin dong Sepuh.... Sepuh..... Sepuh.......
__ADS_1