
Sekitar 15 menit, Friska melihat sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan gerbang sekolah dan Friska pun langsung membangunkan Jefran.
“Jefran sayang...bangun. Sudah ada yang menjemputmu." ujar Friska lembut sambil menepuk pelan pipi Jefran.
Jefran pun langsung terbangun, ia menguap dan langsung mengucek matanya.
"Benalkah, Jeflan sudah ada yang menjemput?"
"Tentu, itu mobil uncle Jefran. Benar kan?" Tunjuk Friska kearah mobil sedan mewah yang berada tak jauh dari gerbang
"Ah iya itu mobil uncle! kakak bisa mengantalkan Jeflan sampai gelbang?" Pinta Jefran
"Tentu sayang, yuk!" Friska mengambil tas gitar nya dan langsung mengenggam tangan mungil Jefran dan membawa nya ke luar. Lebih tepat nya kearah gerbang.
Begitu mereka sampai gerbang, seseorang keluar dari mobil mewah itu.
Mata Friska terbuka lebar begitu melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil itu.
"Kau" Pria itu juga terkejut melihat Friska disini.
"Friska?" Kedua manusia itu saling menatap dengan tatapan bingung, juga terkejut diwaktu yang bersamaan. Mengapa dunia sesempit ini sih?
"Uncle! Mengapa uncle lama sekali menjemput ku?" Protes Jefran
Mereka berdua pun terkesiap. Kemudian menatap Jefran yang tengah di genggam Friska.
Pria itu menunduk kemudian mensejajarkan badanya dengan Jefran.
"Uncle banyak pekerjaan Jefran, makanya uncle lama menjemput mu" ujar pria ber jas hitam itu.
"Tapi aku sudah lelah uncle! Uncle liat! Sekalang pukul belapa? Halus nya aku sudah di lumah, telus belmain lego dan juga lobot-lobotan!" Marah Jefran.
__ADS_1
Friska yang melihat Jefran marah justru terkekeh dan bukan nya seram, Jefran justru semakin terlihat menggemaskan jika marah.
Terlebih lagi dengan pipi yang menggembung dan bibir yang dimajukan. Uh! Gemas!
Sementara, pria berjas Hitam itu hanya menghela nafas mendengar ocehan keponakan nya.
"Oke..oke. Uncle minta maaf karena lama menjemput mu. Kalo begitu, ayo kita pulang! Uncle masih banyak pekerjaan Jefran" ajak pria itu.
"Kalo saja tak ada kak Fliska disini, Jeflan pasti sudah diculik tadi" gerutu Jefran.
"Hus! Jefran, tidak boleh berbicara seperti itu sayang." peringat Friska tapi masih dengan nada yang lembut.
"Habis nya aku kesal dengan uncle, kak Fliska. Uncle menyebalkan!" Friska menatap pria yang kini berdiri di depan nya.
"Jadi kau guru Jefran, nona Friska?" Tanya Pria itu sambil tersenyum miring.
"Jadi kau Om Jefran, Felix Erina Davkaza?" Balas Friska dengan senyum miring juga.
"Cih! Mimpi saja kau, tuan Felix." Decih Friska.
"Kak Fliska kenal dengan uncle Felix?" Pertanyaan Jefran justru membuat Friska terkejut. Ia hampir lupa, disini ada Jefran.
Untung saja, ia tak sempat mengeluarkan umpatan nya untuk pria yang ada di depan nya ini.
"Jelas, kita memang saling mengenal, Jefran" ujar Felix sambil menatap Friska dengan tatapan menggoda nya.
"Kok bisa Kenal?" Tanya Jefran.
Felix tersenyum miring sambil menatap Friska. Oke, Firasat Friska tidak enak kali ini.
"Tentu saja kita saling mengenal, kita kan pac--"
__ADS_1
"Jefran, bukan kah Jefran harus pulang? Nanti mommy khawatir jika Jefran belum sampai rumah"
Friska sengaja memotong ucapan Felix, karena ia tau jika di lanjutkan maka ini tidak akan beres nantinya.
"Jeflan tak mau pulang Kak Fliska"
"Loh kenapa? Bukan nya sejak tadi Jefran ingin pulang, hm?" Tanya Friska.
"Jeflan ingin belsama kak Fliska, Jeflan tak mau pulang” jawab Jefran sambil menggoyangkan tangan nya yang digenggam oleh Friska.
"Jefran, tadi katanya Jefran ingin pulang dan sekarang kan Jefran sudah di jemput. Yuk pulang!” Bujuk Friska.
Jefran menggelengkan kepalanya, "Jeflan ingin belsama kak Fliska" ujar Jefran.
Friska menekuk kan lutut nya dan mensejajarkan badan nya dengan Jefran
"Jefran, Jefran harus pulang sayang. Jefran kan belum mandi, terus belum makan juga kan? Jadi sekarang Jefran harus pulang oke? Nanti kan kita bisa bertemu lagi" bujuk Friska.
"Tidak mau! Jefran tidak mau pulang! Jeflan ingin belsama Kak Fliska" kekeh Jefran.
Friska menghela nafas, kemudian menatap Felix dan sial nya Felix hanya tersenyum dan tak berbuat apa-apa seolah itu urusan Friska bukan urusan nya.
Friska hanya mendelik sinis, kemudian menatap Jefran lagi.
"Jefran.."
Wajah Jefran mulai memerah. Bibir nya mulai jatuh kebawah dan mata nya mulai berair.
Sial! Friska paling tidak bisa melihat anak kecil menangis.
"Bagaimana jika kau mengantarkan Jefran sampai rumah, setelah itu.. Ya, terserah kau" saran Felix
__ADS_1
Friska menatap Felix ragu, mata Jefran semakin berair.