
"Wanita yang kemarin di apartemen mu, dia siapa?" Tanya Felix. Friska terdiam sambil menatap Felix.
“Apa...dia ibumu?" Tanya Felix lagi Friska memalingkan wajah nya. Friska melipat kaki nya setinggi dada dan kemudian menaruh kedua lengan nya diatas lutut Friska tersenyum masam, lalu berkata.
"Iya, dia...ibuku" Kali ini Felix yang diam. Ia merasa bersalah karena melihat ekspresi wajah Friska.
"Ah, m-maaf. Aku tidak bermaksud" ujar Felix. Friska tersenyum, "Tak apa. Santai saja"
Felix hanya tersenyum canggung, kemudian menunduk lagi. Diam sejenak, sampai akhirnya Friska membuka suaranya lagi.
"Semenjak ayah dan ibuku bercerai. Aku tidak pernah lagi bertemu ibu. Ibu pergi, meninggalkan aku dan ayah. Dan aku mendengar, ibu menikah lagi” ujar Friska.
Felix menatap Friska dan bisa Felix lihat, tersirat rasa sedih, kecewa, rindu dalam waktu bersamaan di mata Friska.
"Ibu memang selalu memberi ku uang. Untuk biaya hidup ku dan juga pendidikan ku. Tapi kau tahu? Bukan itu yang aku butuhkan dari ibu ku"
Mata Friska mulai berkaca. Sejujurnya, ia ingin meluapkan ini sejak kemarin namun ia bingung harus bercerita pada siapa.
"Aku membutuhkan pelukan hangat nya dan aku membutuhkan perhatian nya. Aku membutuhkan kasih sayang nya. Bukan uang, dan sebagai bentuk ia masih menggap ku ada, tapi aku butuh perhatian nya. Aku membutuhkan kehadiran nya di samping ku, itu yang kubutuhkan.”
__ADS_1
Air mata Friska mulai mengalir. Masa bodo ia mau dianggap cengeng, ia sudah tidak kuat lagi.
"Aku tidak peduli jika tidak harus bersekolah, asalkan ibu mau terus memperhatikan ku. Aku tak masalah ayah dan ibu bercerai, asal ibu masih terus memperhatikan ku atau mengunjungi ku. Tapi ini? Bahkan setelah persidangan ayah dan ibu, ia menghilang. Ia pergi jauh dan tak lagi menemui ku" tambah Friska.
Entah mengapa, melihat Friska seperti ini, hati Felix mencelos. Felix tak tega melihat gadis keras kepala ini menangis dan ia pun menyenderkan kepala Friska ke bahu nya, kemudian mengusap lengan Friska lembut dan supaya Friska merasa lebih tenang.
Friska terkejut, tentu saja dan respon Felix diluar dugaan nya. Ia kira Felix tidak mendengar curhatan nya atau bahkan pergi meninggalkan nya.
Bamun, pria ini justru bertindak di luar dugaan. Dan kalian tahu? Jantung Friska sedang tidak sehat sekarang.
“Menangislah, jika memang itu membuat mu tenang. Ceritakan saja semuanya, jika menurutmu itu bisa membuat perasaan mu lega. Aku disini, akan mendengar semua cerita mu, friska." kata Feix lembut.
Friska menangis lagi. Entah mengapa perkataan Felix tadi sangat menyentuh hati nya. Friska pun kembali terisak dan meluapkan semuanya.
Friska mengangguk, kemudian ia berbicara lagi. "Dan kemarin, saat kau datang. Ibu ku juga datang ke apartemen ku. Ia meminta maaf padaku dan mengakui semua kesalahan nya. Dan ia ingin, aku kembali padanya dan hidup bersama nya lagi" ujar Friska.
"Lalu apa jawaban mu?"
Friska kembali terisak dan ia semakin menyandarkan kepalanya pada bahu Felix, tau Friska kembali menangis, Felix semakin mengusap lengan Friska dengan lembut.
__ADS_1
"A..aku... K-kau tau? Tak semudah itu, aku bisa menerima nya kembali. S-sudah berapa tahun aku tidak bersama nya? S-sudah berapa tahun aku menanggung sakit dan juga rindu karena nya? I-ni tidak mudah...a-aku merindukan nya, n-namun, ini sulit. Aku tak bisa” jelas Friska sambil terisak tangisan.
Felix mengangkat kepala Friska dari bahu nya dan Friska sempat terdiam, sampai akhirnya ia dibuat terkejut lagi oleh tingkah Felix.
Kali ini, Felix tak lagi menyediakan sandaran untuk Hyerin. Namun, ia memberi pelukan untuk Friska.
Iya Felix memeluk gadis itu, mendengkap nya selembut dan sehangat mungkin. Seolah melindungi Friska dan menenangkan nya.
Friska terdiam dan jantung nya berdetak cepat, Friska mendengar suara degup itu di dada Felix.
"Friska." panggil Felix. Friska tidak menjawab. Ia masih bingung dan kaget secara bersamaan.
“Aku tau perasaan mu, aku mengerti perasaan mu. Hanya saja, coba kau pikirkan Friska. Mau bagaimanapun dia tetep ibu kandungmu. Yang mengandung dan melahirkan mu. Merawat mu selama 9 bulan. Aku tau, sebenarnya kau juga merindukan nya bukan?"
Friska kembali menangis. Ucapan Felix menohok hati nya. "Seburuk apapun, ia tetap ibumu Friska. Kau membutuhkan nya. Kau membutuhkan kasih sayang nya. Ia akan segera menikah
Felix sendiri pun tak mengerti, mengapa perasaan nya mendadak tidak karuan. Dadanya terasa sesak, paru parunya terasanya menyempit. Ada sedikit rasa sakit di hatinya.
"Felix." panggil Friska tiba-tiba
__ADS_1
"Hm?" mereka berdua terdiam sejenak, hingga akhirnya Friska berkata.
“Mau kah kau menemaniku untuk bertemu ibu?"