Boss

Boss
SEASONS 2 : Menghubungi Nomor yang ditulis Ayah


__ADS_3

Jika menyukai Novel ini silahkan tinggalkan Like, komentar dan Favoritkan. Boleh juga Vote dan kasih gift ke Author biar semangat Author menulisnya.


...HAPPY READING💜...


.............


"Bibi pun mencari nya, dan menemukan berkas milik ayah mu. Ada beberapa berkas disana, seperti berkas sekolah musik nya dan juga beberapa berkas perusahaan nya” lanjut bibi Dona


"Lalu?" Tanya Friska. Bibi Dona menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Ternyata, ayah mu memiliki perusahaan Friska. Maksud ku, ayah mu memang bukan pengusaha tapi dia menaruh investasi di salah satu perusahaan" ujar bibi Friska.


"Apa? Benarkah?" Pekik Friska kaget Bibi Dona pun mengangguk.


"Ayah mu menginvestasi kan sebagian hartanya di perusahaan teman nya. Aku tidak tau investasi macam apa yang ayah mu lakukan, tapi intinya Waktu itu, teman ayah mu sedang mengalami masalah di perusahaan nya dan ayah mu membantu teman nya itu dengan menyumbangkan sebagian hartanya."


Friska terdiam, mencoba menerima satu fakta yang baru ia ketahui, "Dan aku menemukan ini di salah satu berkas milik ayah mu"


Bibi Dona memberikan secarik kertas yang barusan ia ambil di dalam saku celemek nya. Friska pun menerima surat itu dan mulai membaca nya.

__ADS_1


"Disana tertulis kau harus menemui teman ayah mu Friska"


Friska memandang bibi Dona bingung Reza yang penasaran pun akhirnya menghampiri Friska dan membaca surat yang barusan Friska pegang.


"Sepertinya paman menulis surat ini ketika sakit. iya kan bu?"


"Iya, Friska. Sepertinya ayah mu menulis ini ketika ia sakit" Friska menatap secarik kertas bertulis itu, haruskah ia menemui orang yang ayah nya maksud?


Di surat itu, ayah nya memang meminta Friska menemui rekan nya itu jika sang ayah sudah tiada.


Isi surat ini, lebih seperti permohonan agar Friska mau menemui rekan mendiang ayah nya dan entah apa tujuan nya tapi Friska rasa ada sesuatu dibalik semua ini.


Bibi Dona memberikan Friska kertas berukuran sedang, dari bentuk nya seperti kertas biasa yang hanya ada nomor yang tertera disana berserta nama yang ditulis tangan Ayah Friska.


"Kau bisa mencoba menghubungi temen Ayahmu dulu. ” saran bibi Dona.


Friska pun menatap kertas berisikan beberapa digit nomor itu. "Coba saja Friska, siapa tau ayah mu punya maksud tersendiri. Karena tak mungkin bukan, ia menyuruh mu menemui orang itu jika tidak ada sangkut pautnya dengan ayahmu?"


Friska diam sejenak, menimbang keputusan yang akan dia ambil dan Friska pun menghela nafas sambil tersenyum kearah Reza dan bibi Dona

__ADS_1


"Baiklah, akan ku coba menghubungi nomor ini."


_______


Setelah selesai mandi, Friska merebahkan diri diatas kasur kesayangan nya sambil memandangi kertas nomor yang diberi bibi Dona tadi. Disana tercetak sebuah nama Movic.


Sejujurnya, Friska masih bingung. Haruskah ia menemui orang itu?


Apa Orang itu Temen Ayah?


Tapi bagaimana jika orang itu tidak ada sangkut paut nya dengan mendiang ayah nya?


Hanya sebatas rekan kerja mungkin?


Tapi Friska juga ragu, tidak mungkin ayah nya menyuruh Friska menemui orang itu jika tanpa alasan bukan?


Apalagi ayah nya berkata bahwa Friska harus menemui orang itu ketika ayah nya sudah meninggal dunia.


"Sepertinya aku memang harus menemui nya, biar penasaran ku terjawab dengan peninggalan Ayah ini." Ucap Friska.

__ADS_1


__ADS_2