Boss

Boss
SEASONS 2 : Perjanjian Ayah dan Paman Movic


__ADS_3

"Tapi ini Red velvet Cake terenak sepanjang masa bibi! Aku bersumpah, ini Red velvet Cake ternenak dari semua Red velvet cake yang pernah aku makan selama 21 tahun aku hidup!" Jawab Friska antusias.


Cantika terkekeh, "Dasar kau ini. Ohiya ngomong-ngomong, kau tinggal dengan siapa sekarang?"”


"Aku tinggal sendiri bibi. Sebenarnya bibi Dona sudah mengajak ku untuk tinggal dengan nya namun aku menolak nya" jawab Friska.


“Mengapa kau menolak nya?” Friska pun terdiam sejenak, kemudian menghela nafas nya sebelum bercerita.


"Aku hanya ingin menjadi anak yang mandiri bibi. Aku ingin belajar hidup sendiri dan mendapatkan hasil dari kerja keras ku sendiri. Aku juga tidak ingin merepotkan orang lain" ujar Friska.


Cantika dibuat kagum sama anak perempuan sahabat suaminya. Bagimana bisa gadis yang baru berusia 21 tahun sudah memiliki pemikiran sedewasa dan sebijak itu?


"Lalu untuk biaya hidupmu?"


"Aku bekerja part time di sebuah cafe dan juga aku melanjutkan sekolah musik ayah ku. Memang hasil nya tak seberapa, namun itu cukup untuk memenuhi kebutuhan ku sehari-hari. Dan juga ibuku masih suka memberi ku uang untuk biaya kuliah ataupun kebutuhan sehari-hari ku" jelas Friska.


"Sebenarnya aku sudah menolak, agar ibu tak usah mengirimi ku uang. Karena pasti dia juga membutuhkan uang nya untuk kehidupan sehari-hari nya. Namun ia tetap bersikukuh memberiku uang, katanya ini memang tanggung jawab nya sebagai ibu. Jadi ya...seperti itu" sambung Friska.


Cantika pun semakin kagum. Bukan nya merasa kasihan, tapi Cantika dibuat kagum sekagum kagum nya.


Friska berbeda dan dia gadis yang kuat dan juga tegar. Jika biasanya, gadis seusia Friska sedang menikmati masa muda nya seperti berbelanja barang-barang mahal, pergi ke salon untuk merawat diri, atau pergi ke bar bersama kawan-kawan nya.

__ADS_1


Friska justru menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja dan mengisi waktu lain dengan hal yang positif.


"Kau hebat Friska, kau gadis yang mandiri dan aku yakin, suatu saat nanti, kebahagiaan akan berpihak kepadamu" ucap Cantika yang saat ini mata nya sudah berkaca-kaca.


"Friska." panggil Cantika.


"Iya Bibi?"


Diam selama beberapa detik, hingga akhirnya Cantika berkata, "Bolehkah aku memeluk mu?" Tanya Cantika.


Detik itu juga hati Friska merasa tersentuh dan setelah sekian lama akhirnya ada yang meminta memeluk nya lagi.


Tanpa sadar air mata nya mengalir begitu saja, Friska pun mengangguk dan tak butuh waktu lama Cantika pun segera mendekap tubuh mungil gadis itu.


Air mata Friska terus mengalir, ia membalas dekapan Cantika dan membenamkan wajahnya di dada wanita berusia sekitar 45 tahun itu.


Friska rindu pelukan seperti ini, Friska rindu dekapan hangat seperti ini dan Friska rindu usapan lembut dipunggung nya seperti ini.


Friska rindu semua ini dan rindu ibu dan keluarga nya. Cantika yang sadar Friska menangis, terus memberi usapan lembut di punggung Friska dan sesekali mengusap lembut rambut hitam Friska.


Cantika mengerti, ini pasti berat untuk Friska. Ini bukanlah beban yang mudah ditanggung oleh semua orang.

__ADS_1


Cantika mengerti, Friska pasti menahan beban nya selama ini sendirian. Gadis ini kuat, bahkan mungkin sangat kuat. "Friska dengarkan aku" Ucap Cantika dengan lembut.


Cantika melepaskan pelukan nya dan memegang kedua bahu Friska sambil menatap mata nya.


"Jika kau membutuhkan seseorang untuk bercerita. Jika kau merindukan ibumu dan jika kau ingin memeluk ibu mu, jika kau ingin sesuatu atau membutuhkan sesuatu. Jika kau rindu masakan ibu mu kau bisa mendatangi ku Friska. Kau bisa meminta tolong kepada ku untuk membantu mu dan aku sangat ingin membantu mu. Anggaplah aku ini ibumu Friska. Anggaplah aku ini ibumu" ucap Cantika dengan suara lembut nya.


Friska mendengar ucapan Cantika, Friska semakin menangis tersedu. Matanya semakin sembab dan tanpa ragu ia memeluk Cantika lagi.


"Terimakasih bibi, aku sangat berterimakasih bibi. Kau baik bibi malahan kau sangat baik bibi. Aku berterimakasih padamu bibi. Terimakasih" ujar Friska sambil menangis.


"Tak perlu mengucapkan terimakasih Friska. Anggaplah ini sebagai balas budiku karena ayah mu sudah menolong suami ku saat itu. Ayah mu sangat baik, sama seperti mu. " jawab Cantika sambil mengelus lembut puncak kepala Friska.


"Friska, kau kenapa?" Tanya Movic yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.


Sontak Friska pun melepas pelukan nya pada Cantika dan buru-buru mengahapus air matanya.


"Ah ani, aku tidak apa-apa paman. Aku hanya sedih karena menceritakan ayah" jawab Friska sambil menghapus sisa air matanya.


Movic pun tersenyum, kemudian ikut duduk diantara dua kaum hawa ini. "Friska, ada yang ingin ku bicarakan pada mu" ujar Movic tiba-tiba


"Eoh, ada apa paman?" Tanya Friska. Movic menghela nafas nya sebelum becerita

__ADS_1


“Dahulu, aku membuat sebuah Perjanjian dengan ayahmu."


__ADS_2