
Akhirnya hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari ini, pernikahan Friska dan Farel akan segera di laksanakan.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik dan matang. Dari segi dekorasi, hingga hal paling kecil sekalipun.
Keluarga Davkaza ingin ini menjadi pesta yang meriah, karena ini kali pertama mereka menikahkan salah satu putra mereka.
Friska menatap pantulan dirinya di kaca dan senyum manis dan tulus tercetak di wajah manis nya.
Hari ini Friska akan melangsungkan pernikahan. Hari ini juga ia akan memenuhi permintaan dan amanat dari mendiang ayah nya.
Friska tersenyum sendu, membayangkan betapa bahagia nya jika ayah nya berada disini.
 Menemani nya, mendampingi nya hingga akhirnya ia akan pergi bersama pasangan hidupnya.
Namun Friska sadar, ia tak bisa terus meratapi kepergian ayahnya dan Friska harus bangkit.
__ADS_1
Friska yakin, ayah nya pasti akan senang melihat nya hari ini. Friska menghela nafas kemudian tersenyum sebaik dan semanis mungkin. Ia harus menerima perjodohan ini dan ia tak boleh mengecewakan ayahnya.
"Kau bisa Friska. Kau kuat!" ucap Friska, yang menyemangati dirinya sendiri.
Klek!
Pintu ruang busana pun terbuka dan Friska tersenyum begitu tau siapa yang masuk.
"Ibu" sapa Friska sambil tersenyum Fatmah memeluk putri semata wayangnya itu. Kemudian menatap Friska dengan sayang.
"Terimakasih, ibu juga cantik hari ini." Jawab Friska tersenyum, kemudian mencium kening Sang Ibu.
"Sayang, ibu bangga sekali padamu. Kau putri ibu yang cantik, yang kuat dan yang tegar. Ayah mu tak salah mendidik mu. Kau gadis yang baik Friska, maaf karena ibu sempat meninggalkan mu dan ayah mu"
Setetes air mata jatuh dari mata Fatmah dan Friska yang melihat ibunya menangis, langsung memeluk Fatmah dengan hangat dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tak apa ibu, aku mengerti. Aku pun minta maaf karena sempat bersikap kasar kepada ibu. Aku.. A-aku h-hanya..."
"Ssstt.. Tak apa sayang, ibu mengerti. Wajar jika kau marah pada ibu, karena ibu memang salah sayang, tak apa" Fatmah melepas pelukan Friska. Kemudian mengelus pipi putrinya dengan lembut.
"Sayang, sebentar lagi kau akan menikah. Ibu harap, kau selalu berbahagia. Entah itu dalam rumah tanggamu atau dirimu sendiri. Maaf karena ibu sempat tidak merawat mu dan ibu menyesal ,sungguh. Tapi satu hal yang harus kau tau, sejak dulu ibu selalu menyayangi mu. Mendo'akan mu, agar kau selalu baik baik saja" ujar Fatmah.
Friska memegang tangan ibunya yang berada di pipinya, lalu ia usap dengan lembut. "Aku pun selalu menyayangi mu ibu. Rasa sayang ku tidak akan pernah pudar sampai kapan pun. Kau satu satunya berlian yang aku punya sekarang, ibu. Aku menyayangi mu, terimakasih karena sudah kembali"
Fatmah memeluk Friska kembali. Kemudian mengelus punggung putrinya itu, "Ibu berjanji, ibu tak akan meninggalkanmu mulai saat ini. Ibu berjanji, ibu akan selalu ada untuk mu, bersama putri kesayangan ibu lagi. Ibu berjanji" Ucap Fatmah yang masih memeluk Friska. Friska menangis haru ucapan sang ibu.
"Terimakasih ibu. makasih sudah melahirkan ku kedunia ini" Ucap Friska yang melepaskan pelukan nya kemudian tersenyum, sambil menghapus air mata yang berada di pipi sang ibu.
"Sudah, jangan menangis. Nanti make up mu luntur. Nanti Farel tak mau mencium mu jika make up mu berantakan" goda Fatmah. seketika Pipi Friska memerah.
"Ibu!" Rengek Friska
__ADS_1