
Friska terus berlari, namun Felix tak kalah cepat. Ia menarik tangan Friska dan hampir saja Friska terjatuh.
"Aw! Sakit!" Friska mencoba melepaskan tangan nya dari Felix, "Kau gadis yang menabrak ku tadi pagi kan?" Tanya Felix to the point.
"Iya! Memang nya kenapa!" Friska memajukan wajahnya menandakan ia tak takut dengan Felix.
Felix tersenyum miring melihat gadis di depan nya ini. Berani sekali pikirnya.
"Kau sudah tau siapa aku?"
"Felix Erina Davkaza, mahasiswa jurusan Dance tingkat 3 dan seorang CEO!" Jawab Friska mantap.
Felix tersenyum mendengar jawaban Friska, "Sudah tau rupa nya"
"Teman ku menceritakan mu dan juga teman-teman mu padaku! Dan itu bukan atas keinginan ku! Dia sendiri yang menceritakan kau padaku! Jadi jangan terlalu percaya diri tuan Felix!" Ujar Friska tegas.
Lagi lagi Felix tersenyum mendengar jawaban Friska. Dia satu satunya wanita yang berani melawan nya bahkan membentak nya dan sudah jelas, ia membenci Felix.
__ADS_1
"Satu kampus tau siapa aku dan kau tidak tau siapa aku?"
"Untuk apa aku mengetahui orang tidak berguna seperti kau!" Ujar Friska sarkastik.
Lagi, lagi, dan lagi. Friska sukses membuat Felix tertegun dengan jawaban nya.
Felix maju satu langkah, dan tangan nya masih memegang satu tangan Friska. "Apa katamu? tidak berguna?" Tanya Felix sambil memajukan wajahnya.
Sedangkan Friska, ia tetap pada posisinya dan menaikan dagunya, bukan nya takut Friska semakin menunjukan bahwa ia tak takut dengan Felix.
Felix tersenyum miring, ia semakin mendekatkan wajahnya kearah Friska.
"Siapa namamu? Dan kau mahasiswi jurusan apa?” Tanya Felix dengan nada yang lembut.
"Penting namaku untuk mu?" Berbanding terbalik Friska semakin menegaskan setiap perkataan nya.
Jujur ia sudah muak melihat Felix di depan wajahnya, Felix semakin memajukan wajahnya dan mau tak mau Friska mundur.
__ADS_1
Namun Felix semakin semakin mendekatinya dan Felix terus maju sedangkan Friska terus mundur, sampai akhirnya Friska tidak bisa mundur lagi karena terhalang sebuah tembok.
Felix yang melihat itu tersenyum. Ia semakin mendekatkan dirinya kearah Friska dan sebenarnya Friska sudah takut, pasalnya saat ini mereka sedang berada di daerah taman belakang.
Taman ini sepi dan jarang didatangi orang, saat ini Felix dan Friska sedang berada di taman ini. Dengan posisi yang paling Friska benci.
Kini wajah Felix hanya berjarak 5 centi dengan Friska dan bahkan nafas Friska sudah tidak teratur sekarang, Felix memiringkan kepalanya dan menatap Friska intens.
"Kau tau? Selama aku hidup belum ada wanita yang berani membentak ku seperti mu, justru semua wanita memohon pada ku dan menggoda ku" ujar Felix sambil terus menatap Friska intens sambil tersenyum.
"Dan kau, adalah satu satunya wanita yang berani membentak ku bahkan kau menentang ku" Felix mulai memegang ujung dagu Friska
"Dan tidak ada yang bisa menolak pesona ku, asal kau tau itu" Friska menggelengkan kepalanya tanda tak nyaman. Tapi justru Felix semakin menguatkan jari jarinya di dagu Friska.
"Sttt jangan banyak bergerak sayang, aku tidak akan macam macam padamu" Ujar Felix dengan nada seduktif.
Felix mendekatkan bibirnya kearah telinga Friska kemudian berbisik, "Hanya akan melalukan satu macam."
__ADS_1