
“Mengapa ayah memilih menjodohkankan mu, dibanding aku? Maksud ku, aku adalah Abang mu. Bukan kah harus nya aku yang menikah?"
"Aku tak mengerti Bang dan lagi mengapa gadis itu menerima nya? Padahal usia nya masih muda, mengapa ia mau menerima perjodohan ini?"
"Bagaimana gadis itu?"
"Maksud mu?” Tanya Farel bingung.
"Maksud ku, gadis itu gadis yang lugu atau agresif atau gadis yang menor, atau bagaimana?” Tanya lelaki itu
"Oh. Dia manis juga sebenarnya cantik. Dan menurutku dia gadis yang sopan dan terlihat mandiri. Tidak terlalu buruk juga sih, untuk dijadikan sebagai istri" ujar Farel.
"Siapa nama nya?"
“Ah justru itu! Aku lupa nama nya" Jawab Farel cengengesan.
Tok.. Tok.. Tok..
Tiba tiba suara ketukan pintu menginterupsi obrolan kedua saudara kandung itu.
“Farel, apa kau bersama Abang mu?" Tanya Cantika dari luar.
"Iya bu, kami ada di dalam" jawab Farel.
"Kalian berdua, bersiap lah! Sebentar lagi kita akan makan malam bersama keluarga dan juga calon istri mu, Farel. Ibu tidak mau tau, pukul 5 sore kalian sudah siap! Mengerti?" Ucap Cantika.
"Iya Ibu!" Jawab Farel dan berserta Abangnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ibu tunggu kalian di bawah" ujar Cantika yang mulai meninggalkan kamar anak laki-laki nya itu.
“Bagimana ini Bang? Aku tak mau menikah! Pokok nya aku tak mau! Aku masih mencintai Hana!" Rengek Farel.
Laki-laki yang Farel sebut Abang itupun beranjak dari sofa dan segera menuju keluar. Namun sebelum itu dia berkata.
"Terima saja Farel. Ini mungkin sudah takdir mu"
__________
Restoran mewah yang berada di salah satu hotel terkenal di kota Jakarta, kini terlihat ramai oleh dua pasang keluarga yang sebentar lagi akan terikat oleh pernikahan anak-anak mereka.
Para pelayan segera menaruh makanan dan minuman diatas meja dan disusul Cantika yang ikut membantu menyusun nya.
"Bibi, biar aku bantu"
Cantika pun tersenyum, melihat gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantu nya ini.
Rambut hitam lebat nya yang tergulung rapih menjadi penyempurna penampilan manis gadis itu.
Setelah meja siap, Cantika dan Friska pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Movic pun tersenyum melihat interaksi istri dan calon menantu nya itu.
Movic tak salah memilih Friska sebagai menantu nya, "Akhirnya kita bisa berkumpul bersama, setelah sekian lama nya. Benarkah Dona?" Ujar Movic yang memulai percakapan.
"Benar Kak Movic, sudah lama kita tak berkumpul bersama seperti ini" jawab bibi Dona ramah
Movic memang bersahabat dengan bibi Dona dan juga Ujang mendiang ayah Friska. Mereka bersahabat sejak di bangku SMA dulu.
__ADS_1
"Ohiya Dona, apa suami mu masih bekerja di Jepang?” Tanya Movic
"Iya, dan dia minta maaf, karena tak bisa menghadiri acara malam ini. Saat ini pekerjaan nya memang sedang tak bisa ditinggalkan" ucap Dona
"Tak apa Dona, kami mengerti" kini Cantika yang berbicara.
Hening beberapa saat, sampai akhirnya Movic tersadar bahwa anak sulung nya belum bergabung bersama mereka
"Farel" panggil Movic.
"Iya, ayah?" Jawab Farel, dengan sedikit nada malas di dalam nya.
"Dimana Abang mu?" Tanya Movic
“Dia sedang berada di toilet, sebentar lagi juga ia akan kemari" jawab Farel.
"Kau memiliki dua orang putra?" Tanya bibi Dona
"Iya, kami memiliki dua orang putra. Namun putra pertama kami, memang orang yang sibuk. Dia terlalu fokus mengurusi pekerjaan nya, sampai sampai ia memang jarang diam di rumah" jelas Cantika
“Semuanya, maaf sudah menunggu"
Semua pasang mata yang berada di meja itu, langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pria yang kini masih sibuk membenarkan tuxedo hitam nya.
Mata Friska terbelalak, begitu ia tau siapa pria yang baru saja bergabung bersama mereka
"Felix?!"
__ADS_1
Merasa terpanggil, Felix pun segera mengangkat kepala nya. Dan betapa terkejut nya dia begitu melihat siapa wanita yang kini tengah menatap nya.
"Friska!"