
"Sepertinya aku memang harus menemui nya, biar penasaran ku terjawab dengan peninggalan Ayah ini." Ucap Friska.
Friska pun mengambil ponsel nya yang berada di atas meja nakas dan kemudian menyalakan ponsel nya.
Ternyata sudah ada sekitar 10 pesan yang masuk ke dalam akun chatting nya. Friska pun membuka aplikasi hijau itu untuk melihat, siapa yang mengirimi nya pesan sebanyak ini?
Ternyata lagi dan lagi, Felix Erina Davkaza lah pelaku nya. Friska sudah menduga sejak awal, jika pria itu lah yang mengirimi Friska pesan tidak jelas sebanyak itu.
Friska pun membiarkan nya, lagi pula ia terlalu malas untuk membalas pesan-pesan dari Felix. Masih ada urusan yang lebih penting dibanding harus membalas pesan-pesan dari lelaki itu.
Friska pun mulai memencet beberapa nomor di atas layar ponsel nya dan kemudian dengan ragu ia memencet tombol hijau untuk memanggil nomor tersebut.
1 detik, 2 detik, 3 detik hingga 5 detik tak ada jawaban juga dari sebrang sana. Tapi baru saja Friska akan mematikan terdengar dari ponsel panggilan nya, suara seseorang sudah terangkat.
"Ya, Halo?" Friska terdiam, jantung nya berdetak dua kali lipat. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup sekarang.
"Halo, Siapa ya?"
__ADS_1
"Oh iya. Halo... Ah! Apa benar saya berbicara dengan tuan Movic?” Tanya Friska ragu
"Iya ini dengan saya sendiri. Maaf saya berbicara dengan siapa?" Ujar pria yang Friska yakini usia nya tidak jauh dengan alm. ayah nya
"Oh perkenalkan, saya Friska Kamila Adiwangsa. Putri dari Ujang Adiwangsa" jawab Friska sopan.
"Ohh ternyata kau putri Ujang, aku kira siapa" ujar Movic sembari terkekeh.
"Ah iya tuan, maaf jika aku menganggu mu. Apakah kau kenal dengan ayah ku?"
"Tak usah se formal itu padaku Friska panggil aku Om saja. Iya, aku mengenal ayahmu. Dia sahabat ku."
"Ah tidak juga, kebetulan aku sedang istirahat. Memang nya ada apa?"
"Em... Begini Om, aku baru saja menemukan sebuah surat dari mendiang ayah ku dan isi surat itu ayah menyuruh ku untuk menemui mu jika ia sudah tiada. Dan juga di dalam surat itu, aku menemukan nomor Om yang ditulis ayahku. Apakah Om tau, mengapa ayah ku menyuruh ku untuk menemui Om?" Tanya Friska hati-hati takut salah bicara.
Hening selama beberapa detik, tidak ada jawaban dari Movic. Tapi tak lama, Friska mendengar helaan nafas dari sana.
__ADS_1
"Friska, apa kau sibuk besok?"
"Aku tidak sibuk Om, lagi pula besok hari minggu jadi aku tak ada jadwal apapun"
"Kalau begitu, temui aku besok. Kau bisa?" Tawar Movic
"Iya Om. Aku bisa. Dimana aku bisa menemui Om?" Tanya Friska antusias
"Di rumah ku saja. Lagipula ada istri dan juga anak-anak ku. Jadi kau tidak terlalu canggung nanti jika bertemu dengan ku"
"Baiklah Om, terimakasih. Maaf aku sudah menganggu Om" ucap Friska sopan
"Tak apa. Nanti aku kirim kan alamat rumah ku. Ok? Lebih baik kau beristirahat sekarang. Tidak baik anak perempuan tidur terlalu larut."
"Iya Om. Sekali lagi, terimakasih" Ucap Friska
"Sama-sama, kalau begitu aku tutup ya. Sampai bertemu besok" Ujar Movic di sebrang sana
__ADS_1
"iya Om”
Bip!