
"Tidak bibi, kalaupun ada hanya masalah kecil, aku masih bisa mengatasi nya" jawab Friska sambil tersenyum.
"yasudah, kalau begitu kau duduk saja dulu, bibi akan membuatkanmu sarapan. Kau pasti belum sarapan kan?" Friska hanya tertawa menjawab pertanyaan bibi Dona.
"Aish kau ini, yasudah tunggu disini ya"
"Oke Bi, terimakasih banyak." Bibi Dona pun masuk ke dapur dan membuatkan sarapan untuk Friska. Sedangkan Friska, ia sedang melihat ke sekitar.
Tidak seperti biasanya, sekolah terlihat sepi. Padahal biasanya jika di hari sabtu dan minggu akan banyak anak-anak yang datang.
"Bibi mengapa kelas terlihat sepi? Tidak seperti biasanya" tanya Friska ketika bibi Dona keluar dari dapur.
"Ah iya! Ada yang ingin bibi bicarakan denganmu." ujar bibi Dona sambil menaruh makanan untuk Friska di meja.
"Ada apa bibi?"
"Tapi kau harus makan dulu!" Perintah bibi Dona
"Iya bibi, aku akan mendengarkan perkataan mu sambil makan. Jadi ada apa?"
"Kau tau sekolah ini adalah peninggalan ayahmu satu satu nya kan?" Tanya bibi Dona
__ADS_1
"Iya, memang ini kan sekolah peninggalan ayah satu satunya. Lalu kenapa?" Tanya Friska sambil memasukan makanan nya lagi.
Bibi Dona pun menghela nafas sebelum bercerita, "Jadi begini Friska, seminggu yang lalu salah satu pemilik perusahaan datang ke daerah ini" ujar bibi Dona
"Lalu?"
"Dan ia telah membeli seluruh tanah di wilayah ini" Friska langsung tersedak begitu mendengar perkataan bibi Dona. Friska pun langsung meminum-minuman nya yang sudah tersedia di mejaa
"Maksud bibi?"
"Jadi, pemilik perusahaan itu telah membeli seluruh tanah di wilayah ini termasuk lahan sekolah kita, rencana nya ia akan membangun mall disini" tutur bibi Dona.
"Aku serius Friska, makanya hari ini murid kita hanya sedikit karena sebelum nya aku berbicara kepada orang tua mereka bahwa kita akan segera pindah."
"Tapi kenapa? Kita kan selalu bayar sewa bibi"
"Memang, tapi Pak Haji Udin terpaksa menjual nya karena ia sedang butuh uang banyak untuk pengobatan istrinya. Dia juga sudah minta maaf padaku kemarin, karena kita harus pindah." jelas bibi Dona
"Dan mulai besok kita harus berkemas Friska, karena perataan lahan akan dilaksanakan 5 hari lagi"
"Tidak bisa kah kita tetap disini bibi?"
__ADS_1
"Aku sudah mencoba membujuknya namun tetap tak bisa Friska, masih untung kita buka hari ini. Pak Haji Udin memberikan keringanan untuk kita membuka sekolah ini selama 3 hari."
Friska diam. Ia memikirkan bagaimana caranya agar sekolah nya ini tetap bertahan. Ia tidak ingin pindah. Pokoknya ia harus tetap mempertahankan sekolah ini.
“Bibi, apa kau tau siapa pemilik perusahaan itu?" Tanya Friska.
"Aku tak tau, tapi pemilik lahan pernah memberikan alamat kantor nya padaku."
"Apakah kau masih menyimpan nya bibi?"
"Ah ada! Tunggu sebentar." Bibi Dona pun kebelakang mencari alamat kantor perusahaan tersebut.
"Nah ini alamat nya Friska." bibi Dona pun memberikan alamat itu ke Friska.
"Terimakasih bibi, percaya lah pada ku. Kita akan tetap disini dan kita tak kan pergi kemana pun!" Ujar Friska.
"Kau yakin Friska?"
"Percayakan pada ku bibi. Kau hanya harus mendo'akan ku oke?" Friska bangkit dari duduk nya.
Bibi Dona pun menghela nafas dan tersenyum, "Baiklah aku percayakan padamu. Tapi jangan terlalu memaksakan juga Friska."
__ADS_1