
"Apa kau bilang? Aku menjadi asisten mu selama satu bulan?!" Protes Friska. Felix hanya mengangguk sebagai jawaban
"Kau Gila! Aku tak mau jadi asisten mu! Lebih baik aku menjadi pekerja toko seumur hidup, daripada harus menjadi asisten mu!" Tolak Friska.
"It's oke girl! aku tidak akan memaksamu. Jika kau tak mau menjadi asisten ku tak apa, tapi kau tetap harus membayar 12 juta rupiah sekarang” ujar Felix dengan ekspresi yang menyebalkan.
Friska terdiam. Kali ini bukan karena ia sedang berfikir, tapi ia sedang coba menahan emosinya. Mencoba untuk menenangkan hati nya agar damai, tenang, tentram dan bersahaja.
"Aku hanya mengajukan dua pilihan padamu. Bayar uang sewa atau menjadi asisten ku" Ujar Felix sambil tersenyum miring
"Kau memang rubah sialan Felix Erina Davkaza!!" geram Friska.
"Ini bisnis sayang. Siapapun berhak melakukan apapun demi bisnis nya." kata Felix dengan gaya angkuh nya
Friska menatap Felix dengan tajam. Mulai detik ini Felix adalah salah satu orang yang masuk ke dalam blacklist hidupnya.
"Jadi jawaban mu?" Tanya Felix
Friska memejamkan matanya. Semoga pilihan nya benar dan semoga keputusan nya adalah keputusan yang terbaik, membawa keuntungan baginya
Felix masih menunggu jawaban Friska, ia penasaran. Keputusan apa yang akan gadis ini ambil.
"Jawaban ku adalah.." Friska menggantung ucapan nya, dan Felix masih setia menunggu nya.
__ADS_1
Friska menghela nafas nya perlahan kemudian mengeluarkan nya dari mulut. "Aku memilih...."
"Membayar sewa" Felix terkejut dengan keputusan Friska. Terlihat dari ekspresi nya, Felix dibuat terkejut lagi oleh Friska.
"Oh o-oke" ujar Felix
"Aku akan membayar sewa nya dengan menjadi asisten mu tuan Felix."
_______
Friska sedang meminum secangkir cappucino nya sembari menatap kearah luar. Ia melirik arloji nya
...14.00 WIB...
Friska melihat kearah pintu. Kedua alisnya bersatu. Pertanda bahwa ia bingung.
"Hai?"
Tanya seseorang yang berdiri di depan Friska. Friska hanya diam dan menatap wajah seseorang itu dan sadar Friska bingung, pria itu menurunkan masker hitam nya sampai ke dagu.
Begitu tau siapa seseorang di balik masker hitam itu, Friska langsung memasang ekspresi datar dan tidak minat nya.
"Apa aku terlambat?" Tanya pria itu sambil menarik kursi di depan Friska.
__ADS_1
"Kau terlambat 30 menit tuan Davkaza." jawab Friska ketus
Felix hanya tertawa, kemudian membuka masker nya. "Kau sudah memesan makanan? Jika belum pesan lah" tawar Felix.
“Kau ingin membicarakan apa? Aku tak punya banyak waktu untuk berbicara dengan orang seperti mu." ujar Friska to the point. Felix tersenyum miring, sifat angkuh dan jutek Friska tidak hilang ternyata.
“Ternyata kau lebih suka yang inti-inti ya" kata Felix sambil memasang ekspresi yang sulit diartikan.
Cukup lama ia mencoba mengerti maksud perkataan perkataan Felix, namun tak lama Friska sadar.
Cih!
Dasar pria berotak kotor!
"Jika kau tak segera berbicara, aku akan pergi!" Ujar Friska.
"Sabar sayang, semua itu butuh proses." goda Felix.
"Terserah" jawab Friska sambil mendelik. Felix hanya tertawa kecil.
"Oke, disini aku ingin membicarakan mengenai kesepakatan kita" ujar Felix.
"Maksud mu?" Tanya Friska.
__ADS_1
"Kau akan menjadi asisten ku selama 1 bulan. Maka aku ingin membuat perjanjian dengan mu" jelas Felix.