
"Kau menyukai Farel?" Tanya Felix lagi.
"Ehm..mungkin i-iya" jawab Friska ragu. Felix sedikit heran dengan nada bicara Friska.
Mengapa gadis itu terdengar gugup?
"Kau sungguh menyukai nya?" Tanya Felix memastikan. Friska menelan ludah nya.
"I-iya"
Sejujurnya Friska belum begitu menyukai Farel, ia hanya sebatas menganggumi saja. Tapi mendengar nada bicara Felix, Friska pikir Felix ingin mengetahui perasaan calon istri adik nya.
Apakah Friska pantas untuk adik nya atau tidak. "Kau mencintai nya?" Kali ini nada bicara Felix sedikit lebih menuntut, entah kenapa Friska terdiam.
Bagaimana ini?
Haruskah ia jujur?
Atau tidak?
"Jujur saja. Aku hanya penasaran, tidak lebih. " ujar Felix seakan tau apa yang sedang Friska pikir kan.
"A-aku belum mencintai nya. Tapi aku yakin, perlahan aku bisa mencintai nya seiring berjalan nya waktu" kata Friska meyakinkan.
Entah kenapa hati Felix mendadak terasa mencelos. Seperti, sedikit sesak namun entah karena apa.
__ADS_1
Kali ini Felix yang terdiam. Entah mengapa ia jadi enggan untuk bertanya lebih. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"
Felix tertegun. Pertanyaan Friska membuat nya sedikit terkejut. "emang gak boleh aku tanya, aku hanya sekedar ingin tahu saja." jawab Felix gugup
Friska mengulum bibir nya dan menganggukan sedikit kepala nya sebagai respon.
Suasana kembali hening dan hingga akhirnya mereka pun sudah sampai di sekolah musik milik Friska.
“Terimakasih" ucap Friska. Setidak nya ia masih bisa bersikap baik.
Namun ia kembali dikejutkan dengan kelakuan pria berkaus hitam yang memakai jeans hitam ini.
Friska terkejut mendapati Felix ikut turun dan menyusul nya. "Ngapain kau turun Felix!" Pekik Friska.
"Lah emang gak boleh?" Jawab Felix enteng
"Permintaan ku hari ini. Aku mau seharian bersamamu." ucap Felix.
"Apa? Apa katamu?!" Friska menganga tak percaya. Mengapa dari hari ke hari, Felix semakin menyebalkan sih?
"Ayo Friska! Kau tak perlu berterimakasih, anggap Saja aku sedang berbaik hati" Ujar Felix yang tiba-tiba Felix menarik tangan Friska dan membawanya masuk ke dalam sekolah musik nya.
Friska masih tidak habis pikir dengan kelakuan Felix, sehingga ia hanya terdiam ketika Felix menarik nya.
Ketika masuk, Felix melihat bibi Dona yang sedang berdiri di salah satu ruangan. Felix yakin, itu kelas nya.
__ADS_1
"Eoh Felix kau disini." sambut bibi Dona.
"Halo bibi" sapa Felix dengan sopan.
"Ada apa? Tumben kau datang kemari" Felix tersenyum, kemudian ia menarik Friska untuk berdiri di samping nya.
"Hari ini aku akan menemani Friska mengajar. Tak apa kan bi?" Terkejut, Itu respon pertama bibi Dona.
Bibi Dona pun memandang ponakan nya dan seolah bertanya. Friska yang mengerti arti tatapan bibi nya langung menggelengkan kepalanya cepat.
Seolah berkata "jangan"
"Boleh kan bi?" Mohon Felix.
"Ah! Itu-"
Belum selesai bibi Dona menjawab, tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri mereka sambil membawa sebuah gitar kecil
"uncle! Mengapa uncle ada disini?" Tanya anak itu
Ketiga orang dewasa itu lantas menoleh kearah Jefran, yang juga keheranan mendapati Felix ada disini
"Ah Jefran, hallo!" Sapa Felix.
"Uncle, tidak bekelja? Uncle mau apa kesini?" Tanya Jefran lagi.
__ADS_1
Felix tersenyum kemudian berjongkok mensejajarkan badan nya dengan Jefran
"Hari ini, uncle akan menemani kak Friska mengajar disini" ucap Felix