
Ardi kembali ke kantornya. Membereskan beberapa barang dan menaruhnya dalam kotak yang sudah dia siapkan. Hari ini hari terakhirnya dia di kantor. Dia membuka laptopnya mengecek email yang masuk. Ting! Ada satu email baru yang masuk.
" Dari Pak Bambang ? " Ardi ternyata lupa kalau tadi setelah keluar dari kantor cabang dia menelpon Pak Bambang untuk mencari semua informasi tentang Rizal Ramadhan.
Klik! Dia membuka email itu. Dia membacanya dengan muka yang tiba-tiba berubah menjadi suram.
" Rizal Ramadhan, anak semata wayang dari direktur Lukman Hadi Iryawan. Dia sengaja ditugaskan di kantor cabang untuk mengawasi kinerja kantor itu dan untuk mendekati Dara... " Ardi mengepalkan tangannya.
" Jadi Pak Wawan ingin menjadikan Dara menantunya ? Aku tidak bisa tinggal diam..aku harus bergerak cepat..Aku tidak mau Dara jatuh kepelukan laki-laki lain."
Ardi segera menelpon Bu Yanti agar besok setelah makan siang diadakan meeting dengan para staf yang mengambil alih pekerjaannya. Dia memberi alasan kalau ingin melihat dan menilai langsung kinerja mereka. Dan merekomendasikan kepada mereka siapa diantara beberapa staf karyawan itu yang mampu menggantikan posisinya di kantor pusat.
Rapat sudah terjadwal. Ardi melihat kesekeliling ruangannya sebelum akhirnya dia meninggalkan ruangan itu. Ardi menelpon salah seorang security untuk membawakan kotak yang berisi barang-barang pribadinya.
Sepanjang perjalanan pulang lagi-lagi Ardi mengingat apa yang terjadi tadi pagi di kantor cabang. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dicintainya bersama dengan pria lain. Walau dia tahu wanita itu tidak melakukan hal diluar batas, hanya prianya saja yang berusaha mendekatinya terus. Muka Ardi merah padam menahan amarah. Dia berusaha terus fokus menyetir.
Sesampainya dirumah Ardi langsung berlari ke lantai dua menuju kamarnya. Dia membersihkan diri di kamar mandi. Dia merasa tak bertenaga lagi badannya. Merebahkan diri ke atas kasur, lalu tak berapa lama dia pun terlelap.
Uukk..uk..uuuukkk..! Sedari tadi ayam jago berkokok, sebagai tanda sang surya telah keluar dari peraduannya. Ardi bangun dari tidur nyenyaknya. Mengangkat kedua tangannya lalu meregangkan badan. Tubuhnya kembali segar sekarang seperti HP yang sudah terisi penuh batreinya. Dia lalu bergegas mandi dan berganti baju. Pagi ini dia tidak ada kegiatan, jadi bisa bersantai sebentar sampai jam makan siang nanti.
Ardi baru ingat kalau kotak kardus yang berisikan barang-barang dari kantor lama masih berada di bagasi mobilnya. Dia turun kebawah mencari Pak Salim.
__ADS_1
" Pak...Pak Salim..Pak Salim.." teriak Ardi sembari menuruni anak tangga.
" Iya Den...saya den..." teriak Pak Salim sembari berlari kecil dari arah belakang menuju sumber suara.
" Pak, minta tolong ambilkan kotak kardus di bagasi mobil ku ya Pak..ini kuncinya..dan tolong bawa ke kamarku ya,Pak." Kata Ardi menyerahkan kunci mobil ke Pak Salim.
" Baik Den.." Pak Salim mengangguk dan langsung berlari menuju garasi mobil.
" Nak, kamu mau sarapan ? " Tanya ibu dari dapur.
" Memang ibu lagi masak apa ? " Tanya Ardi balik menuju ke dapur.
" Nanti aja bu, sementara ganjel dulu sama roti aja. " Ardi mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya.
" Oiyah, kamu hari ini sudah bebas dari kantornya Pak Wawan ? " Tanya ibu yang sedang mencicipi masakannya.
" Udah bu, cuma nanti siang ada meeting di kantor cabang buat lihat yang terakhir sama mau ngucapin terima kasih ke para staf yang udah bantu aku untuk peralihan tugas ini. " Kata Ardi dan memasukan suapan terakhir ke mulutnya.
" Den Ardi..ini langsung dibawa ke kamar ? " Tanya Pak Salim yang sedang membawa kotak kardus yang diminta Ardi sebelumnya.
" Iya Pak, tolong dibawa ke atas ya..Terima Kasih. " Kata Ardi sembari menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
__ADS_1
" Apa itu,nak ? " Tanya ibu penasaran.
" Itu bu, barang-barang aku yang ada di kantor lama. Selesai aku bebenah barang-barang itu, nanti aku turun buat makan. Keatas dulu ya bu. " Jawab Ardi setelah meminum abis air putih digelasnya.
Ardi menaiki tangga menuju kamarnya. Kotak kardus itu sudah diletakkan oleh Pak Salim di atas karpet samping tempat tidurnya. Dia membuka kardus itu. Dia mengeluarkan satu persatu barang itu dan meletakkanya di depan dan disamping kanan kiri kardus itu.
Barang-barang itu terdiri dari figura kayu ukuran 5R bergambar dirinya yang sedang memakai jas, dan juga ada figura perak landscape 5R dengan gambar dirinya sedang memakai baju toga bersama kedua orangtuanya. Lalu ada juga gelas kopi yang selalu dia gunakan dikantor, dia ingat dia sengaja beli gelas itu karena Dara selalu menggunakan gelasnya sendiri ketika mereka berdua masih satu kantor. Kemudian ada beberapa buku motivasi dan buku komik pebasket berambut merah. Ada juga beberapa baju kaos dan kemeja sebagai baju ganti disana.Dan terakhir ada satu kotak kecil berwarna hitam.
Ardi membuka kotak hitam itu. Ada sebuah jam tangan dengan sabuk kulit berwarna coklat disana. Dia mengingat-ingat jam itu punya siapa dan kenapa ada di laci meja kerjanya.
Deg! Ardi mulai mengingatnya. Jam tangan itu adalah sebuah kado. Pemberian dari Rina. Mantan gebetan yang lebih memilih orang lain karena Ardi tidak romantis dan cuek. Sebenarnya sudah dari lama dia ingin mengembalikannya tetapi ternyata belum ada kesempatan dan kontaknya entah hilang kemana. Nomer HP yang dulu sudah tidak aktif.
Ardi menyentuh jam itu seraya berkata.
" Makasih ya Rin, udah pernah datang ke hidupku. Makasih juga dulu kamu sering curhat ke Dara, karena hal itu yang bisa membuat aku dekat dengannya dan lambat laun aku punya rasa ini untuk Dara. Memang dia belum mengatakan "ya" atau "tidak" atas pertanyaanku kemarin, tetapi aku cukup senang. Memperhatikan dia dari kejauhan....." Tiba-tiba Ardi mengingat kejadian kemarin antara Dara dan Pak Rizal. Ardi mengepalkan tangannya.
" Awas kau Rizal ! Untuk sementara aku masih bersabar karena dia belum sah menjadi wanitaku. Tetapi jika dia sudah benar-benar menjadi milikku maka jangan coba-coba kau merebutnya dariku. Ardi bergumam.
Ardi menata barang-barangnya itu. Kedua foto figura 5R itu diletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu buku-bukunya dia taruh dimeja kerja yang ada di kamarnya. Kemeja dan kaosnya dia taruh didalam lemari. Dan kotak hitam itu ditaruhnya di dalam laci lemari bajunya.
Ardi memeriksa kembali file-filenya itu dengan teliti. Ini adalah rapat yang pertama dan terakhir di kantor cabang bersama karyawan yang sudah membantunya dalam peralihan tugas ini. Sehingga dia harus menyajikan presentasinya dengan sempurna.
__ADS_1