Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.38


__ADS_3

Dara terkejut mendengar teriakan seorang wanita dari dalam kantor. Makin lama suara itu makin jelas. Dan Dara mengenali suara itu milik siapa.


" Itu suara Bu Yanti." Kata Dara.


Benar saja. Bu Yanti sedang diseret keluar dari kantor dengan diapit oleh bodyguard berjas hitam sewaan Rizal.


" Lepaskan! Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" teriak Bu Yanti dengan meronta-ronta.


" Bu Yanti. Kenapa?" Dara hampir saja jatuh karena terkejut.


Ardi dengan sigap menangkap bahu Dara.


" Ra, kamu gak apa-apa?"


" Dara! Tolong saya! Tolong lepaskan saya! Saya tidak bersalah Dara! Saya melakukan ini demi Putri! Dara tolong! Tolong Putri!" Teriak Bu Yanti ketika melihat Dara berada dipelukan Ardi.


" Putri? Kenapa Putri?" Dara langsung berlari menghampiri.


" Bu, Kenapa dengan Putri? Apa yang terjadi dengan Putri?"


" Ra, kamu jangan percaya dengan omongannya. Dia hanya mencari simpati darimu." Ucap Rizal.


" Gak Mas! Paling tidak kita dengar alasannya dulu kenapa dia melakukan hal senekad itu."


" Dia udah jawab tadi katanya, dia butuh uang. Uang itu segalanya buat dia. Udah itu! Karena uang!"


" Tapi aku yakin, Mas. Seorang ibu tidak akan melakukan hal yang begitu nista jika itu bukan hal yang penting dan mendesak. Aku kali ini percaya dengan Bu Yanti."


" Lepaskan dia! " Perintah Rizal.


" Dara, terima kasih." Bu Yanti berhambur kedalam pelukan Dara.


" Coba Ibu sekarang ceritakan pelan-pelan. Kenapa ibu bisa senekad ini? " Tanya Dara.


" Sebenarnya ini aku lakukan untuk Putri. Ayah Putri yang merupakan mantan kekasihku muncul lagi beberapa bulan yang lalu setelah sekian lama menghilang. Dia mengancam akan membawa kabur Putri jika aku tidak mengirimkan sejumlah uang padanya. Hiks..." Air mata Bu Yanti mulai menetes.


" Awalnya aku masih bisa menuruti yang dia mau. Tetapi semakin lama dia menginginkan lebih. Dan tabunganku sudah mulai terkuras, makanya aku nekad melakukan hal ini."


" Bu Yanti tidak mencoba menghubungi polisi?" Tanya Dara.

__ADS_1


" Aku tidak berani! Pernah sekali aku mencoba menghubungi polisi tentang kasus pemerasan dan pengancaman. Tetapi besoknya aku menemukan sebuah paket di depan rumah. Dimana isinya itu sebuah boneka beruang yang mirip dengan milik Putri. Dan boneka itu kepalanya terpotong. Hiks..."


" Dan..dan di dalam paket itu ada surat ancaman jika aku tidak mencabut kasusnya maka Putri akan bernasib sama dengan boneka itu. Hiks..hiks.." Bu Yanti sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Dia menangis tersedu-sedu. Meluapkan semua emosinya yang selama ini dia pendam sendiri. Dara hanya bisa memeluknya dan memberi belaian kasih sayang untuk menenangkan Bu Yanti.


" Sekarang Putri ada dimana ?" Tanya Ardi.


" Dia dibawa ayahnya dengan paksa, karena selama satu minggu ini aku tidak memberinya uang." Jawab Bu Yanti yang sudah mulai menenangkan dirinya.


" Dia menyewa rumah disalah satu kawasan elite di belakang kantor ini."


Dara masih terus membelai Bu Yanti, sedang Ardi menjauh beberapa langkah dari mereka dan mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


" Ra, ini semua salahku..." Lanjut Bu Yanti.


" Bodohnya aku yang termakan janji manisnya. Dia bilang ke aku kalau dia kembali untuk Putri, untuk anaknya. Dia bilang dia ingin menebus kesalahannya diwaktu yang lalu. Dia juga bilang dia tidak menuntut aku kembali kesisinya asalkan dia diberikan kesempatan untuk menyayangi Putri. Aku mempercayai kata-katanya karena sekarang dia sudah menjadi seorang ayah. Aku yakin dia akan berubah demi anaknya. Tetapi ternyata............ Seandainya saja waktu itu aku tidak menerimanya kembali lagi. Mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Putri tidak akan dibawa kabur olehnya. Dan aku tidak harus melakukan perbuatan kotor ini." Bu Yanti kembali terisak menyesali perbuatannya.


" Alasan apapun yang Anda gunakan untuk membenarkan perbuatan ini tetap saya tidak menerimanya. Anda tetap bersalah dan Anda akan tetap menerima hukumannya." Rizal tegas.


" Saya tahu Pak Rizal. Saya akan menerima semua konsekuensi dari perbuatan yang telah saya lakukan." Jawab Bu Yanti tegar.


" Tapi, sebelum itu ijinkan saya untuk bertemu dengan Putri terlebih dahulu..." bibir Bu Yanti bergetar.


" Aku sudah menelpon seseorang untuk mengirimkan beberapa bantuan. Aku akan mencoba menyelamatkan Putri."


" Aku ikut!" Dara bangkit dari duduknya.


" Jangan! Kamu disini saja temani Bu Yanti." tolak Ardi.


" Gak mau! Aku ingin ketemu Putri, aku mau lihat Putri." Dara merajuk.


Ardi membelai rambut Dara.


" Kamu disini, tunggu aku! Aku akan membawa Putri dengan selamat."


"Hmm" Dara mengangguk.


" Zal, gue butuh beberapa orang lu. Boleh gue pinjem sebentar?"

__ADS_1


" Ok! Bawa aja. Tapi gue juga ikut. Gue mau mastiin sendiri dia bohong atau gak."


" Ok!"


Rizal meninggalkan dua orang bodyguard bersama Dara dan Bu Yanti. Sedangkan yang lainnya ikut dengan Rizal dan Ardi ke lokasi penyekapan Putri. Memang benar, sesuai yang diberitahukan Bu Yanti rumah itu letaknya tidak jauh dari kantor cabang.


Ardi dan Rizal menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang diduga disewa oleh ayahnya Putri. Dengan didampingi oleh beberapa bodyguard yang Ardi minta dari Pak Bambang, dia pun memasuki area rumah itu.


Braakk!!


Salah satu bodyguard menendang pintu depan rumah itu hingga rusak. Kini mereka memasuki rumah tersebut dengan mudah. Mereka sudah dihadang oleh anak buah dari ayah Putri dengan membawa senjata tajam.


Ternyata anak buah dari ayah Putri ini sudah mempersiapkan diri mereka dengan sejata karena merasa kalah jumlah. Sang ketua genk, yaitu ayah Putri bersembunyi di salah satu ruangan dengan membawa Putri serta.


Dor ! Dor ! Dor ! Senjata api memuntahkan pelurunya.


Para bodyguard Ardi tidak kalah sigap. Merekapun mengeluarkan senpi untuk menghadapinya.


Ardi dan Rizal yang memang tidak berbekal senjata, mereka pun melawanya dengan tangan kosong. Ketika lawan lengah Ardi berlari ke lantai atas mencari keberadaan Putri.


Dia mencari disetiap ruangan yang ada. Dia membuka pintu ruangan itu satu persatu sambil memanggil nama Putri.


" Princess.....where are you? " Ardi berteriak mencari keberadaan Putri.


" Uncle! I'm here...I'm here..!!" Teriak Putri dari salah satu ruangan yang belum terbuka.


Ardi langsung berlari menuju ruangan dimana suara Putri berasal.


Ceklek! Ardi menemukan Putri.


" Princess..."


" Stop! Dont move! " Perintah pria berkulit putih bermata biru sambil mengacungkan pistolnya ke arah Ardi.


" Calm down Princess..I'm here..everything is ok! Just look at me." Ardi berusaha menenangkan Putri, karena dia melihat mata Putri sembab, terlalu banyak menangis.


" Dont do that! She is my daughter! I will kill you, if you call my daughter with Princess..! SHE IS MY DAUGHTER! "


Ardi melihat kesempatan untuk mengambil Putri dari tangan orang bule itu. Dengan cepat dia mendekati dan menarik Putri ke arahnya. Tetapi......

__ADS_1


Dor!


Suara tembakan dari lantai atas membuat Rizal dan para bodyguard tercengang. Setelah melumpuhkan anak buah dari orang kulit putih itu mereka bergegas berlari keatas mendekati sumber suara.


__ADS_2