
Sesuai yang sudah direncanakan semalam, dari pagi Ardi dan Dara sudah menuju tempat-tempat yang akan mereka kunjungi. Dan mereka memilih pergi ke sebuah pengrajin sepatu untuk tujuan pertama mereka.
Di dalam sebuah ruangan galeri mereka sudah duduk berhadapan dengan sang desainer. Dara mengutarakan sepatu yang seperti apa yang dia ingin kenakan pada pesta pernikahannya. Sesuai dengan arahan Dara, sang desainer pun mulai menggoreskan pensilnya diatas kertas putih. Tak membutuhkan waktu yang lama sang desainer pun telah menghentikan guratannya. Sketsa sepatu pernikahan Dara sudah jadi. Dia sangat takjub dengan hasilnya.
Setelah menyetujui sketsa itu, lalu mereka pun berpamitan dan pergi ke tujuan selanjutnya. Yaitu ke sebuah butik bridal.
Seperti pada umumnya butik bridal banyak terpajang gaun putih yang cantik di dalam etalase toko. Dari gaun bak putri dongeng hingga yang simpel dan elegan dipajang dalam patung peraga. Dara sangat takjub ketika melihat gaun yang sangat cantik itu. Hingga dia hampir melupakan apa yang sebenarnya ia cari.
Salah satu pelayan toko itu menemaninya berkeliling mencari gaun yang dia inginkan. Hingga akhirnya dia menemukannya diantara tumpukan gaun putih yang lainnya. Gaun putih panjang dengan aplikasi kain lace warna senada dipunggungnya. Mata Dara berbinar-binar memandangi gaun itu. Pelayan toko langsung membungkusnya dalam sebuah kotak cantik dan memberikannya kepada Dara.
Selesai urusan dengan baju dan sepatu, kini mereka pergi ke hotel H. Mereka ingin memastikan kembali tempat yang sudah dipesan oleh Ayah Adit via telepon. Mereka pun juga ingin mendiskusikan tentang makanan yang akan dihidangkan diacara pesta nanti. Mereka pun bertemu dengan tim WO yang sudah sering bekerja sama dengan hotel H. Perbincangan mereka cukup panjang karena membahas segala detail dari acara itu.
" Hah!" Dara menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar ketika dia baru duduk dalam mobil. " Capek! Tapi setengahnya sudah kita urus. Tinggal undangan dan souvenir." Dara memberikan tanda di daftar yang sudah dia buat semalam. Lalu dia memasukan kembali dalam tasnya.
" Kan besok tim WO kirim contohnya ke rumah. Kamu bisa memilihnya dengan santai besok."
" Emm." Dara mengangguk.
"Sudah lumayan sore nih. Aku juga dari pagi belum melihatmu makan atau minum setetes airpun. Sebelum pulang kita mampir makan dulu ya.. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Dua hari lagi pernikahan kita."
" Gak usah, Kak. Kita langsung pulang aja. Hari ini sampai dua hari kedepan mama menyuruhku untuk berpuasa."
" Puasa? Buat apa?"
" Gak tahu! Mama bilang biar auranya lebih terpancar gitu."
" Auranya terpancar aur-auran gitu? Hahaha.."
" Kak Ardi!" Dara memukul-mukul bahu kekasihnya manja.
" Hahaha.. Ampun! Ampun!" Ardi menangkap salah satu tangan Dara.
Dara mencerbirkan bibirnya.
" Dimataku kamu akan selalu terlihat cantik," ucap Ardi lembut.
" Gombal!" Dara menarik tangannya lepas dari genggaman Ardi.
__ADS_1
" Lho? Kok gombal sih. Emang kenyataannya begitu kok."
" Iya deh iya. Yudah kita pulang sekarang yuk. Biar gak terlalu sore."
" Ok!" Ardipun menyalakan mesin mobilnya, melajukannya meninggalkan parkiran hotel H.
Sesampainya di rumah Pak Malik, mereka berdua disambut oleh mama Tika yang memang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
" Akhirnya yang ditunggu sampai juga," ucap mama Tika saat Dara mencium punggung tangannya.
" Maaf kesorean, Mah. Soalnya tadi sekalian ngobrol sama pihak hotel dan WO juga," terang Ardi.
" Yudah, masuk dulu yuk, Di. Ada yang ingin mama dan papa obrolkan dengan kalian berdua."
Dara menggandeng tangan ibu tercintanya dan Ardi mengikutinya di belakang. Pak Malik yang sudah tahu kedatangan mereka dari dalam, langsung menemui mereka di ruang tamu.
" Udah pulang, Ra?" tanya papa Malik seraya berjalan menghampiri anak perempuannya.
" Iya, Pah."
" Ada apa, Pah? Sepertinya serius," tanya Dara menyelidik.
" Bukan apa-apa, Nak. Hanya papa cuma ingi mengadakan acara pingitan buat kamu sebelum acara pernikahan."
" Pingitan? Jaman sekarang masih ada pingitan, Pah?"
" Bukan pingitan yang gimana-gimana, Ra. Mama sama papa cuma ingin kalian tidak ketemu dulu sampai hari pernikahan tiba," terang mama Tika.
" Tapi urusan undangan dan souvenir belum kelar. Siapa yang ngurusin nanti?"
" Kamu gak perlu khawatir. Itu bisa kita monitor lewat telpon, Ra. Nanti juga aku akan koordinasi dengan Iqbal untuk pengurusan yang lainnya," tambah Ardi.
" Betul itu kata Ardi. Papa juga nanti akan nyuruh Doni biar dia ikut sibuk mengurusi acara pernikahanmu ini," ucap papa Malik.
" Apa mas Doni mau? Nanti bukannya malah dibikin tambah kacau?" dengus Dara.
" Jangan berfikir seperti itu tentang kakakmu, Ra! Dia memang belum mau menerima Ardi sebagai pasanganmu. Tapi papa yakin kakakmu tidak akan membuat kecerobohan sehingga dia membuat malu keluarganya."
__ADS_1
" Iya, Ra. Walau bagaimanapun mas Doni itu kakakmu. Kamu harus percaya sama mas Doni. Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk adik tercintanya," kata Ardi.
" Baiklah. Nanti aku kasih ke mas Doni rincian yang harus dikerjakan."
" Berikan saja ke papa. Nanti papa sekalian bilang ke Doni."
Dara mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya dan memberikannya ke tangan papa Malik.
" Baiklah, Pah. Kalau begitu saya ijin pamit. Saya mau melakukan persiapan yang lain," ucap Ardi seraya bangun dari tempatnya duduk.
" Hati-hati di jalan ya. Salam buat Pak Adit dan juga Ibu Adit," kata papa Malik.
" Baik, Pah. Nanti saya sampaikan," ujar Ardi seraya mencium kedua tangan calon mertuanya.
Baru saja Ardi meninggalkan kediaman Pak Malik, Doni baru sampai ke rumah entah dari mana dia. Papa Malik yang mengetahui kedatangan putranya langsung memanggilnya masuk ke dalam ruang kerja.
" Don, papa minta tolong kamu urusin persiapan pernikahannya Dara ya," kata papa Malik sambil meletakan buku catatan di depan Doni.
" Jadi papa manggil aku kesini untuk ngomongin masalah pernikahan Dara?" tanya Doni kesal.
" Kamu kan kakaknya Dara satu-satunya. Masa iya kamu gak mau bantuin adik kamu sendiri. Dia adik kesayangan kamu lho. Si cacing kepanasan."
" Tapi, Pah..."
" Tapi kenapa? Kamu masih belum yakin dengan Ardi? Papa tahu kamu sangat menyayangi adikmu sehingga kamu tidak ingin melepaskannya begitu saja dengan orang yang belum kamu kenal. Tapi ini pilihan adikmu sendiri. Dia sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupnya. Kita hanya perlu mendukung dan mengawasinya dari jauh," terang papa Malik.
" Tapi tetap saja, Pah. Aku belum rela melepaskan Dara begitu saja dengan pria itu. Aku akan mencari tahu semua tentang Ardi. Terlebih..."
" Terlebih apa?" selidik papa Malik.
" Terlebih tadi malam ada yang mengirim email kepadaku yang isinya foto-foto Ardi dengan seorang wanita. Dan aku rasa wanita itu adalah Rina Rosa."
" Apa?" papa Malik kaget. " Apa maksud kamu, Don? Kamu jangan mengada-ada. Kamu jangan bohong!"
" Aku tidak bohong, Pah. Aku dan Rizal sedang menyelidiki semua itu sekarang. Makanya aku tidak bisa mengurusi pernikahan Dara. Aku punya misi yang lain."
Papa Malik tertegun mendengar apa yang diucapkan Doni barusan. Antara percaya atau tidak, dia bingung. Benarkah yang diucapkan oleh Doni? Atau dia hanya mengada-ada saja agar pernikahan ini batal? Atau justru kitalah yang selama ini dibohongi oleh Ardi dengan tampang bersahajanya?
__ADS_1