
Ardi yang berjalan belum jauh dari kamar Dara, dia mendengar suara teriakan kedua teman Dara.
" Apa ? Calon suami ? " Eka dan Irma teriak bersamaan.
Deg ! Ada rasa yang aneh di dada Ardi.
" Calon suami ? Siapa calon suami yang dimaksud ? Apa itu Rizal ? Berarti benar Dara sudah menentukan pilihannya ? Dia lebih memilih Rizal ketimbang aku ? Kalau tahu bakalan begini aku tidak akan memberikannya waktu sampai satu minggu. Harusnya aku bilang jawab sekarang juga atau tiga hari kedepan. Damn ! Dan sampai tiga hari kedepan aku hanya bisa menerka-nerka sendiri. Dia memilihku atau Rizal." batin Ardi berkecamuk.
Putri yang melihat Ardi murung mencoba memanggil-manggil namanya. Tetapi belum ada respon. Digoyang-goyangkan tangan Ardi yang menggandeng tangan Putri, tetapi tetap saja tatapan Ardi masih kosong. Lalu tiba-tiba Putri menghentikan langkahnya dan menarik tangan Ardi.
" Iya My Princess.." Ardi tersadar dari lamunannya.
" Uncle ! My King ! What happen ? " Putri bertanya.
" Nothing ! " Ardi tersenyum
" Are you ok, My King ? " Putri menatap Ardi lekat.
" You look so sad, what happen ? "
" It's ok My Princess. I just....." Ardi bingung menjelaskan pada anak sekecil itu.
" Just what ? " Putri penasaran.
" No ! Nothing ! You will not understand. "
" I know ! I see your eyes. It's about in here. " Putri menepuk-nepuk dadanya.
" Haha.." Ardi tertawa kecil.
" What do you know ? "
" I know ! You love her. Love her very much. " Kata Putri dengan polosnya.
" Why...why you can say that ? " Ardi penasaran kenapa Putri bisa menabak perasaannya.
" Because..You take care her carefully. "
" So..If i really love her..Do you agree ? " Ardi meminta persetujuan dari Putri. Karena dia tahu Putri sangat menyayangi Dara.
" Of couse ! " Mata Putri berbinar-binar.
" I love you, King. And I love my queen. "
" So..so..I'm happy if you love her. "
__ADS_1
" Thank you. " Ardi memeluk gadis kecil itu.
" But, I'm not sure.. she love me or not ? "
" Yes ! She love you...I will ask her. "
" Thank you. But, dont do that. I will do it by my self. "
Ardi mengantar Putri hingga ke kamarnya. Disana Bu Yanti sudah tidak sabar menunggunya. Dia ingin bertanya pada Putri apa yang sebenernya terjadi sehingga Ardi bisa menggondang Dara seperti itu. Ada rasa cemburu di dalam hati Bu Yanti.
" Hai honey..are you playing with uncle ? " Tanya Bu Yanti dengan senyum ramah.
" Yes, Momy ! With aunty Novi and aunty Dara, too. "
" Ok! Come in and take bath now. " Bu Yanti menyuruh Putri masuk kedalam untuk mandi.
" Ok uncle ! See you at party My King. " Putri melambaikan tangannya sebelum menghilang masuk ke kamar.
" See you soon my princess. " Ardi pun melambaikan tangannya ke Putri.
" Saya permisi dulu ya Bu. "
" Tunggu sebentar ! " Bu Yanti menghentikan langkah Ardi.
" Tadi Dara kenapa sampai Pak Seno menggendongnya ? Apakah dia sakit ? "
" Oh begitu, lalu sekarang bagaimana keadaan Dara ? Apakah baik-baik saja ? Apa perlu dibawa ke rumah sakit ? "
" Tadi saya sudah coba mengurutnya pakai minyak kayu putih. Semoga lekas sembuh. "
" Aamiin..." Bu Yanti mengusap kedua tangannya ke wajah.
" Baik bu, saya permisi dulu. Sampai ketemu di pesta nanti. "
Ardi pergi meninggalkan Bu Yanti yang masih memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Sambil berjalan menuju kamarnya, Ardi menelpon Iqbal untuk menanyakan persiapan pestanya.
" Halo..Bagaimana persiapannya ? Makanan ? Minuman ? Dekorasi ? Pengisi acara ? Sudah siap semuanya ? Waktunya tinggal satu jam lagi. " Tanpa basa basi Ardi langsung membrondong Iqbal dengan pertanyaan-pertanyaan ketika telpon dijawab.
" Sudah Pak..Makanan dan minuman sedang ditata dimeja saji. Dekorasi sudah selesai. Band pengisi acara juga sudah datang dan sekarang sedang mempersiapkan alat musiknya. " Jawab Iqbal dari sebrang telpon.
" Ok! Thank you. " Kata Ardi singkat. Tanpa menunggu jawaban dari Iqbal dia langsung menutup telponnya.
Ardi sudah sampai dikamarnya. Dia membuka kopernya. Mengambil alat mandinya dan bergegas ke kamar mandi.
Ardi tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan badannya. Dengan berbalut handuk putih Ardi keluar dari kamar mandi. Dia menuju kopernya yang masih terbuka diatas kasurnya.
__ADS_1
Ardi mengambil baju yang sudah dia siapkan untuk acara ini. Karena ini bukan acara formal Ardi pun hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam. Serta blezer abu-abu sebagai luarannya.
Ardi menambahkan sedikit gel pada rambutnya. Lalu dia pun menyemprotkan parfum di leher dan di kedua pergelangan tangannya.
Ardi melirik jam yang ada di Hpnya.
" Kurang dari setengah jam lagi acara akan dimulai. Aku harus segera turun ke bawah. " batin Ardi.
Memasukan HP kedalam saku dalam blazernya. Ardi berjalan keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga menuju tempat pesta.
Ardi melihat sekitar. Petugas makanan dan minuman sudah bersiap ditempatnya masing-masing. Dekorasi meja dan kursi makan sudah tertata rapi. Dan juga dekorasi lampu dan hiasan yang lainnya pun sudah tertata dengan cantik.
Ardi melihat band pengisi acara masih sibuk mempersiapkan alat musiknya. Ardi hendak menghampiri mereka untuk menegurnya tetapi bahunya ada yang menepuk.
" Di, mau kemana ? " tanya Rizal
" Oh..gak..cuma mau kesana..ngelihat persiapan anak band. " Kata Ardi menunjuk ke panggung.
" Udah biarin ajah, bentar lagi mereka juga kelar. " Kata Rizal sambil melingkarkan tangannya dibahu Ardi dan mengajaknya ketepi aula.
" Di, gue mau minta bantuan bisa ? " Tanya Rizal.
" Bantuan apa ? " Tanya Ardi balik.
" Urusan perempuan ? " Tanya Ardi lagi.
" Iya !..Tapi gak gimana-gimana kok. Gue cuma minta lu memberikan penilaian ulang sama Dara Amelia. Gue sekarang lagi menyelidiki siapa orang yang nekat berbuat curang kepadanya. " Rizal menjelaskan.
" Maaf zal, gue gak bisa. " Ardi mengatupkan kedua tangannya.
" Kan gue udah bilang pas di rapat terakhir. Gue gak bisa ngasih tengat waktu lagi, karena gue sudah gak dikantor ini lagi dan besok senin gue sudah mulai bekerja dikantor yang baru. "
" Ayolah Di Plis..bantuin gue.."
" Kalau menurut gue biar dia jalan dengan kemampuannya sendiri. Dia belum butuh bantuan siapa pun sekarang. Lagi pula tipe cewe seperti Dara, dia lebih suka bekerja keras dengan keringatnya sendiri. Dia tidak butuh relasi dari siapa pun. "
" Memang benar Di, dia selama ini selalu berusaha berdiri di kakinya sendiri. Tidak menginkan bantuan dari siapa pun. "
" Ya sudah biarkan saja kalau begitu..justru ini akan menjadi cambukan yang keras buat dia..dan membuat dia lebih bekerja keras lagi. "
" Benar juga lu Di, nanti kalau dia sampai tahu kalau ternyata gue minta bantuan lu bisa-bisa dia marah sama gue. "
" Gak cuma marah, tapi juga ngambek ! Terus kalau udah ngambek pasti lama baiknya.. "
" Kok lu tahu sih Di ? "
__ADS_1
" Ehh.. ? Ya nebak aja.." Ardi menjawab asal. Padahal dia juga tahu bagaimana sifat Dara sebenarnya.