Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.25


__ADS_3

Dari tempat antrian makanan Ardi terus memperhatikan ke arah Dara. Dia sangat penasaran apa yang diobrolkan oleh mereka berdua. Dia tidak bisa mendengar mereka, selain jaraknya jauh juga tertutup dengan suara alunan musik dari band pengisi acara.


Dara merasa lega. Teman-temannya sudah selesai mengambil makanan dan kembali ke meja mereka. Begitu pula dengan Ardi dan Putri.


Rizal meninggalkan meja mereka dengan sedikit rasa jengkel didadanya. Dia pergi tanpa pamit.


" Kenapa Pak Rizal, Ra ? Kok gitu sih mukanya..kaya menahan marah gitu. " Kata Novi sebelum menyuapkan makanan kemulutnya.


" Gak tahu ! " Jawab Dara asal.


Dara menyuapi Putri kue. Begitu sebaliknya Putri pun menyuapinya.


" Tante! Tadi aku mau give you cake chocolate. But King say No ! King bilang you dont like chocolate. "


" Kok Pak Seno tahu Dara gak suka coklat ? " Tanya Eka.


Uhuk ! Uhuk ! Dara tersedak kaget. Dia langsung minum air yang disodorkan oleh Irma.


" Kenapa, Ra ? Kalau makan hati-hati dong ! Baru juga makan kue belum makan rendang.." Irma mengusap-usap punggung Dara.


Drrtt..! Drrt..! HP Ardi berdering. Dengan alasan mengangkat telpon Ardi meninggalkan meja itu untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang lain. Yang mungkin akan membongkar rahasia sebenarnya kalau sebenarnya dia sudah menembak Dara empat hari yang lalu.


" Tante ! I'm finish. Aku ingin kembali ke Momy. "


" Ok ! Kita bersihkan dulu sisa kue yang ada dimulut mungilmu ini...biar Princess selalu cantik.." Dara membersihkan mulut Putri dengan penuh kasih sayang.


" Ok! Finish ! Ayo tante antar ke Momy. "


Dara berjalan dengan sedikit pincang. Masih ada sedikit rasa sakit yang tertinggal dikakinya.


" Maaf Bu Yanti, ini Putri nya. " Kata Dara menyela pembicaraan Bu Yanti dan Pak Direktur.


" Oh iya Dara. Thank you. Gimana kaki kamu ? Masih sakit ? Perlu dibawa kedokter gak ? " Tanya Bu Yanti dengan memperhatikan Dara dari atas sampai bawah.


" Sudah tidak apa-apa Bu. Tidak perlu ke dokter. Hanya tinggal sedikit saja. Sebentar lagi juga sembuh. " Tolak Dara dengan senyuman.


" Memang kaki kamu kenapa ? " Tanya Pak Wawan.


" Tadi sore Dara menolong Putri yang mau jatuh. Tetapi karena salah langkah pas nangkap badan Putri yang mau jatuh kaki Dara jadi terkilir. " Jelas Bu Yanti.

__ADS_1


" Kamu yakin kaki kamu tidak apa-apa ? " Pak Direktur mengkhawatirkan keponakannya.


" Saya yakin Pak. " Dara mengangguk seraya meyakinkan Pakdenya kalau dia benar-benar baik-baik saja.


" Baiklah ! Oh iya..aku dengar dari Pak Rizal kalau kemarin sempat ada insiden di rapat penentuan kandidat. Apa itu benar Dara ? "


" Itu hanya insiden kecil Pak. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Saya tidak terlalu memikirkannya." Jawab Dara.


" Baiklah ! Apakah saya perlu mengadakan penilaian ulang untuk kamu ? Sebagai konpensasi dari insiden itu. Tetapi dengan nilai lima puluh. "


" Baik sekali Pak Direktur sudah memperhatikan Dara. Pasti dia menerimanya. " Timpal Bu Yanti.


" Terima kasih untuk kemurahan hati Pak Direktur. Tapi, maaf saya tidak bisa menerimanya. Lagipula kandidat juga sudah terpilih. Saya menerima kekalahan ini sebagai hukuman karena saya kurang berhati-hati dalam menjaga file. "


" Dara ! Seharusnya kamu terima kemurahan hati Pak Direktur, bukannya malah menolaknya. " Bisik Bu Yanti.


" Pak Direktur saya mohon maaf atas kelancangan salah satu staf saya. " Bu Yanti membungkukan badannya.


" Tidak perlu melakukan itu Bu ! Saya mengerti dan menghormati keputusannya. Saya sangat suka dengan orang seperti dia. Ini mencerminkan kalau dia pekerja keras dan mampu berdiri dikakinya sendiri. " Pak Direktur tersenyum bangga kepada keponakannya itu.


" Terima kasih, Pak. Saya pergi dulu. " Dara pamit meninggalkan Pak Direktur dan Bu Yanti yang masih kesal kepada Dara.


Sekembali dari meja Pak Direktur, Dara mengambil antrian untuk mengambil makanan. Dan ternyata Iqbal menyusulnya dibelakang.


" Apa aja, asal bisa dimakan. " Jawab Dara sedikit sewot.


" Kamu ngapain sih disini ? "


" Ya mau ambil makan lah..kan laper...masa iya mau antri PKH. Hehehe.."


" Garing banget ih ! Kaya kacang tahu ! "


Dara selesai mengantri makanan dan kembali ke mejanya. Iqbal masih mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba dia melihat sesosok perempuan dengan gaun mini merah yang sedang berjalan bersama Ardi.


" Rina ? Ngapain dia disini ? Terus kenapa dia bareng sama kak Ardi ? Oh..jadi ini sebabnya dia gak ada kabar beberapa hari kemarin. Dia lagi deket lagi sama Rina. Tapi bukannya Rina sudah bertunangan dan akan menikah ? " batin Dara berkecamuk.


Dara tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Seketika yang tadinya dia merasa lapar, langsung hilang selera makannya. Dia hanya menyendok beberapa suap nasi ke mulutnya. Selebihnya tak tersentuh olehnya.


" Kok makannya gak dihabisin Ra ? " Tanya Eka.

__ADS_1


" Gak apa-apa. Tiba-tiba nafsu makan hilang. " Jawab Dara dengan tangan memainkan sendok.


" Udah jangan dimainin. Kita ambil yang lain yuk. Tuh disana para pemain band lagi ambil makan juga. Sapa tahu kita bisa kenalan. " Kata Novi menunjuk kearah stan makanan yang didatangi oleh Band musik itu.


" Hayuk Ra..hayuukk.." Eka menarik tangan Dara.


Dengan langkah malas Dara berjalan mengikuti mereka bertiga. Iqbal menikmati makanannya sendirian di meja itu.


Bruk ! Tanpa sengaja karena tidak memperhatikan jalan Dara menabrak punggung seseorang.


" Maaf Mba ! Maaf ! Gak sengaja. " Dara meminta maaf kepada perempuan berbaju merah yang ditabraknya.


Perempuan itu lalu membalikan badannya.


" Dara ! Kamu disini ? Gimana kabar kamu ? Sudah lama banget kita gak ketemu. " Tanya perempuan berbaju merah itu.


Deg ! Dara tertergun.


" Rina ! Ini beneran Rina. Dan disampingnya itu adalah kak Ardi. " batin Dara.


" Ra, kamu segitu kagetnya lihat aku ? sampai kamu melamun begitu. " Rina menyadarkan lamunannya.


" Rina ! Ya ampun..aku kaget lho..aku takut salah lihat. " Jawab Dara asal.


Eka, Irma, dan Novi berlalu meninggalkan Dara dan Rina yang sedang temu kangen pikir mereka bertiga.


" Kamu sekantor sama Ardi lagi Ra ? " tanya Rina.


" Gak. Kita satu perusahaan tapi beda kantor. Aku di kantor cabang sedangkan Pak Seno di kantor pusat. " Dara menjelaskan.


" Pak Seno ? Aku gak salah denger ? Kamu panggil dia Pak Seno ? Kalian kan sohib yang kentel banget. Masa kamu panggil dia Pak Seno ? " Rina mengaitkan kedua jari telunjuknya mengisyaratkan persahabatan yang erat diantara Dara dan Ardi.


" Sebenarnya aku selama ini gak tahu kalo Pak Seno..maksudku kak Ardi di perusahaan yang sama. Aku baru tahu kemarin." Terang Dara.


" What ? Beneran ? " Rina tidak percaya.


" Iya. Dara selama ini gak tahu kalau kita bekerja dengan Bos yang sama. " Tambah Ardi.


" Hahaha..." Rina tertawa.

__ADS_1


" Aki jadi bingung mau bilang dunia ini besar atau kecil. Kalau dibilang besar kalian bekerja di perusahaan yang sama. Kalau dibilang kecil kalian baru ketemu kemarin setelah beberapa tahun pisah. "


Dara tersenyum menanggapi pernyataan Rina.


__ADS_2