
Ardi mendekatkan wajahnya ke Dara. Bibir mereka kini hampir tanpa jarak.
Ceklek! Seseorang memasuki kawar inap itu.
Dara kaget, spontan dia mendorong Ardi dengan kedua tangannya. Lalu dia bangkit dari duduknya dan berdiri di tepi ranjang Ardi.
" Permisi, Pak. Saya mau mengantar makan malam. Saya taruh diatas meja ya." Kata petugas catering rumah sakit.
" Nanti sekitar satu jam lagi saya ambil ya, Pak. Permisi.."
Ceklek! Petugas catering itu meninggalkan Ardi dan Dara yang masih mematung karena kaget.
Ardi kembali meraih tangan Dara.
" Mau dilanjutkan?"
" Hah?" Dara kaget.
" Kenapa mukamu memerah begitu?"
" Apain sih?" Dara memalingkan mukanya.
" Kamu makan dulu aja ya..habis itu minum obatnya."
" Gak usah mengalihkan pembicaraan."
" Gak kok! Emang lebih baik kamu makan dulu biar bisa minum obat. Jadi cepet sembuh deh. Gak usah mikir yang macem-macem." Dara melangkah menuju meja dimana makanan itu diletakkan.
" Hayuk sekarang makan..Buka mulutnya..Aa.."
" Nyam!" Ardi menerima suapan Dara.
" Bagus! Anak pintar.." Dara mengusap-usap rambut Ardi layaknya anak kecil.
Ceklek!
" Di, gimana kabar kamu sayang?" Ibu Ardi dengan setengah berlari memasuki ruangan.
" Kamu baik-baik aja kan? Lukanya gak parah kan, Nak?"
Dara mundur beberapa langkah dari ranjang pasien. Memberi ruangan pada seorang wanita angun yang sedang mencemaskan putra semata wayangnya.
" Aku baik, Bu. Gak usah khawatir. Dokter juga sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk nolongin aku."
" Syukurlah kalau begitu, Nak. Tapi, sepertinya kamu mendapat perawatan yang spesial ya dari rumah sakit ini. Fasilitas ruang VIP." Kata Ayah Ardi yang ternyata sudah dari tadi menyadari kehadiran Dara.
" Oh iya, Ibu sampe gak ngeh sangkin cemasnya tadi. Perawatnya cantik sekali ya."
" Maaf Pak, Bu. Saya bukan perawat. Saya......."
" Saya siapa?" Ledek Ayah Ardi.
" Saya......"
" Dia pacarku, Yah, Bu." Ujar Ardi kemudian.
" Jadi ini gadis yang kamu bilang harus memantapkan hati?" Tanya Ayah.
__ADS_1
" Iya, Yah."
" Jadi fix nih dia calon mantu ayah dan ibu?"
Ardi melihat kearah Dara, lalu kembali melihat kedua orang tuanya.
" Insya Allah, iya Yah."
Senyum mengembang dikedua bibir orang tua Ardi.
" Sini sayang." Ibu menarik tangan Dara.
" Namanya siapa?"
" Dara, Tante. Dara Amelia."
" Nama yang cantik, secantik orangnya." Ibu memeluk Dara.
" Jadi, kapan kita ke rumah Dara, Di? Pastinya hal yang baik harus disegerakan." Ucap Ayah.
" Hah? " Dara kaget.
" Tapi saya belum ngomong sama papa dan mama."
" Tidak apa-apa. Kita tunggu Ardi sembuh dulu. Selagi kamu memberitahuan kepada kedua orangtuamu akan rencana kedatangan kami. Ok?" Ayah meminta persetujuan.
" Baik, Om."
Ceklek! Rizal dan Iqbal datang membawa dua buah kantong plastik berisi makanan dan minuman.
" Tuan dan Nyonya sudah datang? " Sapa Iqbal.
" Gak apa-apa, Bal. Memang kamu habis dari mana sampe gak bisa nyambut kedatangan kita?" Tanya Ayah.
" Saya baru saja turun ke bawah membeli makanan untuk Pak Ardi dan Dara." Jawab Iqbal.
" Maaf, Pak. Bukankah Bapak ini Setyo Aditia Bratha? Pemilik dari BR group?" Tanya Rizal.
" Benar, Pak Rizal. Beliau Tuan Setyo Aditia Bratha dan yang disana Nyonya Heni Aditia Bratha. Mereka berdua adalah kedua orang tua Pak Ardi." Terang Iqbal.
" Jadi Ardi adalah anak dari rival perusahaan kita. Lalu dia kenapa kerja di perusahaan kita selama beberapa tahun ini. Apa dia sengaja untuk mencuri data perusahaan?" batin Rizal.
" Ini kakak sepupunya Dara, yah. Rizal Ramadhan. Anak tunggal dari Pak Lukman Hadi Iryawan." Ardi memperkenalkan.
" Oh ternyata ini anak yang selalu dibanggakan oleh Pak Wawan? Gimana kabarmu, Nak?" Ayah menjabat tangan Rizal.
" Saya baik, Om." Jawab Rizal.
" Ini Pak Ardi jus alpukat yang tadi dipesan." Iqbal jalan mendekat.
" Kok nyonya peluk-peluk Dara begitu,kenapa ?"
" Ini calon nyonya muda mu, Bal." Jawab Ibu.
" Hah? Dara sama Pak Ardi? Kok bisa? Gimana ceritanya?" Iqbal heran bertanya-tanya.
" Ada lah...Nanti kamu tanya sendiri aja sama Pak Bos mu." Ucap Ibu.
__ADS_1
" Kok bisa Dara sama Pak Ardi. Mereka kan baru beberapa kali bertemu. Dan aku tahu Pak Ardi bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tapi kenapa tiba-tiba Dara menjadi calon nyonya muda? Yah walaupun janur kuning belum melengkung, masih bisa dikejar. Tapi kalau saingannya Pak Bos, haduuuhh mana berani aku. Sudah dipastikan langsung kalah telak. Ya sudah sepertinya aku harus ikhlasin aja." batin Iqbal. Sembari menyusun makanan yang dia bawa tadi diatas meja makan kamar inap itu.
" Ra, kita pulang. Sudah malam, kamu harus istirahat." Kata Rizal dengan nada sedikit ketus.
" Om, Tante kita berdua permisi pulang dulu ya."
" Ok! Hati-hati di jalan ya." Kata Ayah sambil menepuk bahu Rizal.
" Lu pake mobil gue aja, Zal." Timpal Ardi.
" Gak usah! Makasih."
" Masalah balikin mah gampang, ntar biar Iqbal yang ambil di rumah lu atau di kantor."
" Gak usah! Kita naik taksi aja." Rizal memaksakan senyumnya.
" Bal, tolong bantuin keluarin barang dari bagasi."
" Baik, Pak Rizal."
Ibu Ardi melepaskan pelukannya.
" Tante, Dara permisi pulang dulu ya." Dara mencium punggung tangan Ibu.
" Hati-hati ya sayang..besok kesini lagi."
" Iya, Tante."
" Kak Ardi, aku pamit pulang ya.."
" Hmm..." Ardi mengangguk.
" Sampai rumah jangan lupa kabarin ya."
" Iya." Lalu Dara berjalan mendekati Ayah.
" Dara pamit pulang ya, Om." Ucap Dara seraya mencium punggung tangan Ayah.
Ayah mengangguk, lalu mengusap kepala Dara.
" Hati-hati di jalan."
Mereka bertiga meninggalkan kamar VIP itu menuju parkiran mobil. Setelah sampai disana Iqbal membuka bagasi mobilnya lalu ikut membawakan tas dan koper milik Dara dan Rizal. Mereka berjalan ke depan lobby UGD rumah sakit itu agar lebih mudah menemukan taksi yang stand by ataupun yang sedang melintas.
" Itu ada taksi, Pak. Saya panggil dulu ya." Iqbal berjalan dengan setengah berlari menuju mobil bercat biru yang sedang terparkir di tepi jalan.
" Kok muka kak Rizal berubah, kenapa?" Tanya Dara, yang dari tadi sudah melihat perubahan sikap kakak sepupunya ini.
" Gak kenapa-kenapa."
" Bohong! Mata Dara cuma minus ya Mas, bukan buta."
" Ya...Mas kesel aja sama Ardi. Dia seorang putra mahkota di BR group. Dan BR group itu juga nantinya akan menjadi miliknya. Lalu kenapa dia bekerja di perusahaan kita yang notabenenya rival dari perusahaan ayahnya sendiri? Pasti alasannya dia sedang mencuri data-data klien penting kita selama ini. Cih! Serigala berbulu domba." Rizal kesal.
" Tapi, menurutku kak Ardi bukan orang seperti itu."
" Iya! Karena kamu sedang dibutakan oleh cinta! Dan aku sekarang berubah pikiran. Aku akan perjuangin kamu, Ra. Aku akan rebut kamu lagi dari Ardi."
__ADS_1
" Gak mau! Aku gak punya perasaan lebih sama Mas Rizal. Aku sayang sama Mas Rizal cuma sebatas kakak. Titik!" Dara mengambil tas travelnya, dia berjalan meninggalkan Rizal dengan penuh emosi di dadanya.
Dara naik taksi yang sudah disiapkan oleh Iqbal. Tanpa basa-basi dia langsung menutup pintu mobilnya dan dia meminta pak supir untuk segera jalan. Iqbal yang masih berdiri ditepi jalan,dia merasa bingung dengan sikap Dara.