
Saat sore hari, selesai meeting bersama karyawannya Ardi pergi menemui seseorang di salah satu cafe yang dekat dengan kantornya. Dia langsung menyalami orang yang sedari tadi sedang menunggunya itu. “Apa kabar Kak Farhan? Kapan datang dari KL?” ucap Ardi seraya mengulurkan tangannya.
“Hei, Di. Kabarku baik. Dua hari yang lalu aku sampai di Indonesia. Silahkan duduk. Mau pesan apa?” tanya lelaki yang duduk di depan Ardi, yang ia panggil dengan sebutan kakak itu. “Bagaimana denganmu? Aku dengar dari Febri kalau kamu sudah menikah. Apa itu benar?”
“Terima kasih, Kak. Americano cofee saja,” ucap Ardi. “Iya, Kak. Acara pernikahannya berlangsung tiga hari yang lalu. Febri juga datang ke pernikahanku bersama Lia dan juga Eyang.”
“Sebetulnya aku sedikit kecewa. Karena aku pikir suatu hari nanti kamu akan menikahi adikku, Febri. Tapi ternyata...” Farhan mengangkat bahunya lalu menggelengkan kepalanya.
“Jodoh tidak ada yang tahu, Kak. Lagi pula dari dulu aku hanya menganggap Febri hanya sebatas teman dan juga adik, seperti Lia. Aku tidak punya perasaan lebih kepadanya. Maafkan aku ya, Kak yang sudah membuatmu kecewa.”
“ Iya benar, jodoh tidak ada yang tahu. Tetapi, selamat untuk pernikahanmu ya. Kapan kamu akan mengenalkannya padaku?”
“Mungkin akhir minggu ini, Kak. Aku ada rencana untuk mengajak istriku saat weekend nanti ke rumah Eyang. Kita ketemuan disana ya, Kak. Kak Farhan bisakan?”
“Tentu bisa. Hari libur tentunya hari untuk keluarga bukan?” kata Farhan. “Oh iya, Ardi. Kita sudah sangat lama tidak bertemu dan aku baru akan dikenalkan dengan istrimu saat weekend nanti. Bisakah kamu bercerita kepadaku bagaimana kamu bisa bertemu dengannya dan jatuh cinta kepadanya?”
“Sebenarnya aku mengenalnya saat aku bekerja magang di salah satu kantor lamaku. Di sana kami berdua berada di divisi yang berbeda. Lalu suatu ketika aku mempunyai karyawan baru yang kemudian aku tugaskan untuk belajar di bawah naungan istriku. Dari situlah awal mula kami berkomunikasi. Tetapi saat itu kami hanya berkomunikasi hanya sebatas sebagai rekan kerja. Dan entah bagaimana mulanya, lama-kelamaan kami menjadi semakin akrab dan bahkan bertukar pikiran tentang hal lainnya, tentang kehidupan, bahkan tentang asmara. Pernah suatu ketika dia bercerita tentang kekasihnya kepadaku sampai menitikkan air mata. Hahaha.. kalau diingat sangat lucu.”
“Jadi berawal dari teman kerja menjadi teman hidup?”
__ADS_1
“Iya, Kak. Lalu bagaimana dengan Kak Farhan? Bukankah selama ini kaka selalu dikelilingi oleh wanita cantik? Tidak adakah salah satu dari mereka yang membuat kaka tertarik?” tanya Ardi menyelidik.
“Hah!” Farhan menghela nafasnya. “Kamu ingat tentang kisahku tujuh tahun yang lalu?”
“Maksud kaka tentang hari dimana kaka ingin mengenalkan seorang gadis kepadaku dan Febri saat di KL dulu?” tanya Ardi memastikan.
“Iya, benar,” kata Farhan, lalu menyandarkan punggunnya ke kursi.
“Aku masih ingat. Kalau tidak salah saat itu aku dan Febri sudah bersemangat sekali untuk bertemu dengan seorang wanita yang sangat Kaka cintai. Tapi entah mengapa ketika kami sudah sampai di KL justru mendapati Kak Farhan yang putus asa dan hampir frustasi.”
“Iya, benar sekali. Aku sangat mencintainya, tapi bodohnya aku malah mengkhianatinya. Dibelakangnya aku berjalan dengan wanita lain. Walau awalnya dia masih memaafkan kekhilafanku tapi ternyata lama kelamaan itu menyakitkan hatinya. Setelah itu kakaknya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita, lalu dia menyuruh kami putus. Dan semenjak itu pula aku putus hubungan dengannya.”
“Dari kemarin aku terus mencoba melewati rumahnya tetapi aku tidak pernah melihatnya disana. Hanya sesekali melihat orang tuanya yang sedang beraktifitas dan juga kakaknya yang tidak lain adalah sahabatku sendiri,” sambung Farhan.
“Kenapa kaka tidak mencoba menemui sahabat kaka saja untuk menanyakan keadaannya?”
“Tidak. Aku sudah tidak punya muka untuk menemuinya. Aku tahu betul saat terakhir aku bertemu dengannya dia sangat marah kepadaku. Dia hampir menonjokku dengan kepalan tangannya.”
“Sepertinya kisah kaka sedikit mirip denganku, hanya saja sekarang aku sudah direstui oleh kakak iparku.”
__ADS_1
“Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti.”
“Jadi sebenarnya jalan cintaku menuju pelaminan pun tidak semulus jalan tol. Diawal pertemuan kedua keluarga orang tua kami saling merestui, tapi ketika berita tentang Rina Rosa dan aku menyebar, tiba-tiba kakak dari istriku langsung terbang pulang ke Indonesia untuk menemuiku. Dan dengan tanpa permisi dia masuk dalam ruanganku dan memberiakan bogem mentah kepadaku sebagai salam perkenalannya.”
“Waw! Kakak iparmu memang gila,” komentar Farhan.
“Sebenarnya aku tidak marah dengan perlakuannya kepadaku. Hanya saja sedikit menyayangkan kenapa dia bisa langsung brutal seperti itu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Tapi ketika semuanya sudah jelas kalau memang semua adalah rekaysa yang dibuat oleh Rina Rosa dengan sendirinya dia membuka tangan untukku. Dia justru yang menyelamatkan aku dari perangkap Rina Rosa yang baru dan menjadi saksi dalam pernikahanku.”
“Waw! Kamu memang benar-benar hebat, Di. Keteguhan hatimu telah mengantarkanmu pada kemenangan. Apakah aku bisa sepertimu, Di? Dan masihkah aku ada kesempatan untuk bersanding dengannya, Di?”
“Jika kalian memang diciptakan bersama aku yakin kalian berdua akan segera dipertemukan. Jodoh tidak akan kemana, Kak.”
“Iya, semoga saja dia masih single.”
“Kalaupun tidak, aku yakin kok di luar sana masih banyak wanita cantik yang mengantri untuk dipersunting oleh Kak Farhan,” timpal Ardi.
Mereka berdua berbincang cukup lama hingga matahari semakin menampakan semburat jingganya. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menyudahi percakapan mereka dan akan disambung dilain waktu. Seperti yang sudah diperbincangkan dari awal, mereka akan berlibur di rumah Eyang akhir pekan ini.
Ardi sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan memberitahukan rencananya kepada Dara. Dia sangat yakin kalau istrinya akan sangat menyukainya. Terlebih Dara yang sudah sangat akrab dengan Eyang. Keakraban mereka sangat membuat cemburu Ardi yang statusnya adalah cucu kandung Eyang. Tapi walau begitu Ardi sangat menyukainya, karena gadis yang sangat dicintainya itu juga dicintai oleh keluarga besarnya.
__ADS_1
Di dalam mobil Ardi terus mencoba menghubungi istrinya, untuk mengabarinya kalau sekarang dia sedang berada di jalan menuju ke rumah. Tetapi, panggilannya tidak dijawab. Seketika Ardi memonyongkan bibirnya seperti anak kecil. Pak sopir yang melihat tingkah bosnya dari pantulan cermin, hanya bisa menahan tawanya. Dia merasa kalau Pak Bosnya telah berubah menjadi orang yang baru semenjak menikah. Menjadi pribadi yang menyenangkan dan tidak kaku lagi. Bahkan bertingkah konyol seperti sekararang. Baginya Dara sudah memberikan pengaruh baik pada Pak Bos kecilnya.